BAHASFILM – Review film The Devil’s Mouth harus dimulai dengan sebuah pertanyaan: akankah film hiu dengan latar gua bawah laut yang klaustrofobik mampu memberikan sensasi seperti The Descent bertemu Jaws? Jawabannya: sayangnya tidak. Film arahan Jeff Wadlow (Truth or Dare, Fantasy Island) ini tayang eksklusif di Prime Video pada 29 Juli 2026. Berdurasi 105 menit, film ini dibintangi Kathryn Newton sebagai Sara, Lana Condor sebagai Max, serta Nico Hiraga, Gavin Casalegno, Tommi Rose, dan Tayme Thapthimthong. Dengan skor 4,7/10 di IMDb, 38% di Rotten Tomatoes, dan beragam kritik tajam, film ini menjadi salah satu thriller hiu paling mengecewakan di tahun 2026.
Baca Juga : Review Film In the Grey (2026): Aksi Matahari yang Sering Terhalang Awan
Sinopsis – Petualangan Terakhir yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Review film The Devil’s Mouth tidak lengkap tanpa memahami premisnya yang sebenarnya menjanjikan. Lima sahabat yang baru lulus kuliah—Sara (Kathryn Newton), Max (Lana Condor), James (Nico Hiraga), Greg (Gavin Casalegno), dan Adrienne (Tommi Rose)—melakukan perjalanan terakhir ke pantai Thailand sebelum kehidupan dewasa memisahkan mereka.
Di tengah persahabatan yang retak—terutama antara Sara dan Max setelah insiden ubur-ubur yang hampir merenggut nyawa Sara—mereka memutuskan mengikuti tur menyelam gua bawah air yang dikenal sebagai “The Devil’s Mouth”. Sayangnya, badai seminggu sebelumnya membanjiri gua dengan kehidupan laut, dan sesuatu bertahan hidup di dalamnya—sekarang, itu sedang berburu mereka. Terjebak di labirin gua yang sempit dengan oksigen yang menipis dan hiu banteng yang lapar, kelima sahabat harus berjuang untuk bertahan hidup—sementara konflik lama mereka justru menjadi ancaman yang sama mematikannya.
Tiga Entity Penting di Balik The Devil’s Mouth
Jeff Wadlow – Sutradara dengan Rekam Jejak yang Dipertanyakan
Review film The Devil’s Mouth wajib mengakui bahwa Jeff Wadlow adalah dalang di balik kekacauan ini. Sutradara yang sebelumnya bertanggung jawab atas Truth or Dare (2018) dan Fantasy Island (2020)—dua film yang juga mendapat kritik tajam—kembali menghadirkan thriller yang gagal membangun ketegangan. The AU Review mencatat bahwa menyebut ini sebagai salah satu karya terbaiknya “perhaps says as much about his previous films as it does this one”.
Kathryn Newton dan Lana Condor – Bintang yang Bersinar di Tengah Material Lemah
Jika Anda mencari review film yang jujur, harus diakui bahwa para aktor adalah satu-satunya alasan film ini masih bisa ditonton. Kathryn Newton (Ready or Not 2: Here I Come) membawa kerapuhan dan ketahanan ke karakter Sara, menjadikannya “emotional anchor of the film”. Sementara Lana Condor (To All the Boys) menikmati kesempatan untuk memerankan karakter yang lebih “toxic” dan “narcissistic”—sebuah peran yang oleh Variety disebut sebagai kesempatan untuk “spike her wholesome star persona”.
Tayme Thapthimthong – Satu-satunya Karakter yang Berakal Sehat
Review film The Devil’s Mouth tidak lengkap tanpa menyebut Tayme Thapthimthong (The White Lotus) sebagai pemandu lokal Wat. Wat adalah satu-satunya yang melakukan hal cerdas: ia meninggalkan para turis yang bertengkar untuk menyelamatkan diri sendiri. Sayangnya, bahkan ia pun menjadi korban dari hiu yang bertingkah seperti pembunuh berantai.
Fakta Cepat dan Angka Penting
Berikut data kunci untuk memperkuat review film The Devil’s Mouth Anda:
- Tanggal rilis: 29 Juli 2026 (Prime Video global)
- Sutradara: Jeff Wadlow
- Penulis skenario: Aja Gabel & Myung Joh Wesner
- Durasi: 105 menit
- Rating usia: PG-13 (untuk adegan tenggelam dan predator akuatik)
- Skor IMDb: 4,7/10
- Rotten Tomatoes: 38% kritikus / 17-21% penonton
- Platform: Prime Video (streaming eksklusif)
- Kathryn Newton sebagai Sara
- Lana Condor sebagai Max
- Nico Hiraga sebagai James
- Gavin Casalegno sebagai Greg
- Tommi Rose sebagai Adrienne
- Tayme Thapthimthong sebagai Wat
Analisis – Antara Klaustrofobia yang Menjanjikan dan Eksekusi yang Mengecewakan
Kelebihan – Setting yang Klaustrofobik dan Beberapa Momen Tension
Review film The Devil’s Mouth dari beberapa kritikus mengakui bahwa setting gua bawah laut adalah kekuatan utama film ini. The AU Review memuji bahwa “the submerged cave system feels tangible in a way many modern survival thrillers often don’t”. Anda bisa hampir merasakan “the crushing rock walls closing in as the characters squeeze through impossibly narrow passages”.
