bahasfilm – Setelah lima tahun penantian panjang, para penggemar film aksi akhirnya bisa menyaksikan petualangan terbaru para prajurit abadi. The Old Guard 2 resmi tayang di Netflix pada 2 Juli 2025. Bagi Anda pencinta film yang selalu mengikuti perkembangan dunia perfilman melalui bahasfilm , kabar gembira ini tentu sudah lama dinantikan. Sekuel ini menghadirkan kembali Charlize Theron sebagai pemimpin tim prajurit abadi. Mereka harus menghadapi musuh baru sekaligus konflik masa lalu yang belum terselesaikan.
Film bergenre aksi superhero ini memiliki durasi 107 menit. Victoria Mahoney dipercaya sebagai sutradara menggantikan Gina Prince-Bythewood. Banyak penggemar bertanya-tanya tentang kualitas film ini. Apakah sekuelnya mampu melampaui kesuksesan film pertama? Mari kita ulas lengkap dalam artikel dari bahasfilm berikut.
BACA JUGA : Review Film The Testament of Ann Lee (2025): Musikal Religi Paling Berani Tahun Ini
Sinopsis Singkat ala bahasfilm: Dendam Kuno yang Muncul dari Dasar Laut
Pembukaan film menampilkan adegan mencekam di lepas pantai Roma, Italia. Sebuah peti besi kuno yang disebut iron maiden diangkat dari dasar laut. Ketika peti tersebut dibuka, ternyata di dalamnya terkurung sesosok perempuan. Ia adalah Quỳnh yang diperankan oleh Veronica Ngô. Quỳnh merupakan seorang prajurit abadi yang telah dipenjara selama 500 tahun.
Enam bulan setelah peristiwa film pertama, Andy (Charlize Theron) masih memimpin timnya. Andy kini telah kehilangan keabadiannya. Ia bersama Joe, Nicky, Nile, dan Copley menjalankan berbagai misi kemanusiaan. Sementara itu, Booker menjalani hukuman pengasingan sendirian di Paris. Ia tidak diizinkan bergabung dengan tim selama seratus tahun.
Konflik mulai memanas ketika Quỳnh ditemukan dan dibebaskan oleh Discord (Uma Thurman). Discord ternyata adalah seorang prajurit abadi yang lebih tua dari Andy. Ia kini menjadi pengedar senjata gelap di pasar internasional. Discord membangkitkan dendam Quỳnh terhadap Andy. Quỳnh merasa Andy telah mengingkari janji untuk menyelamatkannya dulu.
Andy dan timnya harus berhadapan dengan ancaman baru ini. Mereka juga harus mengungkap misteri seputar Nile. Nile disebut sebagai “prajurit abadi terakhir” dengan kekuatan istimewa. Ia mampu mencabut atau memindahkan keabadian orang lain. bahasfilm merekomendasikan Anda untuk menyimak bagian ini dengan saksama. Bagian ini menjadi kunci utama cerita sekuel.
Peringatan Spoiler dari bahasfilm! Berikut Alur Lengkap The Old Guard 2
Bagi Anda yang belum menonton film ini, sebaiknya berhenti membaca di sini. Bagian selanjutnya akan mengungkap detail alur hingga akhir cerita. Spoiler ini mencakup adegan-adegan penting dan twist yang mungkin mengurangi kejutan saat menonton.
Pertemuan Kembar yang Penuh Dendam Versi bahasfilm
Setelah mengetahui keberadaan Quỳnh, Andy memutuskan untuk menemuinya. Lokasi pertemuan berada di Roma, tepatnya di tempat Quỳnh dulu dibuang ke laut. Pertemuan keduanya berlangsung sangat intens dan emosional.
Quỳnh meluapkan kemarahannya selama 500 tahun terperangkap dalam peti besi. Ia mengalami kematian berulang kali di dasar laut. Setiap kali tenggelam, ia akan bangkit kembali untuk tenggelam lagi. Sementara itu, Andy bebas berkeliaran di dunia tanpa pernah berusaha menyelamatkannya.
