Joker 2019: Sebuah Analisis Mendalam atas Tragedi dan Transformasi Arthur Fleck
bahasfilm – Lebih dari sekadar film komik, Joker adalah cermin retak masyarakat modern. Melalui pemeranan Joaquin Phoenix yang fenomenal, film ini menawarkan studi karakter yang gelap, intimate, dan tak mudah dilupakan.
Tahun 2019, dunia film dikejutkan oleh sebuah karya yang mengubah genre superhero selamanya. Joker, arahan Todd Phillips, bukanlah film aksi yang riuh. Film ini merupakan sebuah studi karakter psikologis yang intens dan mendebarkan. Kisahnya berhasil meraih Piala Singa Emas di Venesia dan 2 Oscar, termasuk untuk Joaquin Phoenix. Dalam artikel ini, kami akan mengajak Anda untuk bahasfilm ini secara komprehensif. Kami akan mengulik setiap lapisan cerita, karakter, dan maknanya. Semua untuk memberikan Anda pemahaman yang utuh. Anda dapat menemukan lebih banyak analisis seperti ini di situs kami, bahasfilm.
Baca Juga : Review Film: Jurassic Park – Bagaimana Sebuah Film Mengubah Hollywood Selamanya
Sinopsis Joker 2019: Kehidupan yang Terperangkap dalam Tawa Pahit
Mari kita mulai bahasfilm ini dari alur utamanya. Film ini berlatar di Kota Gotham era 1980-an. Kota ini digambarkan suram, kotor, dan penuh kerusuhan sosial. Kita mengikuti hidup Arthur Fleck (Joaquin Phoenix). Ia seorang pelawak stand-up comedy yang gagal. Ia bekerja serabutan sebagai badut sewaan. Arthur tinggal bersama ibunya yang sakit-sakitan. Hidupnya sangat miskin dan tertekan. Arthur mengidap kondisi neurologis langka. Kondisi itu adalah Pseudobulbar Affect (PBA). Ia bisa tertawa terbahak-bahak di saat yang tidak tepat. Misalnya saat sedih, takut, atau marah. Tawa ini bukan tanda kebahagiaan. Ini adalah gejala penyakit yang menyiksanya. Ia sering dikucilkan dan dipukuli karena hal ini. Sistem pendukung kesehatan mental kota juga runtuh. Arthur kehilangan akses ke terapis dan obat-obatannya. Tekanan dari masyarakat yang kejam dan sistem yang mengabaikannya terus membebani. Perlahan-lahan, batas antara realitas dan ilusinya mulai kabur.
Bagian Spoiler: Jatuh ke Dalam Jurang dan Kelahiran Sang Joker
Peringatan: Bagian ini berisi spoiler mendalam. Mari kita bahasfilm titik-titik krusial yang mendorong transformasi Arthur.
Segalanya berubah saat Arthur menemukan surat rahasia dari ibunya. Surat itu ditujukan untuk Thomas Wayne, sang miliarder. Surat itu mengklaim Arthur adalah anak kandungnya. Dengan penuh harap, Arthur menghadap Wayne. Ia justru mendapat tamparan realitas yang keras. Thomas Wayne menyangkal klaim itu dengan kasar. Wayne malah mengungkap sebuah rahasia kelam. Arthur adalah anak angkat. Ibunya ternyata memiliki gangguan kejiwaan parah. Ia pernah menyiksa Arthur kecil. Penemuan pahit ini menghancurkan satu-satunya narasi yang ia pegang tentang dirinya. Dalam keadaan kacau balau, Arthur melakukan tindakan tak terbayangkan. Ia membunuh ibunya sendiri di rumah sakit. Ini adalah titik puncak keterputusannya dari masa lalu. Undangan ke acara Murray Franklin Show yang ia idolakan awalnya seperti anugerah.
Namun, acara itu ternyata menjadikannya bahan tertawaan publik. Di atas panggung itulah Arthur memutuskan untuk mengambil kendali narasinya sendiri. Dengan riasan badut yang sempurna, ia berpidato. “Aku dulu berpikir hidupku adalah tragedi. Sekarang aku sadar, ini komedi.” Kalimat itu menjadi manifestasi filsafat barunya. Ia lalu menembak mati Murray Franklin (Robert De Niro) secara langsung di siaran televisi. Pembunuhan itu menjadi percikan api. Api itu memicu pemberontakan massal di seluruh Gotham. Arthur yang kini menjadi Joker akhirnya ditangkap. Namun, kerusuhan yang ia ciptakan justru membebaskannya. Film berakhir dengan adegan ikonik. Joker menari di atas mobil polisi yang penyok. Ia telah lahir sebagai simbol kekacauan yang baru.
