Review Film Syndromes and a Century (2006): Puisi Visual yang Mengaburkan Batas Kenangan

BAHASFILM – Review film Syndromes and a Century (2006) adalah perjalanan memasuki labirin kenangan sutradara Apichatpong Weerasethakul. Film berdurasi 105 menit ini tidak bercerita secara linear, melainkan mengulang adegan yang sama dalam dua setting berbeda: rumah sakit pedesaan yang rindang dan pusat kesehatan metropolis yang steril. Karyanya terpilih sebagai salah satu dari tujuh film yang dikomisikan untuk festival New Crowned Hope di Wina, dalam rangka merayakan 250 tahun kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart.

Baca Juga : Review Film Parade (2009): Kisah Dekaden di Apartemen Tokyo yang Mengganggu

Pendahuluan: Ketika Kenangan Punya Dua Wajah

Berbeda dengan film kebanyakan, review film Syndromes and a Century harus dimulai dengan pengakuan: ini bukan tontonan biasa. Apichatpong, sutradara asal Thailand yang namanya melambung lewat Tropical Malady (2004), kembali dengan struktur dua babak yang serupa. Bedanya, kali ini cerita terinspirasi dari kehidupan orang tuanya—keduanya seorang dokter—sebelum mereka jatuh cinta.

Film ini tayang perdana pada 30 Agustus 2006 di Festival Film Venesia ke-63, dan langsung menuai pujian sekaligus kebingungan. Skor IMDb-nya tercatat 7,3/10 dari lebih dari 2.500 pengguna, sementara di Rotten Tomatoes, film ini meraih sertifikasi “Certified Fresh” dengan persentase 84% dari para kritikus.

Tiga Entity Penting yang Menggerakkan Narasi

Setiap review film yang kredibel harus mengidentifikasi pilar utama yang membangun cerita:

  1. Apichatpong Weerasethakul (Sutradara) – Sineas Thailand kelahiran Bangkok 1970 ini dikenal sebagai pelopor sinema lambat (slow cinema) Asia Tenggara. Berbekal latar belakang arsitektur dari Universitas Khon Kaen dan magister film dari School of the Art Institute of Chicago, Weerasethakul menciptakan dunia yang surreal namun hangat. Dalam wawancaranya, ia menyebut Syndromes sebagai “film tentang hati”—bukan tentang biografi, tetapi tentang emosi yang terukir abadi dalam ingatan.
  2. Nantarat Sawaddikul sebagai Dr. Toey – Pemeran perempuan utama ini membawa karakter dokter muda di rumah sakit pedesaan. Nantarat berhasil menangkap kegelisahan halus seseorang yang terperangkap antara panggilan profesional dan kerinduan personal. Dirinya menjadi representasi ibu sang sutradara di dunia nyata, lengkap dengan cerita tentang kolektor anggrek yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
  3. Sayombhu Mukdeeprom (Sinematografer) – Tanpa Mukdeeprom, keindahan visual Syndromes takkan pernah tercipta. Kolaborator setia Weerasethakul ini menggunakan pencahayaan alami yang hangat di babak pertama dan lampu neon yang dingin di babak kedua. Hasilnya, penonton merasakan perbedaan atmosfer tanpa perlu dialog. Ia kemudian dinominasikan sebagai sinematografer terbaik di Asian Film Awards 2007 berkat karyanya di sini.

Selain itu, Sakda Kaewbuadee sebagai biksu Sakda dan Arkanae Cherkam sebagai dokter gigi Ple menghadirkan subplot paling menyentuh: hubungan antara pasien dan dokter yang melampaui batas profesional. Kaewbuadee, yang juga bermain di Tropical Malady, kembali menunjukkan kemampuan aktingnya yang ambigu dan penuh teka-teki.

“Ini adalah film tentang transformasi, tentang bagaimana manusia mengubah diri mereka menjadi lebih baik,” kata Apichatpong Weerasethakul dalam sesi wawancara dengan Bangkok Post (Juli 2006).

Fakta Cepat dan Statistik Kunci Syndromes and a Century

  • Judul Thai (literal): S̄æng ṣ̄atawǎat (แสงศตวรรษ) – “Cahaya Abad”
  • Durasi: 105 menit
  • Negara produksi: Thailand, Prancis, Austria, Belanda
  • Anggaran: Tidak diumumkan publik, namun termasuk dalam produksi komisioner festival
  • Festival dan penghargaan: Tayang di lebih dari 15 festival internasional—termasuk Toronto, London, Pusan, dan Melbourne—dan memenangkan Best Editing di Asian Film Awards 2007 lewat kerja Lee Chatametikool

Fakta unik produksi:

  • Naskah awal berjudul Intimacy and Turbulence dan rencananya otobiografi murni. Namun saat syuting, ide itu berkembang menjadi perpaduan kenangan warisan orang tua dengan pengamatan spontan selama produksi.
  • Ruangan penuh kaki palsu yang muncul di film adalah temuan tidak sengaja saat tim lokasi scouting.
  • Syuting babak pertama selesai, lalu tim melakukan rough-cut sebelum memulai babak kedua. Pendekatan inilah yang membuat ritme antar dua bagian terasa saling bergema.

