BAHASFILM – Review film Obsession (2025) membuktikan bahwa horor dengan anggaran minim bisa meledak menjadi fenomena global. Garapan sutradara pendatang baru Curry Barker, film supernatural yang diproduksi Blumhouse Productions dan didistribusikan Focus Features ini mencatatkan pendapatan 16,1juta∗∗padaakhirpekanpertamanyadiASpada∗∗15 Mei 2026∗∗,padahalanggaranproduksinyahanya∗∗16,1juta∗∗padaakhirpekanpertamanyadiASpada∗∗15 Mei 2026∗∗,padahalanggaranproduksinyahanya∗∗1 juta. Tak hanya sukses secara komersial, film yang tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2025 ini juga meraih skor 94% dari kritikus dan 94% dari penonton di Rotten Tomatoes. Menurut BAHASFILM, Obsession adalah contoh sempurna bagaimana kreativitas dan eksekusi berani bisa mengalahkan anggaran besar.
Baca Juga : Review Film The Departed (2006): Mahakarya Pengkhianatan Scorsese
🧵 Sinopsis: “Berhati-hatilah dengan Keinginan”
Bear (Michael Johnston) adalah pemuda pemalu yang bekerja di toko musik dan diam-diam mencintai sahabatnya sejak kecil, Nikki (Inde Navarrette). Hubungan mereka terasa stagnan di zona “teman baik”. Suatu hari, setelah dilewati lagi kesempatan untuk menyatakan perasaan, Bear menemukan sebuah mainan antik di toko bunga lokal bernama “One Wish Willow” yang konon bisa mengabulkan satu keinginan.
Dengan sedikit keraguan, Bear mematahkan mainan itu dan berharap agar Nikki jatuh cinta padanya. Keajaiban langsung terjadi. Nikki yang tadinya hangat tapi biasa berubah menjadi sangat posesif, menggairahkan secara berlebihan, dan tak bisa lepas dari Bear. Awalnya Bear menikmati perhatian penuh itu, tapi lambat laun perilaku Nikki berubah menjadi aneh, merusak, dan sangat mengganggu: ia membuatkan sandwich dari bangkai kucing mati, menutup pintu rumah dengan selotip, hingga menolak tidur karena takut pada mimpinya sendiri.
Film ini bukan sekadar cerita horor ringan, melainkan alegori gelap tentang konsentrasi dan batasan dalam hubungan. Saat keinginan yang tak dipertimbangkan konsekuensinya justru menjadi kutukan bagi kedua belah pihak, penonton diajak bertanya: apa yang terjadi jika seseorang mendapatkan cinta yang dimintanya? Terlalu banyak hingga menghancurkan.
🎭 Tiga Entitas Penting yang Menggerakkan Film
Entity Penting #1 – Curry Barker (Sutradara/Penulis/Penyunting). Sosok di balik film ini adalah Curry Barker, seorang kreator YouTube yang sebelumnya viral lewat film horor Milk & Serial dengan anggaran hanya $800 di tahun 2024. Di Obsession, Barker naik level dengan tetap mempertahankan gaya khasnya: perpaduan antara komedi gelap, horor psikologis, dan kekerasan grafis yang menghunjam. The Guardian menyebutnya “satisfyingly slick proof that he knows just what to do when levelling up to a different platform”.
Entity Penting #2 – Inde Navarrette sebagai Nikki. Jika ada satu alasan utama mengapa film ini berhasil, itu adalah penampilan Inde Navarrette. Aktris yang dikenal lewat Superman & Lois ini harus memerankan transformasi seorang wanita manis menjadi sosok mengerikan yang “seperti monster rabies dengan mata membelalak”. The Guardian bahkan berkomentar, “If Amy Madigan can get the well deserved awards she got for Weapons, Inde Navarette’s name should be popping up a lot during awards season”. Penampilannya yang total menjadi landasan kengerian sepanjang film.
Entity Penting #3 – Michael Johnston sebagai Bear. Berbanding terbalik dengan Navarrette, Michael Johnston justru menuai kritik. Sebagian kritikus menyebut karakter Bear terlalu “closed book” dan sulit dipercaya sebagai pusat emosi film. Namun, para pendukung berargumen bahwa sifat Bear yang “biasa saja” justru memperkuat pesan film: bahwa kejahatan bisa berasal dari orang yang paling biasa, bukan monster bertanduk.
Selain ketiga di atas, elemen teknis yang pantas mendapat sorotan adalah musik latar oleh Rock Burwell. Komposer ini menciptakan skor yang pelan-pelan berubah dari melodi romantis menjadi nada sumbang dan mengerikan, mencerminkan degradasi mental Nikki seiring berjalannya waktu. Kepekaan audio ini menjadi salah satu rahasia kegeraman film yang terus membekas setelah menonton.
