BAHASFILM – Review film Masters of the Universe harus dimulai dengan sebuah pertanyaan: akankah adaptasi live-action dari waralaba ikonik 1980-an ini berhasil menghidupkan kembali “kekuatan Grayskull” atau malah tenggelam dalam ekspektasi yang terlalu tinggi? Film arahan Travis Knight (Bumblebee, Kubo and the Two Strings) ini rilis di bioskop pada 5 Juni 2026 melalui Amazon MGM Studios. Dibintangi Nicholas Galitzine sebagai Pangeran Adam/He-Man dan Jared Leto sebagai Skeletor, film berdurasi 132 menit ini hadir dengan anggaran US$200 juta** namun hanya meraup **US$112,5 juta di box office global. Dengan skor IMDb 6,9/10, Rotten Tomatoes 74% dari kritikus dan 86% dari penonton, film ini menjadi reboot paling sukses secara kritis dalam sejarah waralaba—sekaligus salah satu yang paling kontroversial.
Baca Juga : Review Film The Bow (2005): Cinta, Obsesi, dan Panah di Atas Perahu Tua
Sinopsis – Kembali ke Eternia Setelah 15 Tahun
Review film Masters of the Universe tidak lengkap tanpa memahami alur yang menjadi fondasi petualangan ini. Berlatar di planet Eternia, kisah dimulai ketika Skeletor (Jared Leto) menyerbu kerajaan dan menguasai Eternos, menangkap King Randor (James Purefoy), Queen Marlena (Charlotte Riley), dan sekutu Adam. Pangeran Adam—yang masih anak-anak—dikirim ke Bumi melalui portal bersama Sword of Power, tetapi kehilangan pedang sakti itu dalam perjalanan.
15 tahun kemudian, Adam (Nicholas Galitzine) tumbuh menjadi pemuda kikuk yang bekerja di HR dan masih terobsesi menemukan pedangnya. Ketika ia akhirnya bersatu kembali dengan pedang itu, Adam harus kembali ke Eternia, bersekutu dengan Teela (Camila Mendes) dan Man-at-Arms Duncan (Idris Elba), serta menerima takdirnya sebagai He-Man—paling powerful man in the universe. Yang terjadi selanjutnya adalah film kejar-kejaran di mana Skeletor berusaha merebut pedang Adam dan menghancurkan semua oposisi.
Tiga Entity Penting di Balik Masters of the Universe
Travis Knight – Sutradara yang Tahu Cara Menghormati Warisan
Review film Masters of the Universe wajib mengakui bahwa Travis Knight adalah pilihan tepat untuk membawa He-Man ke layar lebar. Sutradara yang sebelumnya sukses dengan Bumblebee dan Kubo and the Two Strings ini adalah penggemar sejati waralaba. Knight memilih pendekatan “winking”—menyadari absurditas materi sumber tetapi tetap menghormatinya. Hasilnya adalah film yang oleh Empire disebut sebagai “delightfully silly film for a perfectly stupid franchise”.
Nicholas Galitzine dan Jared Leto – Dua Kutub yang Saling Melengkapi
Jika Anda mencari review film yang jujur, harus diakui bahwa Nicholas Galitzine adalah revelation. Aktor yang sebelumnya dikenal lewat Red, White & Royal Blue ini berhasil memadukan komedi dan fisik superhero dengan sempurna. Sementara Jared Leto sebagai Skeletor menjadi sorotan utama—dengan aksen Britania yang berlebihan dan penampilan teatrikal yang membuatnya “unrecognizable” dan “the best performance he’s done in years”.
Waralaba yang Akhirnya Mendapatkan Keadilan
Review film Masters of the Universe tidak lengkap tanpa menyebut bahwa ini adalah film dengan rating tertinggi dalam sejarah waralaba—mengalahkan The Secret of the Sword (60%) dan versi 1987 (21%). Setelah 41 tahun, He-Man akhirnya mendapatkan adaptasi yang layak—meskipun tidak sempurna.
Fakta Cepat dan Angka Penting
Berikut data kunci untuk memperkuat review film Masters of the Universe Anda:
- Tanggal rilis: 5 Juni 2026 (AS) / 3 Juni 2026 (internasional)
- Sutradara: Travis Knight
- Penulis skenario: Christopher John Butler, Aaron & Adam Nee, Dave Callaham
- Durasi: 132 menit (2 jam 12 menit)
- Rating usia: PG-13
- Anggaran produksi: US$200 juta
- Box office global: US$112,5 juta
- Skor IMDb: 6,9/10 (dari 38.000+ suara)
- Rotten Tomatoes: 74% kritikus / 86% penonton
- Metacritic: 52/100
- Platform streaming: Prime Video mulai 22 Juli 2026
Pemain utama:
- Nicholas Galitzine sebagai Pangeran Adam / He-Man
- Jared Leto sebagai Skeletor
- Camila Mendes sebagai Teela
- Idris Elba sebagai Man-at-Arms Duncan
- Alison Brie sebagai Evil-Lyn
- Morena Baccarin sebagai Sorceress
- James Purefoy sebagai King Randor
Analisis – Antara Campy yang Menyenangkan dan Narasi yang Kusut
Kelebihan – Campy, Berwarna, dan Sangat Menghibur
Review film Masters of the Universe dari berbagai kritikus sepakat bahwa kekuatan utama film ini adalah kesenangannya yang tulus. TechRadar menyebutnya sebagai “campy and kaleidoscopic thrill ride” yang “earns numerous points for being as authentic a portrayal of the Mattel-owned property as you’re ever likely to see”. Film ini tidak malu menjadi absurd—sebuah keputusan yang justru menjadi nilai tambah.