Pertarungan singkat pun terjadi di antara mereka. Quỳnh berhasil mengambil kalung milik Andy yang sangat berharga. Discord muncul sekilas dari kejauhan. Ia menegaskan bahwa dialah yang membebaskan Quỳnh. Kini mereka bekerja sama untuk menghancurkan Andy.
Misteri Nile dan Teori Tuah Menurut bahasfilm
Andy dan Copley melacak seorang bijak abadi di Seoul. Bijak tersebut bernama Tuah yang diperankan oleh Henry Golding. Tuah adalah sahabat lama Andy yang memiliki pengetahuan mendalam tentang para prajurit abadi. Ia menyimpan banyak rahasia tentang asal-usul keabadian.
Dari Tuah terungkap fakta mengejutkan. Discord yang dulu dikenal sebagai “Perselisihan” telah mencuri buku-buku kuno. Buku-buku tersebut berisi rahasia tentang keabadian dan asal-usul para prajurit. Discord ingin menguasai pengetahuan tersebut untuk kepentingannya sendiri.
Teori penting muncul dari percakapan mereka. Nile sebagai prajurit abadi terakhir memiliki kekuatan istimewa. Jika ia melukai prajurit abadi lain, maka keabadian prajurit itu akan tercabut. Inilah yang menjelaskan mengapa Andy kehilangan keabadiannya. Andy pertama kali bertemu Nile di film sebelumnya, dan saat itulah keabadiannya hilang.
Lebih jauh lagi, ada fakta menarik tentang pemulihan keabadian. Siapa pun yang kehilangan keabadian bisa mendapatkannya kembali. Caranya adalah jika prajurit abadi lain yang terluka memindahkan kekuatannya. Proses ini membutuhkan pengorbanan dari salah satu pihak.
Booker yang diam-diam bertemu Nile memverifikasi teori ini. Ia meminta Nile untuk melukainya sebagai percobaan. Setelah terluka oleh Nile, luka Booker tidak kunjung sembuh. Ia kini menjadi manusia biasa seperti Andy. Namun Booker meminta Tuah untuk merahasiakan hal ini dari Andy. Ia punya rencana sendiri untuk menebus kesalahannya.
Pengorbanan Booker dan Pertarungan di Reaktor Nuklir
Discord dan Quỳnh mengambil alih sebuah fasilitas nuklir. Lokasinya berada di Tangerang Selatan, Indonesia. Mereka memasang bom di dalam reaktor nuklir tersebut. Jika meledak, jutaan orang akan terkena radiasi berbahaya.
Andy dan timnya menyadari bahwa ini adalah jebakan. Discord sengaja memilih lokasi jauh untuk memancing mereka datang. Namun mereka tetap meluncur ke lokasi untuk menyelamatkan warga. Nilai kemanusiaan lebih penting daripada keselamatan mereka sendiri.
Dalam pertempuran sengit, Joe, Nicky, dan Copley tertangkap. Discord menggunakan mereka sebagai sandera untuk memancing Andy. Di tengah kekacauan, Booker mengorbankan dirinya dengan mulia. Dengan tubuh terluka parah, ia memindahkan keabadiannya kepada Andy. Kekuatan Andy pulih seketika setelah berbulan-bulan menjadi manusia biasa. Booker gugur sebagai pahlawan di tangan teman-temannya sendiri.
Sementara itu, Nile berhadapan dengan Quỳnh di dalam inti reaktor. Pertarungan mereka sangat brutal dan menegangkan. Nile berhasil melukai Quỳnh dengan senjata tajam. Seperti teori Tuah, Quỳnh pun kehilangan keabadiannya seketika. Namun sebelum Nile bisa berbuat lebih banyak, Discord datang membekukan mereka. Discord menangkap Nile serta anggota tim lainnya dan melarikan diri.
Klimaks yang Menggantung ala bahasfilm
Andy berhadapan dengan Discord dalam pertarungan brutal. Keduanya sama-sama kehilangan orang yang mereka cintai. Di tengah pertarungan, terungkap fakta mengejutkan. Discord ternyata juga sudah kehilangan keabadiannya sejak lama. Ia putus asa ingin menggunakan Nile untuk memulihkan kekuatannya.