📊 Fakta Cepat & Statistik
Skor Agregator (per Mei 2026):
| Platform | Skor Kritikus | Skor Penonton |
|---|---|---|
| Rotten Tomatoes | 94% (173 ulasan) | 94% (1.000+ rating) |
| Metacritic | 76/100 “Generally Favorable” | (belum ada rating pengguna) |
| IMDb | 8,2/10 | (13.000+ rating) |
| CinemaScore | A- (langka untuk film horor) |
🧠 Analisis Mendalam: Antara Kejeniusan dan Frustrasi
🩸 Perbandingan Skor Agregator yang Langka
Fenomena paling mencolok dari Obsession adalah keselarasan antara kritikus dan penonton. Di era di mana jurang antara Rotten Tomatoes kritikus dan penonton sering kali lebar, Obsession justru mendapatkan 94% dari kedua belah pihak. Ini menunjukkan bahwa film ini berhasil menembus batasan elitisme sinema sekaligus memuaskan selera penonton umum.
Apa rahasianya? Jawabannya terletak pada kesederhanaan premis yang dieksekusi dengan berani. Seperti tulis Monica Castillo di AV Club: “With a simple premise and one unassuming wish, Barker immerses his audience in a dark scenario that only escalates in tension and carnage. It’s the kind of horror movie that makes a viewer uneasy almost from the start and doesn’t let up”.
😄 Komedi Gelap yang Menyiksa vs. Humor yang Mengganggu
Barker membangun Obsession di atas fondasi humor yang tidak memberi jeda. Dread Central menggambarkan gaya komedinya sebagai “smearing coarse salt into freshly opened wounds”—bukan untuk meringankan beban, tetapi untuk memperparah perasaan tidak nyaman. The Guardian juga mencatat bahwa humor gelap ini ” leads to tense laughs that get stuck in your throat”.
Keberhasilan ini tidak lepas dari latar belakang Barker sebagai kreator komedi absurd di YouTube. Ia paham persis bagaimana membangun momen jenaka yang segera berubah menjadi horor. Ini adalah keseimbangan yang sulit dicapai, tetapi Barker melakukannya dengan kelihaian yang membuatnya disandingkan dengan sineas horor generasi baru.
🧬 Anggaran 1Juta,Tampilanseperti1Juta,Tampilanseperti10 Juta
Obsession adalah bukti nyata bahwa anggaran tidak menentukan kualitas. Dengan biaya produksi $1 juta, Barker menciptakan film yang secara teknis dan visual tidak kalah dari film horor dengan biaya puluhan juta dolar. Rahasianya terletak pada penggunaan lokasi terbatas (terutama apartemen Bear dan toko musik), sinematografi yang cerdas oleh Taylor Clemons, dan penyuntingan yang presisi oleh Barker sendiri.
Yang lebih mengesankan, Barker mengedit filmnya sendiri—sebuah keputusan yang mungkin terkesan “murah”, tetapi justru memastikan visi kreatifnya tidak terdistorsi. Hasilnya adalah film yang terasa personal, autentik, dan tidak seperti produk pabrikan Hollywood.
🎯 Kelemahan: Karakter yang Kurang Dikembangkan dan Akhir yang Membingungkan
Tidak semua kritikus memuji Obsession. Film-Book memberi rating 4/10, menyebut film ini “a one-trick pony” dengan “plot that it cannot properly resolve, making the results frustrating beyond a reasonable doubt”. Kritik ini terutama tertuju pada ending yang tidak sekuat pembukaan.
Selain itu, Megan Lawless dan Cooper Tomlinson yang memerankan teman-teman Bear dan Nikki disebut “intriguing and likable until the movie decides they shouldn’t be respected anymore and, thus, they are killed off to advance the storyline”. Ini menunjukkan kelemahan umum horor indie: karakter pendukung sering kali menjadi “umpan” tanpa pengembangan berarti.
Namun, untuk film debut beranggaran $1 juta, kekurangan ini bisa dimaklumi. Banyak penggemar justru menganggap keputusan untuk “membunuh yang tidak berguna” sebagai bagian dari pesan nihilistik film.
💰 Box Office: Keajaiban $1 Juta vs. Prediksi yang Terlampaui
Obsession adalah keajaiban finansial. Berikut perbandingan sederhana:
- Anggaran produksi: $1 juta
- Biaya akuisisi: $15 juta (oleh Focus Features)
- Pendapatan pembukaan akhir pekan: 16,1 juta(domestik)+7 juta (internasional) = $23 juta global
Dengan kata lain, film ini sudah mencapai impas pada hari ketiga penayangannya. Deadline melaporkan bahwa proyeksi awal hanya $8-9 juta, tetapi Obsession melesat jauh melebihi ekspektasi. Keberhasilan ini tidak hanya menguntungkan Blumhouse dan Focus Features, tetapi juga membuka pintu bagi Barker untuk proyek-proyek masa depan dengan anggaran lebih besar.
