BAHASFILM – Review film Occult harus dimulai dengan sebuah pertanyaan: bagaimana rasanya menyaksikan sebuah film dokumenter tentang pembunuhan massal yang perlahan-lahan berubah menjadi perjalanan kegilaan kosmik yang tak terbendung? Film arahan Kōji Shiraishi (Noroi: The Curse) ini adalah jawaban paling mengganggu atas pertanyaan itu. Dirilis di Jepang pada 28 Februari 2009 , film berdurasi 110 menit ini bergenre found footage dan mockumentary yang disusun seperti investigasi kasus nyata. Dengan skor IMDb 6,5/10 , film yang sering disebut sebagai adik spiritual dari Noroi: The Curse ini menjadi salah satu mockumentary J-Horror paling underrated di akhir 2000-an.
Baca Juga : Review Film Three… Extremes (2004): Kolaborasi Tiga Maestro Horor Asia yang Mengguncang
Sinopsis – Dari Investigasi Biasa Menuju Neraka yang Tak Terbayangkan
Review film Occult tidak lengkap tanpa memahami premisnya yang perlahan-lahan menggelincirkan penonton ke dalam kegilaan. Pada tahun 2005, seorang pria bernama Ken Matsuki melakukan penusukan massal di sebuah jembatan di Myogasaki, menewaskan dua orang dan melukai satu orang lainnya, sebelum melompat dari tebing—tubuhnya tidak pernah ditemukan.
Tiga tahun kemudian, seorang kru dokumenter yang dipimpin oleh Koji Shiraishi (memerankan dirinya sendiri) mulai menyelidiki insiden tersebut dan mewawancarai para korban yang selamat. Mereka bertemu dengan Shohei Eno (Shōhei Uno), seorang pria pengangguran yang menjadi satu-satunya korban selamat—dan yang memiliki simbol aneh terukir di punggungnya oleh Matsuki. Anehnya, Eno mengaku bersyukur telah ditusuk karena setelah kejadian itu ia mengalami “mukjizat” —penampakan UFO, suara-suara gaib, dan kemampuan meramal kejadian.
Shiraishi dan timnya membiarkan Eno tinggal di kantor mereka dan mulai mendokumentasikan fenomena aneh yang ia alami. Namun lambat laun, mereka menyadari bahwa Eno memiliki rencana yang jauh lebih mengerikan: ia telah mengumpulkan uang untuk membuat bom dan berniat melakukan serangan bom bunuh diri di Shibuya, yang ia yakini akan mengirimnya ke alam Hiruko—sebuah surga yang ternyata adalah neraka Lovecraftian yang mengerikan.
Tiga Entity Penting di Balik Occult
Kōji Shiraishi – Sutradara yang Menjadi Karakter di Filmnya Sendiri
Review film Occult wajib mengakui bahwa Kōji Shiraishi adalah pusat dari segalanya. Sutradara yang dikenal lewat mahakarya Noroi: The Curse (2005) ini memainkan dirinya sendiri dalam film ini—seorang pembuat film dokumenter yang perlahan-lahan terjerumus ke dalam obsesi dan akhirnya menjadi komplotan dalam rencana mengerikan Eno. Shiraishi juga bertindak sebagai penulis, sinematografer, dan editor—sebuah kendali kreatif total yang menghasilkan visi yang utuh dan tanpa kompromi.
Shohei Uno – Wajah Kegilaan yang Mencekam
Jika Anda mencari review film yang jujur, harus diakui bahwa Shohei Uno sebagai Eno adalah alasan utama film ini terasa begitu mengganggu. Karakternya digambarkan sebagai “bizarre and unpredictable” —seorang pria yang “unlikable” dengan kebiasaan-kebiasaan menjengkelkan, namun perlahan-lahan penonton mulai memahami bahwa ada sesuatu yang benar-benar salah dengan dirinya. Sebuah ulasan menyebut bahwa karakter ini “repugnant” namun tetap membuat penonton memiliki “some small amount of compassion” untuknya—sebuah prestasi yang luar biasa.
Hiruko – Dewa Cacing yang Menghantui dari Bawah Sadar
Review film Occult tidak lengkap tanpa menyebut Hiruko, dewa Jepang berbentuk lintah yang menjadi kekuatan di balik semua kekacauan. Dalam film ini, Hiruko muncul sebagai bayangan seperti ubur-ubur dan lintah yang menghantui langit Tokyo dan akhirnya menjadi pintu menuju alam neraka. Referensi ke H.P. Lovecraft juga kuat—dunia di balik kenyataan digambarkan sebagai “Lovecraftian realm” yang penuh dengan makhluk-makhluk mengerikan.
