Review Film “Wuthering Heights” (2026): Cinta Toksik, Adegan Panas, dan Perpecahan antara Kritikus dan Penonton

BAHASFILMReview film Wuthering Heights (2026) langsung menjadi kontroversi terbesar industri hiburan tahun ini. Adaptasi sutradara Emerald Fennell yang dibintangi Margot Robbie dan Jacob Elordi ini dirilis tepat pada 13 Februari 2026 menjelang Hari Valentine. Hasilnya? Film ini mencetak **$82 juta di akhir pekan perdana global** (termasuk $40 juta di AS), dan total pendapatan globalnya kini mencapai $241 juta—menjadikannya film terlaris tahun 2026. Namun di sisi lain, ia memecah belah kritikus dan penggemar sastra klasik.

Baca Juga : Review Film The Breadwinner (2026): Komedi Keluarga yang Perangkap Kritikus dan Publik


Sinopsis – Badai Gairah di Tengah Padang Rumput Yorkshire

Cerita mengikuti Catherine “Cathy” Earnshaw (Margot Robbie) dan Heathcliff (Jacob Elordi), dua kekasih yang dipertemukan sejak kecil di rumah pedesaan terpencil Wuthering Heights. Namun, berbeda dengan novel asli Emily Brontë yang diterbitkan 1847, Fennell melakukan perubahan besar: Cathy di sini digambarkan berusia tiga puluhan, bukan remaja. Demi stabilitas finansial, ia memilih menikahi tetangga kaya bernama Edgar Linton (Shazad Latif) dan menolak cintanya pada Heathcliff.

Akibatnya, Heathcliff kabir dalam kesedihan dan kembali sebagai pria kaya yang penuh dendam. Kemudian terciptalah pusaran kecemburuan, balas dendam, dan obsesi yang meluluhlantakkan dua keluarga sekaligus.

Penggemar novel mungkin akan terkejut. Bukan hanya karena perubahan usia atau nasib Cathy yang tidak meninggal saat melahirkan, tetapi karena film ini dengan sengaja menghilangkan lapisan naratif kedua generasi yang ada di buku asli. Fokus semata pada Cathy dan Heathcliff membuat segalanya terasa lebih linear dan padat—meskipun kehilangan kompleksitas sosiologis.


Tiga Entity Penting yang Menentukan Arah Film

Setiap review film yang kredibel harus mengidentifikasi pilar utama di balik layar. Wuthering Heights bertumpu pada tiga entitas berikut:

  1. Emerald Fennell (Sutradara/Skenario) – Pemenang Oscar untuk Promising Young Woman (2020) dan sutradara Saltburn (2023), Fennell dikenal karena gaya visual yang berani, provokatif, dan seringkali kontroversial. Diadaptasinya Wuthering Heights, ia memilih jalur yang sama sekali tidak aman: mengubah novel gotik menjadi fantasi BDSM modern dengan sentuhan pop. Kritikus seperti Peter Bradshaw (The Guardian) menyebutnya “emotionally hollow, bodice-ripping misfire”. Tapi penggemar justru memuji karena “gaya visualnya yang kaya dan chemistry mematikan”.
  2. Margot Robbie sebagai Catherine “Cathy” Earnshaw – Aktris Australia berusia 35 tahun ini bukan Cathy yang polos. Robbie menampilkan belle of the ball yang histeris, ekspresif, dan teatrikal. The Times of India memuji kemampuannya menangkap entitlement dan inner turmoil, walau ada yang merasa pembawaannya terlalu “dewasa” untuk karakter yang impulsif.  Dengan riasan berlebihan dan korset ketat, Cathy versi Fennell adalah perempuan yang terjebak antara kewajiban dan keinginan.
  3. Jacob Elordi sebagai Heathcliff – Aktor yang dikenal lewat Euphoria dan Saltburn ini menuai pujian sekaligus kritik. Pujian: aktingnya diam namun menyala, seperti tertulis di Times of India, “surprisingly restrained and mature”. Kritik: ia adalah aktor kulit putih yang memerankan karakter yang di novel digambarkan sebagai “dark-skinned gipsy” (Roma) dan disebut-sebut sebagai imigran kulit hitam oleh beberapa pakar. Fennell membela pilihan ini dengan mengatakan bahwa Elordi terlihat seperti ilustrasi di novel versi yang ia baca pertama kali. Ini memicu pertarungan budaya tentang representasi ras di media.