🎤 Kutipan Sutradara dan Kritikus
“Obsession initially seems simplistic, and even a bit silly, in its rehash of the age-old monkey’s paw trope. Like the consequences of that ill-considered wish, however, it proves eerily hard to shake.” — Guy Lodge, Variety
“With a simple premise and one unassuming wish, Barker immerses his audience in a dark scenario that only escalates in tension and carnage. It’s the kind of horror movie that makes a viewer uneasy almost from the start and doesn’t let up.” — Monica Castillo, AV Club
“Obsession might be marketed as a thrill-packed cautionary tale, but Barker isn’t letting anyone off the hook here, including himself. Like Bear, the director realizes that he’s unleashed something uniquely awful here. Buyers, and would-be lovers, beware.” — Barry Hertz, The Globe and Mail
“a deliriously pointed cautionary tale about the perils of getting what you want, and an instant contender for classic midnight-movie status.” — Nick Schager, The Daily Beast
❓ FAQ – Obsession (2025)
1. Apakah film ini layak ditonton?
Sangat direkomendasikan bagi penggemar horor yang menyukai pendekatan psikologis dengan sentuhan komedi gelap. Namun, jika Anda tidak tahan dengan adegan kekerasan grafis dan bahasa vulgar yang konstan, sebaiknya hindari.
2. Apakah film ini cocok untuk remaja?
Tidak. Obsession mendapat rating R di AS karena mengandung kekerasan gore yang sangat eksplisit, bahasa kasar, dan konten dewasa lainnya. Tidak disarankan untuk penonton di bawah 17 tahun tanpa pendamping dewasa.
3. Di mana bisa menonton Obsession di Indonesia?
Saat ini, film ini masih tayang di bioskop-bioskop terbatas di AS (rilis luas pada 15 Mei 2026). Distribusi internasional dipegang oleh Universal Pictures International. Belum ada kabar resmi tentang jadwal rilis di Indonesia atau ketersediaannya di platform streaming.
4. Apakah Obsession terkait dengan film “Milk & Serial”?
Secara cerita, tidak. Namun keduanya disutradarai oleh Curry Barker. Milk & Serial adalah film horor found-footage yang dibuat dengan anggaran $800 dan menjadi viral pada tahun 2024. Obsession adalah debut film fiturnya yang pertama.
5. Mengapa skor IMDb dan Rotten Tomatoes berbeda?
IMDb menampilkan rating 8.2/10 dari lebih dari 13.000 pengguna, sementara Rotten Tomatoes memberi 94% berdasarkan persentase ulasan positif. Perbedaan ini terjadi karena metode agregasi yang berbeda. Namun fakta bahwa keduanya sangat tinggi menunjukkan bahwa film ini berhasil memuaskan penggemar horor.
🔮 Kesimpulan & Prediksi
Review film Obsession (2025) dari BAHASFILM menyimpulkan bahwa film ini adalah fenomena langka dalam horor modern: debut sutradara YouTube yang mampu melampaui ekspektasi di semua lini. Dengan anggaran 1juta∗∗,iamenciptakan∗∗pendapatan1juta∗∗,iamenciptakan∗∗pendapatan23 juta di minggu pertama, skor kritikus 94%, skor penonton 94%, dan bahkan CinemaScore A- yang nyaris tidak pernah diraih film horor.
Apakah Obsession sempurna? Tidak. Karakter pendukung terasa dangkal, ending-nya sedikit membingungkan, dan film ini terlalu bergantung pada kejutan darah tanpa pengembangan psikologis yang konsisten. Namun, keberanian Curry Barker untuk merangkul absurditas dan kekerasan adalah nafas segar di tengah horor mainstream yang sering kali terlalu aman.
Prediksi kami: Obsession akan menjadi cult classic dalam waktu dekat, terutama di kalangan penggemar horor yang haus akan sesuatu yang berbeda. Curry Barker juga akan menjadi nama yang diperhitungkan dalam industri horor, dan kita kemungkinan akan melihat proyek berikutnya dengan anggaran yang jauh lebih besar—semoga saja tidak menghilangkan semangat independen yang membuat debutnya begitu mengesankan.
Bagi Anda yang ingin menonton film yang mengganggu, menakutkan, namun juga lucu dengan cara yang salah, Obsession adalah tontonan wajib. Hanya ingat: jangan sampai keinginan Anda sendiri berubah menjadi kutukan.

