Review Film Bhooth Bangla (2026): Comeback Nostalgia Akki-Priyadarshan Abadi

BAHASFILMReview film Bhooth Bangla (2026) sukses memicu kembali gelombang nostalgia Bollywood awal 2000-an. Garapan sutradara kondang Priyadarshan yang mempertemukan kembali Akshay Kumar dengan tabiat komedikhasnya, film bergenre horor-komedi ini resmi tayang di bioskop pada 17 April 2026. Menurut BAHASFILM, film yang kabarnya juga mengandalkan nyawa lama rumah produksi Balaji Telefilms ini mampu meraup lebih dari 231 crore rupee di seluruh dunia serta langsung naik status menjadi Superhit. Meski menuai segudang pujian dari penggemar dan warganet, tidak dapat dipungkiri, masih ada segelintir kritikus yang ragu dengan formulanya, namun dibalik itu, film ini patut diapresiasi dan kita pantau lebih dalam.

Baca Juga : The Old Woman With the Knife: Aksi Mematikan di Usia Senja – Review Eksklusif BahasFilm

🧵 Sinopsis: Bangloskop Penjuru Mangalpur

Cerita Bhooth Bangla berpusat pada Arjun Acharya (Akshay Kumar), pria paruh baya yang mengalami kesulitan keuangan. Suatu hari, ia mewarisi sebuah istana megah dan purbakala milik kakeknya, bernama Acharya Niwas— atau yang oleh penduduk desa setempat dijuluki sebagai bangunan angker. Melihat warisan ini sebagai durian runtuh, Arjun bergegas pulang ke pedalaman kecil Mangalpur untuk menyelenggarakan pernikahan adiknya yang tertunda, Meera (Wamiqa Gabbi). Namun alih-alih membuat acara bahagia dalam nuansa temaram, berbagai kejadian supernatural mulai mengintai siapa saja yang mencoba menyulut pesta. Ditambah dengan teror desa berupa kutukan kuno Vadhusur—makhluk mirip kelelawar iblis yang menculik calon pengantin setiap malam pernikahan.

Di saat Arjun yang keras kepala memutuskan tidak memedulikan takhayul, ia justru harus berhadapan dengan hantaman jenazah masa lalu, strategi literal komedi yang brutal, dan sebuah perburuan pembantaian horor yang amat intens di babak kedua.

🦸‍♂️ Tiga Entitas Penting Pilar Film Ini

Entity Penting #1 – Akshay Kumar (Arjun Acharya). Sejak film Hera Pheri dulu, kejenakaan yang tadinya sempat dikabarkan ‘hilang’ kini kembali lagi sepenuhnya. Meskipun usianya telah meningkat, aksi ‘physical comedy’-nya tetap tajam. Kritikus memuji bagaimana transisi antara kocak sampai serius sangat indah dilakukan. Akshay yang juga bertindak sebagai salah satu produser sukses membaurkan mental MCU khas Bollywood ke dalam film ini.

Entity Penting #2 – Priyadarshan (Sutradara). Sutradara 100-an film ini memang dikenal piawai dalam menyajikan slapstick. Namun di Bhooth Bangla, duel waktu santai melawan cringey seram bisa dibilang ‘hit and miss’. Terbukti dari taburan komedi di babak awal yang agak kelebihan monyet, dan porsi horor yang kaya akan CGI dan cerita rakyat rumit tetapi antiklimaks.

Entity Penting #3 – Duo Tabu & Asrani (Legenda). Tak lengkap rasanya menikmati sebuah drama horor Bollywood tanpa sosok nyentrik. Tabu (sebagai peran pendukung rahasia) mampu menghidupkan ‘bencong batin’ pemantik bencana, sementara Asrani yang sangat senior pada masa tuanya berhasil tampil sepenuh hati sebagai pengelola banglo, serta menjadi cerita sentimental mengingat ini barangkali adalah salah satu peran layar lebar terakhirnya.

📊 Fakta dan Statistik Box Office

MetrikAngka
Tanggal rilis resmi17 April 2026 (India)
Anggaran produksisekitar 70-80 crore (est.)
Estimasi akhir pekan pertama (India net)58-65 crore
Pendapatan Day 1 (Domestik)18.90 crore gross
Total India net (Day 19)146.50 crore
Total Overseas57.15 crore
Pendapatan global (19 hari)231.03 crore (Superhit)
Rating IMDb6.6/10
Jumlah teaterlebih dari 4.300
Ketersediaan OTT (Netflix)Juni – awal Juli 2026

Sukses kotor box office menjadikan film ini sebagai salah satu yang terlaris di India tahun ini. Ini adalah comeback manis bagi Akshay Kumar setelah melalui beberapa rintangan yang sedikit kurang beruntung pada proyek sebelumnya.

🧠 Analisis Mendalam: Nostalgia yang Menguntungkan atau Sekadar Hantaman Kosong?

🎭 Pertarungan Antar Babak

Masyarakat awam mungkin melongo karena film ini sangat terbelah dua secara drastis. Di babak pertama, penonton disuguhi komidi putar antara aksi lari-lari, tamparan sandal, dan ejekan Rajpal Yadav terhadap arwah gentayangan. Hal ini sukses membawa romansa kuno karena mengingatkan penonton pada film-film Hera Pheri atau Bhool Bhulaiyaa 1.