Discord menusuk Andy dengan pisau beracun. Ia kemudian melarikan diri dengan para tawanan. Sebelum pergi, ia meninggalkan pesan mengancam. Jika mereka bertemu lagi, ia akan kembali abadi dan menghancurkan segalanya.
Andy kembali ke perpustakaan Tuah bersama Quỳnh. Quỳnh kini telah berdamai dengan Andy setelah mengetahui kebenaran. Mereka berdua bersumpah akan menemukan Discord. Mereka harus menyelamatkan rekan-rekan yang ditawan.
Film berakhir secara mendadak dan menggantung. Andy dan Quỳnh berlari menuju pintu keluar perpustakaan. Lalu layar tiba-tiba menjadi gelap tanpa ada penjelasan. Tidak ada adegan pasca-kredit seperti film pertama.
Menurut analisis bahasfilm, ending seperti ini sengaja dibuat untuk membuka jalan bagi sekuel ketiga. Sayangnya hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari Netflix. Para penggemar harus bersabar menanti kelanjutan cerita.
Daftar Pemain dan Karakter The Old Guard 2 Versi bahasfilm
| Pemain | Karakter | Keterangan |
|---|---|---|
| Charlize Theron | Andy / Andromache of Scythia | Pemimpin tim prajurit abadi tertua yang berusia lebih dari 6000 tahun |
| KiKi Layne | Nile Freeman | Prajurit abadi termuda, mantan marinir AS, disebut sebagai yang terakhir |
| Matthias Schoenaerts | Booker / Sébastien Le Livre | Prajurit abadi asal Prancis yang diasingkan, mengorbankan diri di akhir film |
| Marwan Kenzari | Joe / Yusuf Al-Kaysani | Prajurit abadi dari Maroko, pasangan Nicky sejak Perang Salib |
| Luca Marinelli | Nicky / Nicolò di Genova | Prajurit abadi dari Italia, pasangan Joe sejak Perang Salib |
| Veronica Ngô | Quỳnh | Sahabat lama Andy asal Vietnam yang terpenjara 500 tahun di dasar laut |
| Chiwetel Ejiofor | James Copley | Mantan agen CIA, kini menjadi sekutu dan manajer tim |
| Uma Thurman | Discord | Prajurit abadi pertama dalam sejarah, antagonis utama film |
| Henry Golding | Tuah / Hang Tuah | Bijak abadi yang menyimpan rahasia keabadian, tinggal di Seoul |
Kehadiran Henry Golding sebagai Tokoh Tuah menarik perhatian bahasfilm. Namanya diambil dari pahlawan legenda Melayu, Hang Tuah. Ini menunjukkan upaya produser menghadirkan elemen Asia Tenggara dalam film Hollywood. Sayangnya porsi kemunculannya terbatas hanya sebagai pemberi informasi.
Detail Pembuatan Film: Perjalanan Panjang Menuju Layar Kaca
Pengembangan dan Sutradara Baru Menurut bahasfilm
Netflix mengumumkan sekuel The Old Guard pada Januari 2021. Pengumuman ini tidak lama setelah kesuksesan film pertama di masa pandemi. Film pertama berhasil menjadi tontonan favorit selama karantina.
Namun terjadi pergantian sutradara yang cukup mengejutkan. Gina Prince-Bythewood yang menyutradarai film pertama tidak kembali. Ia memiliki kesibukan dengan proyek-proyek lain yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Posisinya digantikan oleh Victoria Mahoney.
Victoria Mahoney dikenal sebagai sutradara kedua untuk Star Wars: The Rise of Skywalker. Ia juga aktif dalam berbagai proyek televisi. Pengalamannya di film besar menjadi nilai tambah untuk sekuel ini.
Greg Rucka, kreator komik asli, kembali menulis skenario. Ia bekerja sama dengan Sarah L. Walker untuk mengembangkan cerita. Para produser eksekutif termasuk David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger, dan Charlize Theron sendiri.
bahasfilm mencatat bahwa keterlibatan Theron sebagai produser sangat penting. Ia memastikan kualitas akting dan koreografi laga tetap terjaga. Theron terkenal sebagai aktris yang serius dalam mempersiapkan peran laga.