Analisis Karakter dan Pemain Utama dalam Joker
Untuk bahasfilm ini dengan baik, kita perlu menyelami setiap performa aktor. Berikut adalah tabel analisis karakter utama.
| Karakter | Diperankan oleh | Analisis Peran dan Kontribusi terhadap Cerita |
|---|---|---|
| Arthur Fleck / Joker | Joaquin Phoenix | Transformasi fisik dan emosional Phoenix luar biasa. Ia memangkas berat badan drastis untuk tampil rapuh. Tawa patologisnya sangat mengganggu dan memukau. Ia membawa penonton merasikan setiap gejolak kesakitan dan kebingungan Arthur. |
| Murray Franklin | Robert De Niro | De Niro menghadirkan karisma seorang selebritas media yang dingin. Karakternya mewakili sistem yang menghisap lalu membuang orang lemah. Interaksinya dengan Arthur adalah klimaks simbolik dari pemberontakan terhadap otoritas. |
| Penny Fleck | Frances Conroy | Conroy memerankan sosok ibu yang lemah dan maniputif dengan sempurna. Karakter ini adalah sumber trauma masa kecil Arthur. Ia juga menjadi kunci dari krisis identitas yang Arthur alami. |
| Sophie Dumond | Zazie Beetz | Beetz memerankan tetangga Arthur, Sophie. Hubungan mereka ternyata sebagian besar adalah halusinasi Arthur. Hal ini menunjukkan betapa terisolasi dan putus asanya Arthur akan hubungan manusiawi. |
Mengulik Detail Produksi: Dari Naskah hingga Visual yang Muram
Bagian menarik lain untuk bahasfilm adalah sisi produksinya. Joker lahir dari keinginan Todd Phillips dan Scott Silver. Mereka ingin membuat portret karakter yang fokus dan personal. Inspirasi visual dan tematik banyak diambil dari film klasik seperti Taxi Driver dan The King of Comedy. Joaquin Phoenix menjalani persiapan ekstrem. Selain diet ketat, ia juga mempelajari tawa penderita PBA. Tujuannya agar penampilannya autentik dan tidak karikatural. Sinematografi Lawrence Sher menggunakan palet warna kotor. Warna kuning pucat, hijau, dan cokelat mendominasi. Palet ini mencerminkan kondisi Gotham dan jiwa Arthur. Banyak shot close-up ekstrem pada wajah Phoenix. Teknik ini memerangkap penonton dalam pikirannya yang berantakan. Skor musik oleh Hildur Guðnadóttir juga revolusioner. Alunan cello-nya yang sendu dan mencekam tidak sekadar pengiring. Musik itu adalah suara batin Arthur yang sebenarnya. Komposisi itu langsung berbicara tentang kesedihan dan amarah yang terpendam.

Review dan Rating: Memecah Kontroversi dan Pujian
Respon terhadap Joker sangatlah polarizing. Film ini memicu debat sengit di kalangan kritikus dan penonton. Mari kita bahasfilm ini melalui data rating resmi. Anda dapat mengecek rating publik secara langsung di situs IMDb.
| Platform | Skor | Analisis Singkat dari Kritik |
|---|---|---|
| IMDb | 8.4/10 | Rating dari penonton umum sangat tinggi. Ini menunjukkan resonansi yang kuat dengan khalayak luas, terlepas dari kontroversinya. |
| Rotten Tomatoes | 68% (Tomatometer) | Skor kritikus menunjukkan penerimaan yang cukup positif. Banyak yang memuji keberanian visi dan akting Phoenix, meski khawatir dengan pesannya. |
| Metacritic | 59/100 (Metascore) | Skor ini mengindikasikan review yang campuran atau rata-rata. Kritikus terbagi antara yang mengagumi dan yang mengkritik ambiguitas moral film. |
Pujian tertinggi hampir secara bulat diberikan untuk akting Joaquin Phoenix. Ia dianggap menghidupkan karakter dengan kedalaman yang langka. Banyak yang menyebutnya sebagai performa terbaik dalam kariernya. Film juga dipuji karena mengangkat isu sosial seperti kesenjangan ekonomi dan pengabaian kesehatan mental. Kritik utama berpusat pada ketidakjelasan pesan moral film. Sebagian kritikus merasa film terkesan mengagungkan kekerasan. Mereka merasa film gagal memberikan konteks atau kritik yang jelas terhadap tindakan Arthur. Kekhawatiran akan peniruan oleh penonton yang tidak stabil juga sempat muncul.
Kesimpulan: Untuk Siapa Film Joker 2019 Ini?
Sebagai penutup untuk bahasfilm ini, Joker adalah sebuah pencapaian sinematik yang tak terbantahkan. Film ini sukses menjadi sebuah drama karakter berdiri sendiri yang powerful. Kehebatannya terletak pada kemampuan untuk memicu diskusi panjang. Kami sangat merekomendasikan film ini untuk para penikmat film drama psikologis yang berat. Juga untuk penggemar akting berkualitas tinggi dan sinematografi yang penuh perhitungan. Namun, film ini tidak cocok jika Anda mencari hiburan superhero konvensional. Film ini juga tidak direkomendasikan untuk penonton yang mudah terpengaruh adegan kekerasan atau tema depresi. Joker mengajak kita melihat ke dalam kegelapan yang mungkin ada di sekitar kita. Bahkan di dalam diri kita sendiri. Ia meninggalkan sebuah pertanyaan yang menggema: Dalam masyarakat yang dingin, siapa sebenarnya yang menciptakan monster?

