Review Film One Battle After Another (2025): BAHASFILM

Poster film One Battle After Another menampilkan wajah close-up pria berjenggot tebal dengan ekspresi tangguh di sisi kiri; di tengah tampak siluet wanita sedang berlari membawa senjata dengan latar belakang padang gurun saat matahari terbenam; terdapat teks besar putih bertuliskan "ONE BATTLE AFTER ANOTHER".

BAHASFILM – One Battle After Another (2025) adalah film thriller politik terbaru dari sutradara peraih Oscar Paul Thomas Anderson yang menandai kolaborasi pertamanya dengan Leonardo DiCaprio. Dalam ulasan BAHASFILM kali ini, kita akan membedah secara mendalam bagaimana film berdurasi 162 menit ini berhasil memadukan satire politik, drama keluarga, dan aksi menegangkan dalam satu paket sinematik yang luar biasa .

Baca Juga : Review Film Rental Family (2025): Brendan Fraser

Sinopsis: Ketika Masa Lalu Revolusioner Kembali Menagih Janji

Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio) adalah seorang aktivis sayap kiri yang telah hidup terpencil selama 16 tahun bersama putrinya, Willa (Chase Infiniti), di sebuah kota suaka fiksi bernama Baktan Cross, California . Kehidupan tenang mereka terusik ketika kolonel militer gila, Steven J. Lockjaw (Sean Penn), muncul kembali—seorang pria yang 16 tahun lalu pernah dipermalukan oleh mantan kekasih Bob, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor) .

Lockjaw, yang kini tengah berusaha bergabung dengan klub rahasia supremasi kulit putih, mulai memburu Bob dan Willa karena khawatir Willa adalah anak biologisnya dari hubungan singkat dengan Perfidia . Ketika Willa hilang dalam kekacauan yang dipicu oleh serbuan militer ke Baktan Cross, Bob terpaksa keluar dari persembunyian dan meminta bantuan mantan rekannya, Sensei Sergio St. Carlos (Benicio Del Toro), untuk menemukan putrinya sebelum Lockjaw dan antek-anteknya menemukannya lebih dulu .

Analisis Mendalam: Antara Vineland dan Amerika Kontemporer

Adaptasi Liar dari Novel Thomas Pynchon

BAHASFILM mencatat bahwa film ini secara longgar diadaptasi dari novel Thomas Pynchon berjudul Vineland (1990). Anderson mengakui bahwa ia mengambil banyak kebebasan dalam proses adaptasi. “Vineland selalu terlalu sulit untuk diadaptasi,” ujar Anderson kepada Esquire pada 2025. “Jadi saya mencuri bagian-bagian yang berbicara kepada saya dan mulai berlari seperti pencuri” . Hasilnya adalah sebuah film yang terasa sangat kontemporer meskipun berakar pada narasi era Reagan.

Pertarungan Ideologi dalam Bingkai Keluarga

Jika dilihat sekilas, One Battle After Another adalah film aksi dengan adegan kejar-kejaran mobil yang spektakuler—bahkan dibandingkan dengan adegan ikonis di Bullitt (1968) . Namun, di balik itu semua, Anderson menyusun narasi yang kompleks tentang warisan politik dan kesenjangan generasi.

DiCaprio, dalam wawancara dengan The New York Times, menegaskan bahwa film ini sebenarnya non-politis: “Jika ada politik dalam film ini, saya pikir itu tentang bagaimana beberapa orang masih terjebak di masa lalu sementara yang lain telah merangkul masa depan” . Pernyataan ini menarik mengingat latar belakang karakter Bob yang merupakan eks-revolusioner yang kini hanya bisa duduk di sofa menonton The Battle of Algiers sambil mabuk .

Sinematografi VistaVision yang Memukau

Salah satu daya tarik utama film ini adalah keputusan Anderson untuk syuting menggunakan format VistaVision, teknologi tahun 1950-an yang menghasilkan resolusi lebih tinggi dan ketajaman gambar luar biasa . Sinematografer Michael Bauman menjelaskan, “Di dunia di mana semua orang sibuk dengan streaming, ini seperti, oke, ini alasan untuk kembali ke bioskop, karena ini adalah pengalaman yang tidak akan Anda dapatkan di TV 52-inci Anda” .

Prestasi dan Pencapaian Box Office

Berikut adalah data terkini terkait performa film yang dirilis pada 26 September 2025 ini :

  • Pendapatan Global: Hingga awal 2026, film meraup $204 juta di seluruh dunia .
  • Anggaran Produksi: Diperkirakan $130 juta, dengan tambahan $70 juta untuk biaya pemasaran .
  • Break Even Point: Film ini membutuhkan pendapatan sekitar $300 juta untuk impas, sehingga diperkirakan merugi hingga $100 juta .
  • Durasi: 161-162 menit .
  • Rating: 15 (setara dengan R-rated) karena kekerasan dan bahasa kasar .