Proses Syuting yang Penuh Tantangan
Syuting utama dimulai pada Juni 2022 di Italia. Tim produksi memanfaatkan lokasi-lokasi ikonik termasuk Cinecittà Studios di Roma. Studio ini terkenal sebagai tempat syuting film-film klasik Hollywood.
Namun produksi terganggu oleh insiden tak terduga. Set film terbakar pada Agustus 2022 saat proses pembongkaran berlangsung. Kebakaran ini menyebabkan penundaan syuting selama beberapa minggu. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Syuting tambahan kemudian dilakukan di Inggris Raya. Proses pengambilan gambar akhirnya rampung pada September 2022. Namun perjalanan film ini masih panjang.
Pada Juli 2024, Charlize Theron mengungkapkan kabar mengejutkan. Proses pascaproduksi terhenti selama lima minggu. Penyebabnya adalah perubahan manajemen di Netflix yang memengaruhi banyak proyek. Setelah negosiasi alot, produksi akhirnya dilanjutkan dan diselesaikan.
Menariknya, pada Oktober 2024 tim masih melakukan syuting tambahan. Mereka mengambil gambar selama dua minggu di lokasi rahasia. Ini menandakan ada adegan-adegan yang mungkin ditambahkan atau diperbaiki. Kemungkinan besar ini adalah adegan tambahan untuk memperjelas alur cerita.
bahasfilm menilai bahwa penundaan panjang ini berdampak pada kualitas akhir film. Terutama dalam hal konsistensi cerita dan pengembangan karakter. Beberapa adegan terasa terpotong dan tidak nyambung.
Sinematografi dan Tim Kreatif
Barry Ackroyd ditunjuk sebagai sinematografer utama. Ia adalah sineas berpengalaman di balik The Hurt Locker dan Captain Phillips. Gaya khasnya adalah penggunaan kamera genggam yang intens. Teknik ini memberikan sensasi laga yang mendebarkan dan realistis.
Adegan penyerbuan vila di awal film menjadi contoh terbaik. Kamera bergerak dinamis mengikuti pergerakan para prajurit. Penonton merasa ikut berada di tengah pertempuran.
Matthew Schmidt duduk di kursi penyuntingan. Ia adalah editor yang pernah mengerjakan film-film Marvel. Karyanya termasuk Avengers: Endgame dan Avengers: Infinity War. Pengalamannya dengan film laga berskala besar sangat membantu.
Max Aruj dan Ruth Barrett menggantikan komposer film pertama. Sebelumnya musik digarap oleh Volker Bertelmann dan Dustin O’Halloran. Duo baru ini mencoba memberikan warna berbeda pada sekuel.
Tim kreatif kelas atas ini sayangnya kurang dimanfaatkan maksimal. Menurut pengamatan bahasfilm, naskah yang lemah membuat sinematografi terasa sia-sia. Adegan laga memang bagus, tetapi cerita tidak mendukungnya.
Poin-Poin Penting dan Menarik dalam Alur Film Rekomendasi bahasfilm
1. Kembalinya Quỳnh: Dendam 500 Tahun
Salah satu daya tarik utama adalah kemunculan Quỳnh. Karakter ini telah lama dinantikan sejak adegan kredit akhir film pertama. Penggambarannya sebagai koram dan antagonis sangat kompleks. Penonton bisa memahami mengapa ia begitu marah pada Andy.
Veronica Ngô berhasil membawakan karakter Quỳnh dengan baik. Ia menunjukkan sisi rapuh sekaligus garang dalam waktu bersamaan. bahasfilm mencatat ini sebagai elemen terkuat film. Sayangnya porsi cerita Quỳnh terasa kurang dieksplorasi.
2. Kekuatan Baru Nile: Pengambil Keabadian
Konsep bahwa prajurit abadi terakhir bisa mencabut keabadian orang lain sangat menarik. Ini membuka dimensi baru dalam mitologi The Old Guard. Penonton jadi memahami mengapa Nile begitu istimewa.