Adegan aksi juga mendapat pujian. ComingSoon menulis bahwa Knight “brings a weight to these fight scenes that’s sorely missing from recent blockbusters”. Skor glam-rock yang menghentak dan visual yang penuh warna menciptakan pengalaman bioskop yang sempurna untuk musim panas.
Nicholas Galitzine menjadi bintang yang tak terduga. ScreenRant memuji caranya “gives Adam a genuine sweetness that directly challenges the ideas of masculinity characters like He-Man seemed to uphold for so long”. Sementara Jared Leto mencuri perhatian sebagai Skeletor yang “preening, fatuous weirdo”—sebuah interpretasi yang mungkin tidak menakutkan, tetapi sangat menghibur.
Kekurangan – Terlalu Banyak Fan Service, Terlalu Sedikit Narasi
Namun, review film Masters of the Universe yang jujur harus mengakui kelemahan utamanya: fan service yang berlebihan. Reelviews menulis bahwa referensi dan Easter egg yang terlalu sering membuat “the uninitiated feel a little unwelcome”. Bagi yang tidak akrab dengan waralaba, film ini terasa membingungkan dan tidak ramah.
Karakter Adam juga menjadi masalah. Ia digambarkan sebagai “hapless doofus” yang “has no real plan to reclaim his throne”—hanya terseret oleh arus peristiwa. Skeletor, meskipun menghibur, tidak pernah terasa mengancam—ia lebih mirip Dr. Evil daripada penjahat yang benar-benar ditakuti. Reelviews menyebut ini sebagai “the most glaring issue” yang mengancam kredibilitas film.
Alison Brie sebagai Evil-Lyn juga underused, sementara beberapa adegan CGI dianggap “clunky” dan plot yang terlalu dapat diprediksi menjadi kritik umum.
Fakta Unik di Balik Layar
Review film Masters of the Universe tidak lengkap tanpa cerita menarik di baliknya:
- Film ini adalah film pertama dalam waralaba yang mendapat rating “Certified Fresh” di Rotten Tomatoes
- Proyek ini telah gagal berkembang selama hampir 40 tahun sejak versi 1987 yang dibintangi Dolph Lundgren
- Travis Knight memberikan pidato penuh gairah sebelum pemutaran perdana di New York tentang cintanya pada karakter He-Man
- Film ini tayang di Prime Video hanya 7 minggu setelah rilis bioskop—melewatkan jendela rental digital berbayar
- Camila Mendes menggoda di CinemaCon bahwa film ini memiliki “so many muscles — more muscles than is necessary”
FAQ – Pertanyaan Umum tentang Masters of the Universe
Apakah Masters of the Universe layak ditonton?
Sangat layak—dengan catatan. Jika Anda penggemar waralaba He-Man atau mencari film blockbuster yang tidak malu menjadi campy dan menyenangkan, film ini adalah tontonan wajib. Namun jika Anda tidak akrab dengan materi sumber atau mencari epik fantasi yang serius, Anda mungkin akan bingung dan kecewa. IMDb memberi rating 6,9 dan Rotten Tomatoes 74%—cukup solid untuk film sekelas ini.
Apakah film ini lebih baik daripada versi 1987?
Jauh lebih baik. Versi 2026 mendapat 74% di Rotten Tomatoes dibandingkan versi 1987 yang hanya 21%. Kritikus memuji akting, visual, dan kesetiaan pada materi sumber—semua area di mana versi 1987 gagal.
Di mana bisa menonton Masters of the Universe?
Jawaban: Film ini mulai streaming di Prime Video pada 22 Juli 2026. Untuk penonton Indonesia, akses melalui langganan Prime Video dengan subtitle Indonesia yang tersedia.
Kesimpulan – Campy yang Berhasil, Meski Tidak Sempurna
Review film Masters of the Universe dari BAHASFILM sampai pada kesimpulan: ini adalah film yang tahu persis apa dirinya—dan merangkulnya dengan sepenuh hati. Dengan skor IMDb 6,9, Rotten Tomatoes 74%, dan status sebagai film dengan rating tertinggi dalam sejarah waralaba, film ini adalah kemenangan bagi para penggemar setia yang telah menunggu selama 41 tahun.
Kekuatan film ini ada pada energi yang tak terbendung, akting karismatik Nicholas Galitzine dan Jared Leto, serta kemampuan menghormati absurditas materi sumber tanpa malu-malu. Kelemahannya: fan service yang berlebihan, karakter yang kurang berkembang, dan nada yang kadang tidak konsisten antara campy dan serius.
Namun bagi pecinta blockbuster yang tidak malu menjadi konyol, penggemar He-Man, atau siapa pun yang ingin tersenyum selama dua jam lebih, Masters of the Universe adalah tontonan yang layak. Ia mengingatkan kita bahwa terkadang, yang kita butuhkan bukanlah epik yang serius—melainkan hiburan yang tulus dan tanpa pretensi.
Prediksi ke depan: Dengan box office yang mengecewakan (US$112 juta dari budget US$200 juta), masa depan waralaba ini di layar lebar masih belum pasti. Namun dengan kesuksesan kritis dan performa streaming yang kuat di Prime Video, sekuel mungkin masih mungkin terjadi—tergantung pada seberapa besar antusiasme penonton di rumah. Pantau terus BAHASFILM untuk ulasan film-film seru lainnya!

