Review Film Thunderbolts* (2025): Antara Terapi Kelompok dan Harapan Baru MCU

BAHASFILMReview film Thunderbolts* harus dimulai dengan sebuah pertanyaan: bisakah kumpulan antihero yang paling tidak diinginkan di Marvel justru menjadi tim penyelamat paling menyegarkan di MCU pasca-Endgame? Film arahan Jake Schreier ini adalah jawaban yang mengejutkan atas pertanyaan itu. Dirilis serentak di bioskop pada 2 Mei 2025, film berdurasi 126 menit ini mempertemukan deretan karakter marginal MCU: Yelena Belova (Florence Pugh), Bucky Barnes (Sebastian Stan), Red Guardian (David Harbour), John Walker (Wyatt Russell), Ghost (Hannah John-Kamen), dan Taskmaster (Olga Kurylenko). Dengan Rotten Tomatoes 88% dari kritikus dan 95% dari penonton, IMDb 7,8/10, serta 豆瓣 6,8/10, film yang diproduksi dengan budget US$180 juta** dan meraup **US$382 juta di seluruh dunia ini menjadi salah satu film MCU dengan rating tertinggi sejak Spider-Man: No Way Home—sekaligus kegagalan finansial terbesar MCU di 2025.

Baca Juga : Review Film Spider Forest (2004): Ketika Hutan Menjadi Cermin Trauma yang Memusingkan


Sinopsis – Ketika Sampah Masyarakat Berkumpul untuk Menyelamatkan Diri

Review film Thunderbolts* tidak lengkap tanpa memahami premisnya yang unik. Film ini mengisahkan sekelompok antihero yang dianggap “sampah” oleh pemerintah AS—mereka adalah para “pahlawan” yang gagal, terluka, dan tidak diinginkan. Di bawah manipulasi Valentina Allegra de Fontaine (Julia Louis-Dreyfus), mereka dipertemukan dalam misi yang ternyata adalah jebakan untuk melenyapkan mereka.

Namun di tengah perjalanan, mereka menemukan Bob (Lewis Pullman), seorang pria lembut dan pemalu yang ternyata adalah “Sentry” —manusia dengan kekuatan setingkat dewa namun dikendalikan oleh kepribadian gelap yang menghancurkan. Ketika Sentry kehilangan kendali dan mengancam menghancurkan Manhattan, tim yang tidak pernah kompak ini harus bekerja sama bukan untuk mengalahkan musuh, tetapi untuk menyelamatkan jiwa Bob—dan dalam prosesnya, menyelamatkan diri mereka sendiri.

Seperti ditulis BFI: “Examining grubby, battered, disappointed lives lived in the shadow of thunder gods and patriotic avengers is a fresh, engaging premise for the MCU”.


Tiga Entity Penting di Balik Thunderbolts*

Jake Schreier – Sutradara Arthouse yang Membawa Nafas Baru

Review film Thunderbolts* wajib mengakui bahwa Jake Schreier adalah arsitek di balik kesuksesan kritis ini. Sutradara yang dikenal lewat Robot & Frank (2012) dan serial Beef (2023) ini membawa sensibilitas arthouse ke film superhero. Ia memilih pendekatan yang grounded dan emosional, mengutamakan pengembangan karakter di atas spektakel. Schreier juga bersikeras menggunakan aksi praktis sebanyak mungkin—termasuk adegan Florence Pugh melompat dari gedung tertinggi kedua di dunia, Menara Merdeka 118 di Kuala Lumpur.

Florence Pugh – Jantung Emosional Film

Jika Anda mencari review film yang jujur, harus diakui bahwa Florence Pugh adalah alasan utama film ini begitu berkesan. BBC menyebutnya sebagai pusat yang “charismatic”, sementara Reelviews menulis bahwa ia memberikan “a deeply depressed woman going through the motions as an assassin while teetering on the brink of what she calls ‘the void'”. Pugh membawa gravitas emosional yang jarang ditemukan dalam film superhero—termasuk adegan dengan David Harbour yang disebut sebagai “as wrenching as anything in a traditional drama”.

Tanda Bintang (*) – Rahasia yang Menjadi Perbincangan

Review film Thunderbolts* tidak lengkap tanpa membahas tanda bintang (*) di judul. Tanda ini menjadi misteri yang viral sebelum rilis. Tanpa memberikan spoiler, tanda bintang tersebut terungkap dalam adegan setelah kredit dan menjadi salah satu momen paling diperbincangkan dari film ini—sebuah pengakuan cerdas tentang status tim ini di MCU.


Fakta Cepat dan Angka Penting

Berikut data kunci untuk memperkuat review film Thunderbolts* Anda:

  • Tanggal rilis: 2 Mei 2025 (AS) / 30 April 2025 (internasional)
  • Sutradara: Jake Schreier
  • Penulis skenario: Eric Pearson & Joanna Calo
  • Durasi: 126 menit
  • Rating usia: PG-13
  • Anggaran produksi: US$180 juta
  • Box office global: US$382,4 juta
  • Skor Rotten Tomatoes: 88% kritikus / 95% penonton
  • Skor Metacritic: 68/100
  • Skor IMDb: 7,8/10
  • Skor豆瓣: 6,8/10

Analisis – Antara Terapi Kelompok dan Harapan yang Tak Terduga

Kelebihan – Ketika Karakter Lebih Penting dari Spektakel

Review film Thunderbolts* dari berbagai kritikus sepakat bahwa kekuatan utama film ini adalah pendekatannya yang berpusat pada karakter. BBC menyebutnya sebagai “the most refreshing MCU offering in years” karena memilih menjadi “scrappy, scruffy-looking, down-to-earth fun” alih-alih epik multiverse. BFI menambahkan bahwa film ini “prioritises its characters over spectacle”.