Times Now juga mencatat bahwa ada “handful of effective moments that highlight the claustrophobic environment and the danger of being trapped underwater”. Salah satu adegan yang paling berkesan adalah ketika Sara, Max, dan James berenang di antara kantong udara yang menyusut sementara hiu berenang di bawah mereka. Ini adalah “inspired twist on the traditional underwater chase scene” yang menciptakan ketegangan dari predator dan lingkungan itu sendiri.
Kekurangan – CGI Lemah, Karakter Stereotip, dan Hiu yang Bertingkah Seperti Pembunuh Berantai
Namun, review film The Devil’s Mouth yang jujur harus mengakui kelemahan utamanya: efek CGI yang buruk. RogerEbert.com: “it’s never once convincing that there’s a killing machine actually sharing the same space as these hapless idiots. It’s shoddy CGI through and through”. Hiu tidak terasa seperti makhluk nyata—ia lebih mirip “slasher villain waiting for the perfect dramatic entrance”. Bahkan, hiu tersebut “acts like a slasher”—bersembunyi dan menunggu momen yang tepat untuk menyerang, bukan berperilaku seperti hewan liar.
Karakter yang stereotip juga menjadi sorotan. Times Now menulis bahwa konflik antara Sara dan Max “never fully developed beyond surface-level arguments and predictable revelations”. Seorang pengguna IMDb bahkan menyebut Max sebagai “the most annoying character of 2026”—“a narcissistic selfish piece of human flesh”.
RogerEbert.com juga menyoroti bahwa film ini “aggressively forgettable”—lebih buruk daripada menjadi “memorably awful”. The New York Times “neither silly nor gory enough to chum the waters for audiences at home” terlalu serius menjadi campy, tidak menegangkan menjadi thriller.
Fakta Unik di Balik Layar
Review film The Devil’s Mouth tidak lengkap tanpa cerita menarik di baliknya:
- Film ini adalah rilis Prime Video orisinal yang tidak mendapatkan pemutaran di bioskop—sebuah keputusan yang oleh RogerEbert.com disebut sebagai “burying” film yang mungkin diharapkan para pemainnya mendapatkan rilis teatrikal
- Naskah film ini masuk dalam Black List—daftar skenario terbaik yang belum diproduksi di Hollywood
- Film ini terinspirasi oleh sistem gua batu kapur yang terendam air di Thailand, di mana lorong sempit, pasang surut, dan visibilitas buruk membuat penyelaman gua sangat berbahaya
- Meskipun bukan film yang sukses secara kritis, film ini menjadi salah satu film hiu terbaru dalam gelombang genre yang “come so thick and fast these days” menurut Variety
FAQ – Pertanyaan Umum tentang The Devil’s Mouth
Apakah The Devil’s Mouth layak ditonton?
Jika Anda adalah penggemar Kathryn Newton atau Lana Condor dan ingin melihat mereka berakting di tengah setting yang indah. Namun jika Anda mencari thriller hiu yang menegangkan seperti Jaws atau The Shallows, Anda akan kecewa. IMDb memberi rating 4,7 dan Rotten Tomatoes 38%—salah satu film hiu dengan rating terendah di 2026.
Apakah film ini berdasarkan kisah nyata?
Film ini adalah fiksi terinspirasi oleh sistem gua batu kapur Thailand yang nyata, di mana penyelaman gua memang sangat berbahaya. Namun, cerita tentang hiu banteng yang terjebak di gua air tawar sepenuhnya imajinatif.
Di mana bisa menonton The Devil’s Mouth?
Jawaban: Film ini tersedia eksklusif di Prime Video secara global mulai 29 Juli 2026. Untuk penonton Indonesia, akses melalui langganan Prime Video dengan subtitle Indonesia yang tersedia.
Kesimpulan – Thriller Hiu yang Terjebak di Antara Dua Dunia
Review film The Devil’s Mouth dari BAHASFILM sampai pada kesimpulan: ini adalah film yang memiliki setting menjanjikan tetapi gagal total dalam eksekusi. Dengan skor IMDb 4,7, Rotten Tomatoes 38%, dan beragam kritik tajam, film ini adalah contoh sempurna dari potensi yang terbuang.
Kekuatan film ini ada pada setting gua bawah laut yang klaustrofobik, akting Kathryn Newton dan Lana Condor yang berusaha keras mengangkat material lemah, serta beberapa momen ketegangan yang berhasil. Kelemahannya: CGI hiu yang buruk, karakter yang stereotip, dialog yang lemah, dan hiu yang bertingkah seperti pembunuh berantai daripada hewan liar.
Bagi penggemar film hiu atau penggemar Kathryn Newton dan Lana Condor, The Devil’s Mouth adalah tontonan yang layak—di rumah, dengan ekspektasi yang rendah. Namun bagi yang mencari thriller yang benar-benar menegangkan, film ini mungkin akan membuat Anda—seperti The New York Times—“firmly team shark”.
Prediksi ke depan: Dengan rating yang sangat rendah dan kritik yang tajam, The Devil’s Mouth kemungkinan akan menjadi film yang dilupakan dalam katalog Prime Video—kecuali jika ia berhasil menjadi “so bad it’s good” bagi para penggemar film kultus. Namun dengan kata-kata RogerEbert.com, itu “almost worse” karena “aggressively forgettable instead of memorably awful”. Pantau terus BAHASFILM untuk ulasan film-film seru lainnya!