Selain trio ini, Hong Chau sebagai Nelly DeanAlison Oliver sebagai Isabella Linton, dan Martin Clunes sebagai Mr. Earnshaw ikut memberikan warna kuat.

“What I can say is I’m making a version of it. There’s a version that I remembered reading that isn’t quite real. And there’s a version where I wanted stuff to happen that never happened. And so it is Wuthering Heights, and it isn’t.” — Emerald Fennell, wawancara dengan majalah Empire (Februari 2026) 


Fakta Cepat dan Statistik Kunci Wuthering Heights (2026)

Data berikut memperkuat review film Wuthering Heights sebagai fenomena unik:

  • Durasi: 136 menit | MPAA Rating: R (konten seksual eksplisit, kekerasan ringan, bahasa)
  • Anggaran produksi: $80 juta (Warner Bros. membayar hak distribusi sebesar itu)
  • IMDb Rating: 6,1/10 (berdasarkan 73.000+ suara)
  • Rotten Tomatoes (Kritik): 63% (menurun dari debut 71% di awal Februari) vs Audience Score: 84%
  • Metacritic: 60/100 (indikasi mixed or average)
  • CinemaScore: B dari penonton malam pembuka dengan 51% “definitely recommend”
  • Box Office Global (Februari – Juni 2026): $241 juta, menjadikannya film terlaris keenam secara global hingga Juni 2026
  • Performa di China: $2,49 juta (merosot karena resep lokal yang dingin)

Analisis Mendalam – Antara Genius Visual dan Kekosongan Naratif

Yang Bekerja – Chemistry Mematikan dan Sinematografi Mewah

Kekuatan utama yang disepakati berbagai review film adalah chemistry antara Robbie dan Elordi. Adegan-adegan mereka—mulai dari ciuman di tengah hujan hingga konfrontasi penuh amarah—terasa begitu intens hingga penonton seperti ikut merasakan denyut nadi hubungan toksik mereka. Seperti diulas Times of India, kimia mereka “moves beyond surface-level seduction, gravitating toward shared anguish rather than pride or dominance”.

Sinematografi Linus Sandgren (pemenang Oscar lewat La La Land) juga menjadi pujian tersendiri. Padang rumput Yorkshire yang kelabu, perbukitan yang diselimuti kabut, dan rumah megah yang remang-remang—semuanya ditangkap dengan kamera yang bergerak mengikuti emosi karakter, bukan sebaliknya. Beberapa kritikus menyebut bahwa tanpa Sandgren, film ini akan kehilangan 60% daya tariknya.

Yang Gagal – Adaptasi Paling “Hampa” yang Pernah Ada

Kritik pedas paling tajam datang dari mereka yang menganggap Fennell terlalu sibuk dengan estetika hingga lupa bercerita. Gregory Nussen dari ScreenRant memberikan 4/10, menulis bahwa film ini “flavorless, skin-deep and oddly staid”. Ia mengkritik bahwa ketidakpedulian terhadap ketepatan ras dan pengabaian lapisan sosiologis novel asli justru menyingkap kegagalan Fennell dalam memahami akar penderitaan Heathcliff.

Independent bahkan lebih keras: memberikan satu bintang dan menyebutnya “astonishingly bad adaptation… like a limp Mills & Boon”. Robbie dan Elordi dinilai “almost pushed to the border of pantomime”, dan adegan BDSM terasa seperti “arthouse Carry On” dengan close-up putih telur yang janggal.

Kritik berulang lainnya: musik. Meski Charli XCX menciptakan album soundtrack, banyak kritikus yang menganggapnya mengganggu dan anakronistis. Irama synth pop yang ceria terasa tidak selaras dengan setting abad ke-19, menciptakan disonansi yang tidak membantu atmosfer.

Kontroversi Eksplisit – BDSM di Bioskop Valentine

Faktor paling mencolok yang membedakan adaptasi ini dari semua versi sebelumnya adalah eksplisitnya adegan seksual. Britannica mencatat bahwa novel asli “has virtually no depictions of sexuality”, tetapi film ini menampilkan masturbasi, sadomasochism, ranjang telur cair, dan adegan seks di tengah hujan. Pembukaan film bahkan memperlihatkan seorang biarawati yang bergairah melihat seorang pecandu narkoba ereksi. 

