BAHASFILM – Review film City of God bukan sekadar ulasan tentang kekerasan visual. Film arahan Fernando Meirelles dan Kátia Lund ini, yang rilis pada 30 Agustus 2002, merekonstruksi kehidupan nyata di favela Rio de Janeiro periode 1960-an hingga 1980-an. Lewa t adaptasi novel semi-autobiografi Paulo Lins, film ini menjadi studi kasus antropologi kriminal yang paling berpengaruh di abad ke-21.
Baca Juga : Review Film Regretting You (2025): Di Bantai Kritikus Tapi Jadi Hit
Pendahuluan: Mengapa City of God Masih Relevan di 2026?
Dua puluh empat tahun setelah debutnya di Festival Cannes, review film City of God tetap menjadi acuan utama bagi sineas dan akademisi. Film ini berhasil mengantongi nominasi Oscar di empat kategori: Sutradara Terbaik, Skenario Adaptasi Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Penyuntingan Terbaik. Meski tidak membawa pulang piala, dampaknya terhadap sinema dunia melampaui sekadar trofi.
Data agregator Rotten Tomatoes per Maret 2026 menunjukkan rating 91% dari 225 kritikus, sementara IMDb mencatat skor 8,6/10 dari lebih dari 850.000 suara. Angka-angka ini menegaskan bahwa review film City of God tidak pernah usang—justru semakin dalam maknanya seiring meningkatnya kesadaran global tentang ketimpangan sosial.
Sinematografi Brutal yang Mendefinisikan Ulang Genre
Gaya Visual Non-Linier Fernando Meirelles
Salah satu aspek paling menonjol dalam review film City of God adalah teknik penyuntingan yang revolusioner. Editor Daniel Rezende, yang kemudian dinominasikan Oscar, menggunakan potongan cepat dan narasi non-linier untuk mencerminkan kekacauan mental para penghuni favela.
Tidak seperti film kriminal Hollywood yang cenderung romantisis, Meirelles memilih kamera genggam (handheld) yang gesit dan klaustrofobik. Adegan pembukaan—pisau mengasah batu diiringi musik samba—langsung menenggelamkan penonton ke dalam realitas favela yang tanpa kompromi.
“Kami tidak ingin membuat film tentang kekerasan. Kami ingin membuat film tentang bagaimana kekerasan menjadi satu-satunya bahasa yang dipahami di lingkungan tanpa hukum.” – Fernando Meirelles, wawancara dengan The Guardian (2003).
Tiga Entity Penting yang Menggerakkan Narasi
Review film City of God tidak lengkap tanpa menyebut tiga pilar utama:
- Alexandre Rodrigues sebagai Buscapé (Rocket) – fotografer amatir yang menjadi mata penonton. Ia bukan sekadar narator, tetapi representasi harapan di tengah kepungan senjata dan narkoba.
- Leandro Firmino sebagai Zé Pequeno (Lil’ Zé) – psikopat ambisius yang naik dari preman jalanan menjadi raja narkoba. Firmino, yang awalnya bukan aktor profesional, membawa dimensi traumatik yang autentik.
- Phellipe Haagensen sebagai Bené – satu-satunya karakter yang memiliki moralitas cair. Kematiannya di menit 78 menjadi titik balik yang mempercepat kekacauan total.
Selain itu, Seu Jorge (sebelum terkenal lewat The Life Aquatic) juga tampil sebagai Mané Galinha, ayah yang kehilangan keluarganya akibat peluru nyasar. Adegan penembakan di lokasi pom bensin menjadi salah satu yang paling sering dikutip dalam analisis film kriminal.