Kekuatan ini menjadi inti konflik utama film. Discord mengincar Nile untuk memulihkan kekuatannya yang hilang. Sayangnya penjelasan tentang asal-usul kekuatan ini kurang detail.
3. Pengorbanan Booker: Akhir yang Mengharukan
Matthias Schoenaerts memberikan penampilan emosional sebagai Booker. Ia berhasil menunjukkan penyesalan mendalam karakter ini. Booker merasa bersalah karena pernah mengkhianati tim di film pertama.
Keputusannya mengorbankan diri menjadi momen paling menyentuh. Ia memulihkan keabadian Andy dengan cara memindahkan kekuatannya. Kematian Booker terjadi begitu cepat tanpa adegan panjang. Banyak kritikus menilai momen ini terlalu cepat berlalu.
4. Latar Indonesia di Tangerang Selatan
Menarik bagi penonton Indonesia, klimaks film berlatar di Tangerang Selatan. Sebuah fasilitas nuklir di kota penyangga Jakarta menjadi lokasi pertempuran akhir. Meskipun jelas difilmkan di lokasi lain, penyebutan nama kota ini menambah koneksi lokal.
bahasfilm mengapresiasi upaya ini meskipun eksekusinya kurang maksimal. Tidak ada ciri khas Indonesia yang ditampilkan selain nama lokasi. Padahal akan lebih menarik jika ada sentuhan budaya lokal.
5. Adegan Pertarungan yang Sinematik
Satu adegan mendapat pujian luas dari kritikus. Andy berjalan melalui gang-gang Roma yang sempit. Dinding-dinding di sekitarnya berubah menjadi latar kuno dari masa lalunya. Visual effect ini menggambarkan ingatan Andy yang muncul kembali.
Perpaduan visual indah dan koreografi laga yang puitis menjadi momen terbaik film. Sayangnya hanya satu adegan seperti ini yang ada. Sisanya adalah adegan laga biasa tanpa sentuhan seni.
6. Ending Menggantung yang Kontroversial
Film berakhir tanpa resolusi yang jelas. Discord kabur bersama Joe, Nicky, Copley, dan Nile. Andy dan Quỳnh bersiap menyusul mereka. Lalu layar tiba-tiba menjadi gelap total.
Banyak penonton kecewa berat dengan ending ini. Mereka merasa film ini hanya “trailer dua jam” untuk film ketiga. Sayangnya film ketiga belum pasti dibuat oleh Netflix.
Menurut bahasfilm, strategi ini sangat berisiko tinggi. Jika Netflix akhirnya membatalkan sekuel berikutnya, penonton akan selamanya penasaran. Ini bisa merusak reputasi waralaba yang baru tumbuh.
Review dan Rating: Sambutan Kritikus dan Penonton menurut bahasfilm
Skor Agregator Resmi
| Platform | Skor | Keterangan |
|---|---|---|
| Rotten Tomatoes | 27% (kritikus) | Berdasarkan 109 ulasan dari kritikus profesional |
| 33% (audience) | Rating dari penonton biasa yang sudah verifikasi | |
| Metacritic | 44/100 | Berdasarkan 22 ulasan kritikus ternama |
| IMDb | 5.1/10 | Rating dari pengguna IMDb di seluruh dunia |
Ringkasan Ulasan Kritikus Terpercaya
Robert Daniels dari RogerEbert.com menulis ulasan tajam. Ia mengatakan bahwa “The Old Guard 2 adalah tontonan Netflix yang licin”. Film ini dinilai tidak memiliki alasan berarti untuk membuat penonton peduli pada karakternya.
Ia memuji adegan pembuka yang intens dan koreografi laga. Namun ia menyesalkan naskah yang dangkal dan pengembangan karakter yang buruk. “Tidak banyak cerita di sini,” tulisnya. “Meskipun sekuel menambahkan beberapa wajah baru, tidak banyak karakter yang terdefinisi dengan baik.”
Konsensus Rotten Tomatoes memberikan kesimpulan pedas. “Terbebani oleh lore yang membosankan dan eksekusi yang kurang bertenaga.” Mereka menilai bahwa “The Old Guard 2 membuat waralaba yang baru tumbuh ini terasa sudah uzur.” Padahal film pertama baru rilis lima tahun lalu.