Fenomena “Sukses yang Gagal”

Menariknya, meskipun secara komersial dianggap kurang berhasil, film ini justru mencatatkan rekor sebagai film Anderson dengan pendapatan tertinggi sepanjang kariernya—hampir dua kali lipat dari There Will Be Blood (2007) yang “hanya” meraup $76,9 juta . Charles Gant, editor box office Screen International, menegaskan, “Film ini sebenarnya berhasil dengan fenomenal justru karena penonton menyukainya” .

Perburuan Penghargaan: Dari BAFTA hingga Oscar

One Battle After Another menjadi raksasa di musim penghargaan 2025-2026:

  • BAFTA 2026: Memenangkan 6 penghargaan termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Paul Thomas Anderson), Skenario Adaptasi Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penyuntingan Terbaik, dan Aktor Pendukung Terbaik (Sean Penn) .
  • Golden Globe 2026: Meraih 9 nominasi dan memenangkan 4 kategori: Film Terbaik – Musikal atau Komedi, Sutradara Terbaik, Skenario Terbaik, dan Aktris Pendukung Terbaik (Teyana Taylor) .
  • Oscar 2026: Mendapatkan 13 nominasi Academy Awards, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik (DiCaprio), dan dua nominasi Aktor Pendukung (Sean Penn dan Benicio Del Toro) .

Sutradara Anderson, saat menerima penghargaan di BAFTA, menyampaikan pesan menyentuh dengan mengutip Nina Simone: “Saya tahu apa itu kebebasan: tidak ada rasa takut. Mari terus berkarya tanpa rasa takut. Itu ide yang bagus” .

Kutipan yang Menggugah dari Para Pemeran

Berikut adalah beberapa pernyataan menarik dari para kreator film:

“Kami memiliki kalimat dari Nina Simone yang kami gunakan dalam film, ‘Saya tahu apa itu kebebasan: tidak ada rasa takut.’ Mari terus berkarya tanpa rasa takut.” – Paul Thomas Anderson 

“Jika Anda menjalankan studio film, Anda harus bisa mengambil beberapa risiko besar.” – Lucas Shaw (podcast The Town

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar One Battle After Another

Q: Apakah One Battle After Another berdasarkan kisah nyata?
A: Tidak. Film ini merupakan adaptasi longgar dari novel fiksi Vineland karya Thomas Pynchon, meskipun sutradara Paul Thomas Anderson mengambil banyak kebebasan kreatif dalam proses penulisannya .

Q: Di mana lokasi syuting film ini?
A: Film ini mengambil latar di versi alternatif California dan Texas, dengan sebagian besar syuting dilakukan di lokasi-lokasi yang menggambarkan “kota suaka” fiksi bernama Baktan Cross .

Q: Apakah film ini layak ditonton di bioskop?
A: Sangat layak, terutama jika Anda dapat mengakses teater dengan proyeksi 70mm atau VistaVision. Pengalaman sinematik yang ditawarkan, terutama adegan kejar-kejaran, tidak akan maksimal jika ditonton di layar kecil .

Kesimpulan: Risiko Besar yang Berbuah Manis

One Battle After Another mungkin tidak akan pernah menjadi film dengan keuntungan finansial terbesar tahun ini. Namun, seperti diilustrasikan oleh John Bleasdale dalam analisisnya untuk BBC, film ini menjadi bukti bahwa Warner Bros masih bersedia menjadi “rumah yang ramah bagi proyek-proyek prestisius dari sineas ternama” .

Dengan 13 nominasi Oscar dan kemenangan di berbagai ajang penghargaan bergengsi, BAHASFILM menilai bahwa film ini adalah investasi jangka panjang yang cerdas—bukan hanya untuk neraca keuangan, tetapi untuk reputasi studio sebagai pelindung sinema berkualitas. Di era di mana waralaba dan IP mendominasi, kehadiran film seperti ini adalah angin segar yang patut disyukuri.

Sebagaimana dikatakan karakter Catherine O’Hara dalam serial The Studio yang dikutip BBC: “Pekerjaan itu membuatmu stres, panik, dan sengsara. Tapi ketika semuanya bersatu dan kau membuat film yang bagus, itu akan selamanya bagus” . Dan One Battle After Another adalah film bagus yang akan bertahan lama.