Yang membuat film ini istimewa adalah tema kesehatan mental yang diangkat dengan tulus. Setiap anggota tim memiliki luka psikologis yang nyata—Yelena berjuang melawan “the void” (kekosongan eksistensial), Bucky bergulat dengan masa lalu sebagai Winter Soldier, John Walker menghadapi kegagalan sebagai Captain America palsu. Puncaknya adalah saat mereka menyelesaikan konflik bukan dengan kekerasan, tetapi dengan empati dan pelukan kelompok—sebuah akhir yang oleh Reelviews disebut sebagai “subverts expectations”.

Kekurangan – Ketika Pendekatan Karakter Mengorbankan Aksi

Namun, review film Thunderbolts* yang jujur harus mengakui kelemahan utamanya: aksi yang kurang maksimal. Seorang penonton menulis bahwa “动作戏确实稍微有些缺憾,一来是动作戏其实不多,二来大概由于演员不是练块的,动作偶尔会感觉不是特别干练”. Film ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk dialog dan pengembangan karakter daripada adegan pertarungan—sebuah pilihan yang mungkin mengecewakan penonton yang mencari tontonan aksi murni.

Awal film yang lambat juga menjadi kritik umum. Seorang penonton menulis bahwa “前半个小时的预热真的难熬,也没说什么正经的事情”. Beberapa penonton juga mengeluhkan bahwa karakter-karakternya kurang menarik dan “这些角色不是很出彩,毕竟都比较边缘”.


Fakta Unik di Balik Layar

Review film Thunderbolts* tidak lengkap tanpa cerita menarik di baliknya:

  • Produksi film ini tertunda karena pemogokan WGA dan SAG 2023—sebuah set raksasa terbengkalai selama setahun penuh sebelum syuting dimulai
  • Florence Pugh melakukan sendiri adegan melompat dari Menara Merdeka 118—gedung tertinggi kedua di dunia
  • Film ini adalah film MCU dengan rating tertinggi sejak Spider-Man: No Way Home (2021)
  • Meskipun sukses secara kritis, film ini adalah film superhero dengan pendapatan terendah di 2025—hanya US$382 juta dari budget US$180 juta
  • Tanda bintang (*) pada judul menjadi misteri viral yang terungkap di adegan post-credits

FAQ – Pertanyaan Umum tentang Thunderbolts*

Apakah Thunderbolts* layak ditonton?

Sangat layak—dengan catatan. Jika Anda bosan dengan film superhero yang mengandalkan spektakel dan multiverse, Thunderbolts* adalah angin segar yang mengutamakan karakter dan emosi. Namun jika Anda mencari aksi non-stop ala Avengers, Anda mungkin akan kecewa dengan irama yang lebih lambat dan aksi yang terbatas. Rotten Tomatoes 88% dan IMDb 7,8 berbicara banyak—ini adalah salah satu film MCU terbaik pasca-Endgame.

Apakah film ini lebih baik daripada film MCU lainnya?

Menurut kritikus, ya. Film ini mendapat rating tertinggi sejak Spider-Man: No Way Home. Namun secara finansial, ini adalah kegagalan terbesar MCU di 2025—sebuah kontradiksi yang menarik antara kualitas dan performa komersial.

Di mana bisa menonton Thunderbolts*?

Jawaban: Film ini telah tersedia untuk digital mulai Juli 2025 dan rilis 4K & Blu-ray pada 29 Juli 2025. Untuk penonton Indonesia, cek ketersediaan di platform streaming berbayar atau toko fisik. Pantau terus BAHASFILM untuk info terbaru.


Kesimpulan – Terapi Kelompok Terbaik yang Pernah Dibuat Marvel

Review film Thunderbolts* dari BAHASFILM sampai pada kesimpulan: ini adalah film yang berani mengambil risiko—dan sebagian besar berhasil. Dengan skor Rotten Tomatoes 88%, IMDb 7,8, dan pujian luas atas pendekatan karakternya, film ini adalah bukti bahwa MCU masih bisa berinovasi di tengah kejenuhan superhero.

Kekuatan film ini ada pada pengembangan karakter yang mendalamtema kesehatan mental yang tulus, dan akting memukau Florence Pugh. Kelemahannya: aksi yang terbatasawal yang lambat, dan box office yang mengecewakan—sebuah pengingat bahwa kualitas tidak selalu menjamin kesuksesan komersial.

Namun bagi pecinta film yang mengutamakan cerita dan karakter di atas segalanyaThunderbolts* adalah tontonan wajib. Ia mengingatkan kita bahwa pahlawan sejati bukanlah mereka yang memiliki kekuatan terbesar—melainkan mereka yang berani menghadapi kegelapan dalam diri sendiri.

Prediksi ke depan: Meskipun box office mengecewakan, kesuksesan kritis film ini kemungkinan akan mengarah pada sekuel atau spin-off—terutama mengingat adegan post-credits yang menggoda. Tim antihero ini mungkin adalah masa depan MCU yang lebih grounded dan emosional. Pantau terus BAHASFILM untuk ulasan film-film seru lainnya!