Bahasfilm akan mengulas tuntas film horor legendaris Indonesia berjudul Suzzanna: Bernafas dalam Kubur. Film yang dirilis 15 November 2018 ini sukses besar dengan 3.346.185 penonton. Pendapatannya mencapai Rp 123 miliar, menjadikannya film terlaris kedua tahun 2018. Kunjungi Bahasfilm untuk rekomendasi film Indonesia lainnya.
Sinopsis Film Suzzanna: Bernafas dalam Kubur
Suzzanna (Luna Maya) dan Satria (Herjunot Ali) telah menikah tujuh tahun. Mereka akhirnya mengandung anak pertama yang dinanti. Kebahagiaan terusik ketika Satria harus dinas ke luar negeri. Suzzanna ditinggal bersama tiga pembantu setia: Mia (Asri Welas), Tohir (Ence Bagus), dan Pak Rojali (Opie Kumis).
Kepergian Satria dimanfaatkan empat karyawan yang menyimpan dendam. Mereka adalah Jonal (Verdi Solaiman), Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), dan Gino (Kiki Narendra). Para perampok berencana merampok rumah saat sepi.
Namun rencana berubah tragis. Suzzanna yang lemah karena hamil pulang lebih awal sendirian. Kepanikan meracuni akal para perampok. Mereka mengubur Suzzanna yang sekarat di belakang rumah.
Peringatan: Spoiler artikel dimulai dari sini
Keesokan harinya terjadi keanehan. Suzzanna muncul dan beraktivitas seperti biasa. Para pembantu mulai curiga setelah berbagai kejadian ganjil. Ternyata Suzzanna meninggal dalam kondisi hamil. Ia bangkit sebagai sundel bolong, hantu legendaris Indonesia yang berlubang di punggung.
Sosok Suzzanna mulai meneror para pembunuhnya satu per satu. Teror dilakukan dengan cara psikologis dan mengerikan. Para perampok semakin ketakutan. Mereka menggali kubur Suzzanna dan berusaha membakarnya dengan bom molotov. Namun dendam Suzzanna terlalu kuat.
Puncaknya, Satria kembali dari luar negeri. Ia menyadari kebenaran mengerikan: istri yang menemaninya tidur adalah arwah penasaran. Dalam klimaks menegangkan, Suzzanna membalaskan dendam dengan bantuan kekuatan gaib. Akhirnya ia menemukan kedamaian dan meninggalkan dunia fana.
Karakter dan Pemain Film Suzzanna
| Pemeran | Karakter | Peran dalam Film |
|---|---|---|
| Luna Maya | Suzzanna | Istri Satria, korban pembunuhan yang bangkit sebagai sundel bolong |
| Herjunot Ali | Satria | Suami Suzzanna, pemilik pabrik yang harus dinas ke luar negeri |
| Verdi Solaiman | Jonal | Karyawan Satria, otak perampokan |
| Teuku Rifnu Wikana | Umar | Karyawan yang sejak awal menolak menyakiti Suzzanna |
| Alex Abbad | Dudun | Karyawan yang terlibat perampokan |
| Kiki Narendra | Gino | Karyawan yang punya hubungan dengan dukun (Mbah Turu) |
| Asri Welas | Mia | Asisten rumah tangga yang setia |
| Opie Kumis | Pak Rojali | Asisten rumah tangga, sumber komedi |
| Ence Bagus | Tohir | Asisten rumah tangga dengan punchline lucu |
| Clift Sangra | Pak Bekti | Atasan Satria, juga mantan suami mendiang Suzanna asli |
| Norman R. Akyuwen | Mbah Turu | Dukun, paman Gino |
Menurut Bahasfilm, chemistry para pemain menjadi kunci kesuksesan film ini. Luna Maya berhasil menghidupkan kembali sosok legendaris Suzanna dengan luar biasa.
Proses Pembuatan Film Suzzanna
Awal Mula dan Pergantian Sutradara
Proyek film ini dimulai lima tahun sebelum rilis. Produser Sunil Soraya kesulitan mencari aktris yang tepat. Tantangan berat muncul ketika sutradara awal, Anggy Umbara, harus digantikan Rocky Soraya. Perbedaan visi untuk unsur horor menjadi penyebabnya.
Hasil syuting selama sebulan dievaluasi ulang. Rocky Soraya kemudian memimpin syuting lanjutan selama 20 hari. Total syuting mencapai 52 hari. Cut pertama mencapai 4,5 jam. Tujuh puluh persen di antaranya dari hasil reshoot yang dikerjakan Rocky.
Naskah dan Cerita
Naskah ditulis Bene Dion Rajagukguk bersama Ferry Lesmana dan Sunil Soraya. Judul “Bernafas dalam Kubur” terinspirasi dari dua film legendaris Suzanna: Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971).
Sunil menegaskan kisahnya benar-benar baru. Cerita berlatar tahun 1980-an. Film sengaja tidak mengandalkan jumpscare, melainkan membangun ketegangan psikologis. Pendekatan ini mendapat apresiasi dari Bahasfilm karena berbeda dari film horor kebanyakan.
Pemilihan Luna Maya
Pemilihan pemeran utama menjadi tantangan terbesar. Sunil mencari aktris dengan bentuk wajah semirip mendiang Suzanna. Tujuannya agar topeng prostetik bisa berfungsi optimal.
Rocky Soraya yang sebelumnya bekerja sama dengan Luna Maya dalam The Doll 2 dan Sabrina menyarankan namanya. “Ketika tes, ternyata Luna memang sesuai dengan ekspektasi,” ujar Rocky. Luna sendiri awalnya merasa tidak percaya diri. Ia takut tidak bisa menyerupai sang legenda.
Riset Mendalam Luna Maya
Luna Maya melakukan studi intensif atas gerak-gerik mendiang Suzanna. Ia mempelajari cara berjalan, cara bicara, ekspresi emosi, dan intonasi suara. Luna menonton belasan film horor Suzanna. Ia juga mendengar rekaman suara dialog untuk menirukan warna suara yang khas.
“Saya rangkum, adegan ini pada saat dia marah, saat dia ketawa. Satu Suro misalnya, ada ciri khasnya, di mana penekanan intonasi sewaktu marah,” ungkap Luna.
Luna juga mengadopsi ciri khas mata melotot. Tantangan berat karena kornea matanya yang kebiruan harus memakai lensa kontak berwarna coklat. Ia juga menggunakan prostetik di wajah. “Cukup menderita ha-ha. Ini syuting tergila sih, tekanan gila, semua gila,” kenangnya.
Adegan Makan Bunga Melati
Adegan ikonik memakan bunga melati wajib hadir di film ini. Luna mengaku ada pengalaman lucu saat menjalani adegan tersebut. “Rasanya ya, wangi ha-ha. Namun Bunda makan bertahun-tahun, enggak apa-apa.”
Namun properti bunga melati di lokasi syuting tidak selalu segar. Luna sempat makan bunga melati yang basi dan sudah berbau aneh. “Ternyata ada melati yang sudah dari kemarin dan rasanya agak basi, tetapi ya telan saja. Takut sakit perut, tetapi ternyata enggak apa-apa,” ujarnya tertawa.
Baca juga : Review Film Bad Guy (2001): Kontroversi Kim Ki-duk yang Abadi