Analisis Mendalam – Keindahan di Tengah Kekacauan Memori

Yang Berhasil: Dualitas sebagai Kekuatan Naratif

Kekuatan utama dalam review film Syndromes and a Century adalah kemampuannya menciptakan cermin ganda antara dua dunia. Di babak pertama (setting pedesaan), Dr. Toey mewawancarai Dr. Nohng dengan pertanyaan aneh seperti “Apakah Anda lebih suka lingkaran, segitiga, atau persegi?” Lalu, di babak kedua (setting perkotaan), adegan serupa diulang tetapi dengan Dr. Nohng sebagai pewawancara dan suasana yang lebih dingin.

Ini bukan sekadar repetisi. Sinematografi Sayombhu Mukdeeprom membuat perbedaan mencolok: dari hangatnya sinar matahari yang menyusup lewat jendela kayu menjadi dinginnya lampu neon yang menyala 24 jam. Penonton diajak merasakan kenangan sebagai sesuatu yang cair—bisa berubah bentuk tergantung waktu dan tempat penyimpanan.

Yang Gagal: Ambisi yang Terlalu Kabur

Di sisi lain, tidak sedikit yang merasa film ini terlalu ambisius hingga membingungkan. Banyak penonton di IMDb mengeluhkan bahwa mereka tidak mengerti tujuan dari “asap yang dihisap corong raksasa” atau “kelompok pelari lintas alam yang tiba-tiba muncul”. Kritikus dari The Hollywood Reporter saat itu menulis bahwa meski visualnya memukau, keseluruhan cerita terasa seperti mimpi yang sulit ditangkap maknanya setelah bangun tidur.

Selain itu, meskipun Apichatpong dikenal dengan humor keringnya (misalnya adegan dokter menyembunyikan botol alkohol di kaki palsu, serta biksu yang bermimpi jadi DJ), beberapa bagian terasa terlalu lambat bagi penonton awam. Film ini jelas bukan untuk semua orang.

Kontroversi Sensor yang Mengguncang Thailand

Review film Syndromes and a Century tidak lengkap tanpa membahas kontroversi yang melingkupinya. Pada April 2007, Dewan Sensor Thailand—yang masih menggunakan undang-undang tahun 1930—meminta Apichatpong untuk memotong empat adegan:

  • Seorang biksu memainkan gitar
  • Dua biksu bermain dengan mainan UFO
  • Empat dokter minum wiski di ruang penyimpanan
  • Seorang dokter pria mencium pacarnya di ruang ganti

Alasannya: adegan tersebut dinilai “tidak pantas” bagi citra lembaga keagamaan dan medis. Menanggapi hal itu, sang sutradara dengan tegas menarik filmnya dari peredaran komersial di Thailand. Ia mengatakan: “Saya memperlakukan karya saya sebagai anak kandung sendiri. Jika keturunanku ini tidak bisa hidup di negaranya sendiri, biarkan mereka bebas. Tidak ada alasan untuk memutilasi mereka karena takut pada sistem.”

Protes daring pun muncul, dengan lebih dari 3.000 tanda tangan mendukung kebebasan berekspresi. Meski demikian, hingga kini film ini belum pernah diedarkan secara luas di bioskop-bioskop Thailand.

FAQ – Pertanyaan Paling Sering Diajukan tentang Syndromes and a Century

Apakah film ini memiliki alur cerita yang jelas?

Tidak. Syndromes and a Century lebih merupakan rangkaian sketsa kenangan yang terputus-putus. Tidak ada konflik utama atau penyelesaian yang jelas. Penonton diajak merasakan, bukan mengikuti plot.

Apa bedanya dengan film-film Apichatpong sebelumnya?

Jika Blissfully Yours dan Tropical Malady masih memiliki narasi linear meskipun aneh, Syndromes adalah yang paling abstrak. Sutradara sendiri menyatakan ini adalah film ketiga—dan terakhir—dengan struktur dualitas. Setelah ini, ia beranjak ke bentuk yang lebih bebas.

Mengapa judulnya “Syndromes and a Century”?

Weerasethakul menjelaskan: “Syndromes” mengacu pada perilaku manusia—termasuk cara kita jatuh cinta yang seperti penyakit. Sementara “a Century” terasa seperti seumur hidup, menyiratkan perubahan dan ketidakberubahan yang berjalan beriringan.

Kesimpulan dan Prediksi Masa Depan

Review film Syndromes and a Century mengantar kita pada kesimpulan bahwa karya ini adalah monumen bagi ingatan yang rapuh. Weerasethakul tidak ingin penontonnya “mengerti” secara logika, melainkan merasakan gema kenangan yang pernah terukir di hati seseorang, di suatu tempat, di waktu yang berbeda.

Ke depan, film-film seperti ini akan semakin jarang ditemukan di era konten yang serba cepat dan tuntutan alur yang padat. Namun, justru di situlah letak keabadiannya. Syndromes and a Century tidak akan pernah menjadi film favorit semua orang, tetapi bagi mereka yang mencari pengalaman sinematik sebagai meditasi, film ini adalah harta karun yang layak ditemukan kembali.

Jika Anda siap menonton sesuatu yang lambat, membingungkan, tetapi indah secara visual, silakan cari film ini—meskipun mungkin tidak di Thailand. Dan jika Anda hanya ingin tahu tanpa harus duduk diam 105 menit, baca saja ulasan ini sekali lagi. Bagaimanapun, seperti kata Apichatpong, kenangan tidak perlu selalu tepat. Kadang, cukup dengan merasakannya.