BAHASFILM – Review film Lee Cronin’s The Mummy (2026) menunjukkan jurang pemisah yang dalam antara kritikus dan penonton. Dirilis pada 17 April 2026 oleh Warner Bros. dan New Line Cinema, adaptasi horor supernatural ini menuai skor 46% dari kritikus di Rotten Tomatoes, namun mendapat apresiasi 76% dari penonton umum. Menurut BAHASFILM, film yang diproduksi oleh kolaborasi raksasa horor Atomic Monster dan Blumhouse ini berhasil mencatatkan pendapatan global US$34,4 juta di akhir pekan pembukaannya, langsung menutup biaya produksinya yang hanya US$22 juta.
Baca Juga : BahasFilm: Review Film Original Sin (2001)
🎬 Sinopsis: Mumi dalam Wajah Sendiri
Cerita mengikuti Charlie Cannon (Jack Reynor) dan istrinya Larissa (Laia Costa), yang delapan tahun lalu kehilangan putri mereka, Katie (Natalie Grace), di gurun Mesir. Ketika Katie tiba-tiba kembali tanpa penjelasan logis, kebahagiaan keluarga itu berubah menjadi kengerian. Gadis yang kembali bukanlah Katie yang dulu; ia membawa serta entitas kuno yang perlahan merasuki dan menghancurkan keluarganya dari dalam.
“The young daughter of a journalist disappears into the desert without a trace—eight years later, the broken family is shocked when she is returned to them, as what should be a joyful reunion turns into a living nightmare.” — Sinopsis resmi Warner Bros.
Tagline film ini sangat singkat namun mengerikan: “For dust you are.”
🎭 Pemeran Utama: Tiga Entitas Penting yang Menjiwai
Entity penting #1 – Jack Reynor sebagai Charlie Cannon. Reynor (Midsommar, The Perfect Couple) membawa bobot emosional seorang ayah yang hancur namun gigih. Penampilannya menjadi jangkar dramatis di tengah kekacauan supernatural yang terjadi.
Entity penting #2 – Laia Costa sebagai Larissa. Costa (Victoria) memerankan ibu yang terjebak antara cinta buta pada anaknya dan ketakutan akan apa yang sebenarnya telah kembali. Chemistry-nya dengan Reynor menjadi inti ketegangan psikologis film ini.
Entity penting #3 – May Calamawy (Moon Knight, Ramy) sebagai pemeran pendukung kunci yang membawa nuansa mitologi Mesir ke dalam cerita. Kehadirannya sebagai penghubung antara dunia modern dan kutukan kuno memberi lapisan eksposisi yang kaya.
Pemeran lain meliputi Veronica Falcón (Queen of the South), Natalie Grace sebagai Katie, Hayat Kamille (Vikings: Valhalla), dan May Elghety (Clash).
📊 Fakta Cepat & Statistik Box Office
Dengan modal kecil US$22 juta, film ini sudah untung secara akuntansi sejak akhir pekan pertama. Dibandingkan pendahulunya yang megah (The Mummy 1999: US$417,6 juta), pendekatan horor low-budget terbukti lebih kalkulatif dan aman secara finansial.
🧠 Analisis Mendalam: Mengapa Film Ini Memecah Belah Penonton
🎭 Skor Kritikus vs. Penonton: Jurang yang Mencolok
Fenomena paling menarik dari film ini adalah jurang penilaian antara kritikus profesional dan penonton biasa.
| Platform | Skor Kritikus | Skor Penonton |
|---|---|---|
| Rotten Tomatoes | 46% (hingga 22 April 2026) | 76% |
| IMDb | – | 6,5/10 |
| CinemaScore | – | C+ |
Kritikus seperti Donald Clarke dari The Irish Times justru memberikan ulasan positif, menyebut film ini “sangat mengasyikkan bagi mereka yang suka horor alurnya cepat dan bikin mual.” Namun, banyak kritikus lain menyoroti durasi 134 menit yang dinilai terlalu panjang, inkonsistensi nada, dan ketergantungan berlebihan pada elemen gore.
“The mummy haunting this family is their own missing daughter who is ‘alive’ in name only.” — Nerdist
🧬 Keberanian Mematahkan Formula: Lebih Dekat ke Evil Dead Rise
Lee Cronin, yang sebelumnya sukses dengan Evil Dead Rise (2023), dengan sadar menolak tawaran membuat sekuel langsung dari film tersebut demi mengambil risiko dengan The Mummy.