Analisis – Antara Realisme yang Mencekam dan CGI yang Mengecewakan
Kelebihan – Realisme yang Membuat Anda Lupa Ini Film Fiksi
Review film Occult dari berbagai kritikus mengakui bahwa kekuatan utama film ini adalah realisme yang ia bangun. Seorang pengguna Letterboxd menulis bahwa film ini “feels so natural… the people seem real because they mostly are, and the movements and conversations are organic”. Gaya vlog-style yang digunakan—dengan kamera digital kecil dan rekaman wawancara yang tampak amatir—membuat film ini terasa seperti “authentic” dan dapat dengan mudah “pass as authentic if it appeared on my YouTube feed today”.
Perlahan-lahan horror merayap masuk—seperti yang ditulis sebuah ulasan: “it creeps up on you slow — like something you think you can explain until it twists into something you absolutely can’t”. Film ini tidak mengandalkan jump scare; ia mengandalkan tension yang dibangun secara perlahan melalui “long pauses and weird smiles that go on a second too long”.
Soundtrack minimalis juga mendapat pujian. “The music is totally amazing minimal noise. Electronic tape from another place. It jumps in during moments that hardly make sense”. Musik yang “eerie” dan “glitching” ini menciptakan rasa tidak nyaman yang konstan.
Kekurangan – CGI yang Buruk dan Ending yang Terlalu Ambisius
Namun, review film Occult yang jujur harus mengakui kelemahan utamanya: CGI yang sangat buruk. Banyak kritikus menyoroti bahwa efek khusus “are pretty silly” dan “horrible”. Sebuah ulasan menulis bahwa “the special effects wouldn’t have paid for a 2nd-hand television”. Namun, banyak yang memaafkan kelemahan ini karena anggaran rendah dan karena “it adds to it’s charm”.
Pacing yang terlalu lambat juga menjadi kritik. Beberapa penonton merasa bahwa “at some points it gets too slow”. Sementara ending yang eksperimental—dengan lompatan waktu 21 tahun ke depan dan perjalanan ke alam lain—membagi penonton: ada yang memujinya sebagai “beautiful” dan “daring”, tetapi ada juga yang menganggapnya “a bit of a gamble” dan “a mess” karena CGI yang buruk.
Fakta Cepat dan Angka Penting
Berikut data kunci untuk memperkuat review film Occult Anda:
- Tanggal rilis: 28 Februari 2009 (Jepang)
- Sutradara & penulis: Kōji Shiraishi
- Durasi: 110 menit
- Skor IMDb: 6,5/10
- Genre: Horor, Misteri, Thriller, Found Footage
- Negara: Jepang
- Bahasa: Jepang
FAQ – Pertanyaan Umum tentang Occult
Apakah Occult adalah sekuel dari Noroi: The Curse?
Tidak secara langsung. Kedua film disutradarai oleh Kōji Shiraishi dan menggunakan gaya mockumentary yang sama, tetapi Occult adalah cerita yang berdiri sendiri. Namun, banyak penggemar menganggapnya sebagai “adik spiritual” dari Noroi.
Apakah Occult berdasarkan kisah nyata?
Tidak. Meskipun disajikan sebagai dokumenter investigasi, Occult adalah fiksi orisinal. Shiraishi menggunakan gaya dokumenter untuk menciptakan realisme yang menipu.
Apakah film ini layak ditonton?
Jika Anda adalah penggemar found footage, mockumentary J-Horror, atau menikmati horor yang perlahan-lahan merayap, Occult adalah pengalaman yang unik. Namun jika Anda tidak tahan dengan CGI yang buruk atau pacing yang lambat, Anda mungkin akan frustrasi. IMDb memberi rating 6,5—cukup untuk film sekelas ini.
Kesimpulan – Mockumentary yang Perlahan Merayap ke Alam Kegilaan
Review film Occult dari BAHASFILM sampai pada kesimpulan: ini adalah film yang berani mengambil risiko—dan sebagian besar berhasil. Dengan skor IMDb 6,5 dan pujian atas realisme, film ini adalah bukti Kōji Shiraishin sutradara mockumentary berbakat di Jepang.
Kekuatan film ini ada pada realisme yang membangun ketegangan perlahan, karakter Eno yang mengganggu, dan ending yang berani. Kelemahannya: CGI yang buruk dan pacing yang terlalu lambat bagi sebagian penonton.
Namun bagi pecinta horor, penggemar found footage, atau siapa pun yang ingin merasakan mockumentary yang menggelincirkan kewarasan, Occult tontonan wajib. Ia mengingatkan kita bahwa, kengerian terbesar bukanlah hantu melainkan keyakinan kita menemukan kebenaran, padahal kita sedang dibawa ke dalam kegelapan.
Sebagai mockumentary J-Horror paling underrated di akhir 2000-an, Occult sebagai film yang berani mencampur realisme dokumen dengan kegilaan Lovecraftian. Warisannya sebagai adik spiritual dari Noroi akan tetap abadi. Pantau terus BAHASFILM untuk ulasan film-film seru lainnya!