Kritik Utama yang Muncul Berulang
Para kritikus sepakat pada beberapa poin kelemahan film. Cerita berbelit-belit dengan eksposisi berlebihan menjadi keluhan utama. Penonton dipaksa mendengarkan penjelasan panjang tentang mitologi baru.
Karakter pendukung kehilangan ruang untuk berkembang. Joe, Nicky, dan Copley hanya muncul sekilas tanpa dialog berarti. Padahal di film pertama mereka memiliki momen-momen emosional yang kuat.
Aturan dunia yang membingungkan juga menjadi masalah. Mitologi keabadian menjadi semakin rumit dan tidak konsisten. Penonton kesulitan memahami logika di balik kekuatan para karakter.
Ending menggantung yang terasa seperti “pikiran belum selesai” paling dikritik. Banyak yang merasa film ini berhenti di tengah jalan tanpa alasan jelas.
Pujian untuk Beberapa Aspek
Meski banyak kritik, beberapa aspek tetap mendapat pujian. Penampilan Charlize Theron yang tetap karismatik menjadi daya tarik utama. Ia mampu membawa karakter Andy dengan penuh wibawa meski naskah lemah.
Adegan pertarungan yang dikoreografi dengan baik juga diapresiasi. Tim stunt dan koreografer laga bekerja keras menghadirkan aksi memukau. Sayangnya adegan laga tidak cukup untuk menutupi kelemahan cerita.
Momen intim antara Andy dan Quỳnh yang menyentuh juga dipuji. Adegan ketika mereka berdamai setelah 500 tahun terpisah cukup emosional. Chemistry antara Charlize Theron dan Veronica Ngô terasa alami.
bahasfilm berpendapat bahwa skor rendah ini mencerminkan kekecewaan penonton. Mereka telah menanti lima tahun untuk sekuel. Namun yang mereka dapatkan hanya cerita setengah jadi yang menggantung.
Kesimpulan: Layak Tonton atau Tidak? Perspektif bahasfilm
The Old Guard 2 adalah sekuel yang bernasib kurang beruntung. Proses produksi yang panjang dan penuh hambatan memengaruhi kualitas akhir film. Ditambah lagi perubahan manajemen Netflix yang membuat proses pascaproduksi terhambat.
Di satu sisi, penggemar berat film pertama akan menikmati beberapa elemen. Kemunculan Quỳnh yang dinanti-nanti akhirnya terwujud. Tambahan pemain baru seperti Uma Thurman dan Henry Golding juga menyegarkan. Adegan laga masih memukau dengan koreografi yang apik.
Namun di sisi lain, film ini memiliki banyak kelemahan signifikan. Cerita terjebak dalam eksposisi berlebihan yang membosankan. Pengembangan karakter sangat timpang, hanya Andy dan Quỳnh yang mendapat porsi cukup.
Yang paling disayangkan adalah akhir cerita yang menggantung tanpa kepastian. Setelah menunggu lima tahun, penonton hanya mendapat “setengah cerita”. Film berhenti di tengah jalan tanpa memberikan resolusi memuaskan.
Bagi Anda yang ingin menonton, siapkan ekspektasi dengan bijak. Ini lebih merupakan “jembatan” menuju cerita yang lebih besar. Sayangnya jembatan tersebut mungkin tidak akan pernah bersambung. Jika Netflix memutuskan tidak melanjutkan, penonton akan selamanya penasaran.
Menurut analisis bahasfilm, ada dua pilihan bijak untuk menonton film ini. Pertama, tonton dengan ekspektasi rendah dan nikmati adegan laganya saja. Kedua, tunggu hingga sekuel ketiga diumumkan secara resmi. Dengan cara itu Anda tidak akan kecewa dengan ending menggantung.
The Old Guard 2 kini sudah dapat disaksikan secara eksklusif di Netflix. Gunakan akun Netflix Anda untuk menonton film ini. Jangan lupa siapkan camilan karena durasinya cukup panjang.