Brontë Parsonage Museum malah membela pendekatan ini, mengatakan bahwa novel asli juga “shocking people for 178 years” dan kontroversi seks saat ini adalah gema dari kontroversi moral saat buku itu pertama kali diterbitkan. Namun bagi sebagian kalangan—termasuk guru sastra Inggris—film ini terlalu jauh menyimpang hingga tidak layak diputar di ruang kelas manapun.


Box Office – Antara Kesuksesan Komersial dan Peringatan Industri

Siapa pun yang meragukan daya tarik Margot Robbie dan Emerald Fennell harus melihat angka: $82 juta** di akhir pekan perdana, melampaui prediksi genre roman yang rata-rata hanya seperempat dari angka itu. **$241 juta secara global hingga Juni 2026, menjadikannya film terlaris keenam tahun ini.

Namun, ada peringatan di balik gemerlap itu. Penurunan pendapatan pekan kedua sebesar 69% mengindikasikan bahwa word-of-mouth negatif mulai terasa. China hanya menyumbang $2,49 juta, jauh di bawah ekspektasi. Selain itu, 51% penonton hanya memberikan rekomendasi setengah hati, menunjukkan bahwa meskipun menonton, mayoritas tidak akan mengajak teman.


FAQ – Pertanyaan Paling Sering Diajukan tentang Wuthering Heights (2026)

Apakah film ini layak ditonton oleh penggemar novel Emily Brontë?

Jika Anda menginginkan adaptasi yang setia dan menghormati teks asli, jauhi film ini. Fennell sendiri mengakui bahwa ia membuat “version that I remembered reading that isn’t quite real” dan “wanted stuff to happen that never happened”. Jika Anda ingin tontonan sensual yang berani dan sinematografi memukau, silakan. Tapi jangan harap menemukan kedalaman psikologis novel asli.

Apakah adegan BDSM terlalu berlebihan?

Tergantung toleransi. Film ini diberi rating R bukan tanpa alasan. Adegan masturbasi di rawa, ranjang telur, dan kekerasan seksual ringan memang ada, tetapi tidak sampai ke tingkat pornografi seperti yang dikhawatirkan beberapa kritikus. Namun, jika Anda terbiasa dengan film roman mainstream yang steril, Anda akan terkejut.

Bagaimana perbandingannya dengan adaptasi sebelumnya?

Secara kritis, yang terburuk kedua setelah versi 1992 (31%). Dari segi penonton, ini menyamai serial 2009 (84%)—di bawah klasik Laurence Olivier 1939 (96% kritik, 85% penonton). Namun, tidak ada adaptasi sebelumnya yang berani sejauh ini dalam hal seksualitas dan anakronisme visual.


Kesimpulan – Antara Penghinaan Sastra dan Sensasi Layar Lebar

Review film Wuthering Heights (2026) mengantar kita pada kesimpulan yang sulit: film ini sukses besar secara finansial tetapi menghancurkan warisan sastra di mata banyak kritikus dan penggemar. Bagi sebagian orang, ini adalah perayaan kebebasan artistik—Fennell berani keluar dari bayang-bayang Brontë dan menciptakan dunia cinta beracun yang sangat modern. Bagi sebagian lain, ini adalah tamparan bagi para pecinta sastra, yang melihat novel tentang rasisme dan kelas sosial direduksi menjadi sekadar tontonan sensual tanpa pesan.

Ke depan, Wuthering Heights (2026) akan dikenang sebagai tonggak perpecahan dalam adaptasi sastra klasik. Ia membuktikan bahwa studio tidak takut bermain api selama ada bintang sekelas Margot Robbie dan Jacob Elordi. Ia juga mengingatkan kita bahwa kritikus dan penonton bisa hidup di dua planet berbeda.

Apakah film ini layak ditonton di bioskop? Jika Anda mencari pengalaman sinematik yang megah, sensual, dan beraniya. Dan Anda mencari cerita yang menghormati sumbernya dan menggugah pikirantidak. Jika Anda masih bingung, tonton trailernya dulu. Tapi ingat, seperti kata Cathy: “Whatever our souls are made of, his and mine are the same… but I cannot marry him.” Kadang, cinta yang paling kuat adalah yang paling tidak bisa disatukan.