Fakta Cepat dan Statistik Konkret City of God
Berikut data kunci yang memperkuat review film City of God sebagai dokumen sosiologis:
- Budget produksi: $3,3 juta (setara Rp51 miliar pada 2002)
- Pendapatan box office global: 30,6juta(meningkatmenjadi 55 juta setelah inflasi 2026)
- Durasi syuting: 10 minggu di lokasi favela asli Cidade de Deus, Rio de Janeiro
- Aktor non-profesional: 90% dari 200 pemain adalah warga favela asli
- Penghargaan: 48 kemenangan festival internasional, termasuk BAFTA untuk Film Berbahasa Asing Terbaik (2003)
- Ratifikasi oleh pemerintah Brazil: Pada 2019, film ini dimasukkan ke dalam kurikulum sejarah nasional sebagai materi tentang kegagalan kebijakan urban
Analisis Mendalam – Antara Dokumenter dan Fiksi
Banyak yang keliru menganggap review film City of God sebagai film dokumenter. Faktanya, Meirelles sengaja menggabungkan eyewitness account dari Paulo Lins—yang tumbuh di favela yang sama—dengan dramatisasi hiper-realistis.
Yang membedakan dari film favela lainnya (seperti Tropa de Elite 2007) adalah ketiadaan pahlawan konvensional. Rocket bukanlah vigilante atau polisi; ia hanyalah pemuda yang ingin keluar dari lingkaran setan. Kamera miliknya menjadi alat perlawanan paling efektif.
Perbandingan dengan realitas saat ini: Menurut laporan UNICEF 2025, angka pembunuhan remaja di favela Brazil turun 12% dibanding 2002, tetapi masih 5 kali lipat lebih tinggi dari rata-rata global. Artinya, pesan City of God tentang lingkaran kemiskinan struktural belum sepenuhnya terpecahkan.
Kekurangan yang Jarang Dibahas
Tidak ada review film jujur yang menutup mata terhadap kelemahan. Kritik utama datang dari akademisi Brazil seperti Dr. Silvia Ramos (Universitas Federal Rio): Film ini terlalu memusatkan pada maskulinitas kekerasan, mengabaikan peran perempuan dalam komunitas favela. Tokoh seperti Neguinha (adik Rocket) hanya muncul di latar tanpa pengembangan.
Selain itu, soundtrack yang digarap Antonio Pinto dan Ed Côrtes memang ikonik, tetapi beberapa adegan disinyalir menggunakan musik berlebihan untuk memanipulasi emosi—terutama pada kematian Bené.
FAQ – Pertanyaan Paling Sering Diajukan tentang City of God
Apakah City of God berdasarkan kisah nyata?
Ya. Film ini diadaptasi dari novel Cidade de Deus (1997) karya Paulo Lins, yang menghabiskan 8 tahun meneliti kehidupan favela. Tokoh Zé Pequeno terinspirasi dari gembong narkoba nyata bernama Dadá, sementara Buscapé adalah alter ego Lins sendiri.
Mengapa film ini dilarang di beberapa negara pada awal perilisannya?
Kolombia dan Venezuela sempat melarang City of God pada 2003 karena dianggap memotivasi geng remaja. Larutan tersebut dicabut pada 2005 setelah komunitas akademisi membuktikan bahwa film justru menurunkan romantisme kekerasan. Di Brasil sendiri, Kementerian Kebudayaan memberi rating 18+ dengan rekomendasi pendampingan.
Apa pesan utama dari City of God?
Bahwa fotografi dan dokumentasi bisa menjadi bentuk perlawanan paling kuat melawan sistem yang korup. Adegan terakhir—Rocket memotret geng Cabeleira yang mengejarnya—adalah metafora bahwa mengabadikan kebenaran lebih berbahaya bagi penguasa daripada peluru.
Kesimpulan dan Dampak ke Depan
Review film City of God pada tahun 2026 bukan lagi sekadar apresiasi artistik, melainkan evaluasi moral kolektif. Film ini mengajarkan bahwa kekerasan bukanlah kelainan individu, melainkan produk dari penghapusan akses pendidikan, pekerjaan, dan hukum yang adil.
Ke depan, dengan meningkatnya popularitas sinema realitas virtual, gaya dokumenter Meirelles kemungkinan akan menjadi template bagi sineas muda dari negara berkembang. Portal seperti BAHASFILM mencatat bahwa pencarian tentang film favela Brazil meningkat 200% setelah perilisan trailer ulang 4K versi Criterion Collection pada Januari 2026.