“The risk was not making a sequel to my last movie, because that was really easy for me to do. I said no, ultimately, because I wanted to do something else.” — Lee Cronin kepada SFX Magazine
Pendekatan Cronin jelas berbeda: tidak ada petualangan ala Brendan Fraser, tidak ada aksi blockbuster ala Tom Cruise. Yang ada adalah horor possession yang lambat, atmosferik, dan penuh darah. Banyak kritikus menyebut film ini terlalu mirip dengan Evil Dead Rise—hanya mengganti zombie dengan mumi—tanpa membawa sesuatu yang benar-benar baru.
Namun, bagi penonton yang haus akan gore yang kreatif dan horor psikologis, pendekatan ini justru terasa segar.
💰 Strategi Produksi: Keajaiban Blumhouse-Atomic Monster
Kolaborasi antara Jason Blum (Blumhouse) dan James Wan (Atomic Monster) setelah merger mereka pada 2024 terbukti menjadi mesin uang yang efisien. Dengan modal US$22 juta, film ini menghasilkan US$34,4 juta di akhir pekan pertama—profitabel sejak hari ketiga.
Ini adalah kelanjutan dari strategi Blumhouse yang terkenal: horor dengan modal kecil, potensi untung besar. Tidak perlu menyaingi pendapatan film Mummy sebelumnya; cukup menghasilkan keuntungan yang konsisten.
🌍 Setting yang Eksotis: Aswan, Mesir
Berbeda dari film Mummy sebelumnya yang cenderung menggunakan setting global, Cronin memusatkan cerita di Aswan, Mesir, di mana sebuah keluarga secara tidak sengaja mengganggu piramida tersembunyi di bawah rumah mereka. Penggunaan lokasi eksotis ini memberi nuansa mistis dan autentik yang jarang ditemukan di film horor mainstream.
🏆 Prestasi dan Pencapaian
Meskipun tidak mendominasi box office, film ini berhasil:
- Menempati posisi #3 di box office domestik di akhir pekan pembukaannya, di belakang The Super Mario Galaxy Movie dan Project Hail Mary.
- Masuk jajaran 25 besar film tahun 2026 di box office domestik.
- Mengalahkan ekspektasi internasional dengan tambahan US$20,5 juta dari pasar luar AS.
- Mendapatkan liputan cover di majalah FANGORIA #31, menandakan pengakuan dari komunitas horor.
❓ FAQ – Lee Cronin’s The Mummy (2026)
1. Apakah film ini terhubung dengan Evil Dead universe?
Ada petunjuk halus. Cronin menyebutkan bahwa nama seorang profesor arkeologi di film ini bisa jadi merujuk pada hubungan keluarga dengan karakter dari Evil Dead Rise. Namun, ia menegaskan bahwa crossover penuh tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
2. Apakah film ini layak ditonton di bioskop?
Tergantung selera. Jika Anda menyukai horor gore yang eksplisit dan pendekatan lambat ala Evil Dead Rise, sangat direkomendasikan. Namun, jika Anda lebih suka horor yang menakutkan secara psikologis tanpa darah berlebihan, mungkin film ini bukan untuk Anda.
3. Bagaimana perbandingannya dengan film Mummy sebelumnya?
Tidak ada hubungan cerita dengan film Brendan Fraser (1999–2008) maupun Tom Cruise (2017). Film ini adalah reimajinasi horor murni yang berdiri sendiri, bukan bagian dari semesta bersama mana pun.
4. Kapan film ini tersedia untuk streaming?
Saat ini belum ada pengumuman resmi. Karena diproduksi Warner Bros., film ini kemungkinan akan hadir di Max (HBO Max) sekitar 45–60 hari setelah rilis bioskop, atau sekitar Juni–Juli 2026.
🔮 Kesimpulan & Prediksi
Lee Cronin’s The Mummy bukanlah film yang akan memenangkan hati para kritikus film arus utama. Namun, film ini tidak pernah berusaha melakukan itu.
Dengan skor kritikus 46% vs penonton 76% di Rotten Tomatoes, film ini adalah definisi cult classic dalam proses. Para pencinta horor yang haus akan darah, eksperimen bentuk, dan keberanian untuk mematahkan formula akan menemukan banyak hal untuk dinikmati.
Review film dari BAHASFILM memprediksi bahwa film ini akan mencapai break-even dengan mudah, kemungkinan menembus US$55 juta di akhir masa tayangnya, dan akan mendapatkan second life yang kuat di platform streaming.
Lebih dari itu, film ini menegaskan bahwa waralaba Mummy tidak harus mati; yang dibutuhkan hanyalah sutradara dengan visi yang berani dan rumah produksi yang paham cara mengelola risiko. Lee Cronin mungkin tidak menghidupkan kembali Mummy versi petualangan, tetapi ia berhasil menciptakan horor yang mengganggu dan berkesan bagi mereka yang cukup berani untuk menontonnya.