Namun memasuki babak kedua (durasi keseluruhan hampir 3 jam), atmosfer berubah drastis. Tone film berubah menjadi gelap, banyak flashback hingga dua tingkat, serta penjelasan asal-usul “Vadhusur” seperti kelelawar raksasa yang mungkin menjadi lambang ‘mubazir efek VFX’. Secara jujur, di sini kelemahan utama terletak pada konsistensi naskah. Penonton yang datang untuk mencari tawa malah dijejali cerita silam dengan durasi 30 menit berlebih di teater.

💬 Nostalgia: Senjata Bermata Dua

Tidak bisa dimungkiri bahwa reuni komedi dan layar ini dimotori oleh koneksi Akshay-Priyadarshan yang sudah tidak bekerja sama sejak awal 2000-an. Para penonton dewasa dan penggemar berat akan merasa sangat terharu melihat Paresh Rawal, Rajpal Yadav serta Asrani kembali mengacak-acak properti dengan gaya konyol.

Namun salah satu kritik paling tajam yang dilontarkan adalah bagaimana tren horror comedy telah berubah secara signifikan pasca Stree (2018) dan sekuelnya. Jika dibandingkan, Bhooth Bangla terasa sedikit ketinggalan jaman, terlalu mengandalkan teriakan dan properti aneh, daripada membangun ketegangan psikologis yang matang.

🧬 Visual, Musik dan Produksi

Bhooth Bangla memiliki nilai sinematografi yang baik berkat sentuhan Sabu Cyril (Desain Produksi) dan Divakar Mani (DOP). Rumah besar keluarga Acharya terlihat gothic namun tetap memikat rasa ingin tahu. Tim musik Pritam sadar benar akan fungsi irama di sini: hanya muncul saat dibutuhkan dan tidak berlebihan durasi “song break” ala Bollywood.

Namun perlu diingat: ada beberapa keluhan publik terkait CGI sang monster utama yang terlihat seperti “kostum Halloween murahan” di beberapa sudut. Sementara itu, sepak terjang Ekta Kapoor di bangku produksi mampu memastikan film ini tetap komersial meskipun dengan risiko formula tipikal TV-nya yang kadang mengganggu.

🗣️ Review dari Warganet: Terbelah Dua, namun Rata-rata Positif

Di media sosial X (dulunya Twitter), Bhooth Bangla menerima reaksi yang cukup ramai dan beragam. Sebagai gambaran:

  • ⭐⭐⭐⭐ (Positif): “The #AkshayKumar – #Priyadarshan combo doesn’t disappoint – the chills and chuckles are in equal measure.” – Taran Adarsh.
  • ⭐⭐⭐ (Campuran): *”The second half is exactly like Bhool Bhulaiyaa 2 and 3… with one major flaw in writing, but it does have edge-of-the-seat moments.”* – Warganet X.
  • ⭐⭐ (Negatif): “Misplaced comedy in the first half, inadequate horror in the second, mangled mess as a whole.” – t2online (Priyanka Roy).

Sebagian besar penonton yang menyukai film mengatakan mereka tidak bisa berhenti tertawa di babak pertama, dan mengagumi betapa “King of Come Comedy” (Akshay Kumar) masih mampu mencuri hati. Di sisi lain mereka yang tertarik suspense horor asli justru kecewa karena monster tidak cukup menakutkan.

🧩 FAQ – Bhooth Bangla (2026)

1. Apakah film ini lebih kental ke komedi atau horor?
Lebih ke komedi. Terutama di babak pertama. Momen jump scare-nya hanya sedikit, dan nuansa mistis lebih mengarah pada mitologi internal. Jangan berharap horor berskala “The Conjuring” karena ini murni komedi keluarga berhantu.

2. Apakah Bhooth Bangla dapat ditonton anak-anak?
Direkomendasikan dengan pendampingan orang tua. Meskipun tidak ada darah atau kekerasan seksual, beberapa visual monster cukup menyeramkan untuk anak usia dini. Di India sendiri film ini mendapat rating U/A 13+ mengingat durasinya yang panjang.

3. Mengapa skor rata-rata IMDb cukup standar (6,6) tetapi film ini laku keras?
Faktor nostalgia menjadi jawaban utama. Para penggemar dewasa yang tumbuh bersama era keemasan Priyadarshan rela memenuhi bioskop tanpa terganggu oleh lubang plot atau alur lambat. Secara teknis, film ini tidak “buruk”, hanya biasa saja.

4. Apakah ada adegan pasca-kredit yang wajib ditunggu?
Tidak. Tapi ada pengumuman dari pihak rumah produksi kalau sekuel sedang dalam tahap pembicaraan mengingat box office telah membiayai anggaran produksi belasan kali lipat.

🔮 Kesimpulan

Review film Bhooth Bangla dari BAHASFILM menyimpulkan bahwa penantian 14 tahun untuk melihat reuni Akshay-Priyadarshan akhirnya terjawab. Secara resmi, ini bukan kegagalan, apalagi bencana. Namun, juga bukan sebuah mahakarya horor yang akan diingat secara pop culture.

Film ini adalah tontonan “sekali habis” yang sempurna bagi siapa saja yang belum benar-benar move on dari komedi Bollywood era 2000-an. Dengan koleksi global melampaui 231 cr rupee dan label Superhit, dapat dipastikan bahwa film ini menjadi angin segar bagi sang bintang Akshay Kumar yang sempat naik turun peruntungan.

Prediksi kami: genre reuni nostalgia untuk horror-komedi akan semakin dilirik oleh Bollywood di tahun-tahun mendatang. Namun jika Priyadarshan berencana membuat Bhooth Bangla 2, ia harus ekstra hati-hati dalam menyeimbangkan durasi babak dan kualitas efek visual.