Review & Analisis Avatar: The Last Airbender 2024 – Bahasfilm

Poster resmi serial Netflix Avatar: The Last Airbender menampilkan Aang di tengah dengan stafnya, dikelilingi oleh Katara, Sokka, Zuko, Iroh, Azula, dan Raja Api Ozai dengan latar belakang elemen api dan es.

Review Avatar: The Last Airbender (2024): Kisah Adaptasi yang Menantang Ekspektasi

Bahasfilm – Sejak diumumkan, adaptasi live-action “Avatar: The Last Airbender” oleh Netflix ditunggu dengan harap-harap cemas oleh jutaan penggemar di seluruh dunia. Serial ini akhirnya tayang pada 22 Februari 2024 dan langsung memecahkan rekor dengan 50.2 juta kali tayang dalam 18 hari pertama. Di tengah kesuksesan angka tersebut, tanggapan dari kritikus dan penonton justru terbelah. Melalui artikel ini, kami akan mengajak Anda untuk bahasfilm adaptasi terbaru ini secara mendalam. Kami akan membedah apa yang berhasil, di mana letak kontroversinya, dan apakah ia layak ditonton baik oleh pendatang baru maupun penggemar berat serial animasi legendarisnya.

Baca Juga : Rekomendasi Film Anime Bertemakan Fantasi Terbaik : Frieren

Sinopsis Singkat dan Latar Cerita

Serial ini mengangkat kembali dunia di mana masyarakat terbagi dalam empat bangsa berdasarkan unsur: Air, Tanah, Api, dan Udara. Aang (Gordon Cormier), seorang bocah berusia 12 tahun dari Pengembara Udara, terbangun setelah seratus tahun terbeku dalam gunung es. Ia mendapati bangsanya telah dimusnahkan oleh Bangsa Api yang agresif. Sebagai Avatar—satu-satunya yang bisa menguasai keempat unsur—tanggung jawab untuk mengembalikan keseimbangan dunia jatuh di pundaknya. Dalam perjalanannya menguasai unsur, Aang ditemani Katara (Kiawentiio) dan Sokka (Ian Ousley) dari Suku Air Selatan, sambil terus dikejar oleh Pangeran Zuko (Dallas Liu) yang berusaha menangkapnya untuk mendapatkan kembali kehormatannya.

Analisis Utama: Apa yang Berhasil dan Gagal dalam Adaptasi Ini?

Adaptasi dari media animasi ke live-action selalu penuh tantangan. Serial Netflix ini mengambil pendekatan yang lebih serius dan gelap. Bagi mereka yang ingin bahasfilm ini secara kritis, berikut adalah poin-poin utama yang perlu diperhatikan.

1. Pujian: Visual Epik dan Pengembangan Karakter Tertentu

  • Efek Visual dan World-Building: Salah satu aspek yang paling dipuji adalah skala visual dan efek CGI-nya. Kehadiran Appa, bison terbang legendaris, dan Momo diwujudkan dengan memukau. Dunia Avatar terasa hidup dan luas.
  • Akting dan Chemistry Zuko-Iroh: Dinamika hubungan antara Pangeran Zuko (Dallas Liu) dan Paman Iroh (Paul Sun-Hyung Lee) diakui sebagai jantung emosional serial ini. Liu berhasil menangkap pergulatan batin Zuko, sementara Lee menghadirkan kearifan Iroh dengan hangat. Penambahan alur “Batalion 41” juga memperdalam motivasi dan empati penonton terhadap Zuko.
  • Ekspansi Karakter Antagonis: Serial ini memberikan porsi lebih banyak kepada Putri Azula (Elizabeth Yu) dan Fire Lord Ozai (Daniel Dae Kim) sejak musim pertama. Hal ini memungkinkan penonton melihat langsung manipulasi dan kekejaman mereka, yang sebelumnya hanya diimplikasikan dalam animasi.

2. Kritik dan Kontroversi: Hilangnya “Jiwa” Serial Asli?

Di sisi lain, banyak kritik berpusat pada perbedaan tonal dan penceritaan.

  • Nada yang Terlalu Serius dan Terburu-buru: Serial animasi asli terkenal dengan keseimbangan sempurna antara petualangan serius dan komedi yang ringan. Adaptasi Netflix dianggap kehilangan banyak humor khas tersebut, membuat beberapa karakter seperti Sokka terasa lebih datar. Pemadatan 20 episode animasi menjadi 8 episode juga sering membuat alur cerita terasa dipaksakan dan kurang bernapas.
  • Koreografi “Bending” yang Terkendala: Meski efeknya bagus, koreografi pertarungan “bending” (pengendalian unsur) mendapat kritik. Dalam animasi, setiap gerakan “bending” terinspirasi dari seni bela diri dunia nyata yang penuh makna. Misalnya, gerakan “airbending” yang mengalir seperti Tai Chi. Beberapa momen dalam adaptasi ini dinilai kurang memiliki bobot dan keanggunan yang sama.
  • Penulisan Dialog dan Akting yang Kaku: Beberapa adegan diwarnai dialog yang terkesan seperti “eksposisi” atau penjelasan panjang lebar, alih-alih percakapan yang natural. Akting beberapa pemeran muda juga dinilai belum maksimal menanggung bebab narasi yang berat tentang genosida dan perang.

Perbandingan Langsung: 2024 vs Adaptasi Film 2010

Banyak yang membandingkan serial Netflix ini dengan adaptasi film layar lebar tahun 2010 garapan M. Night Shyamalan yang gagal total. Berikut tabel perbandingan singkatnya:

AspekSerial Netflix (2024)Film “The Last Airbender” (2010)
Respon Kritik & FansCampuran (mixed), tapi diakui sebagai perbaikan signifikan dari film 2010.Sangat negatif, dianggap mengkhianati materi sumber.
Casting & RepresentasiCasting lebih sesuai dengan etnisitas karakter asli (Asian dan Indigenous).Menuai kontroversi besar karena isu “whitewashing”.
Visual Efek & “Bending”Secara umum dipuji, meski ada beberapa momen kurang halus.Dikritik habis-habisan karena terlihat palsu dan koreografi yang buruk.
Kesetiaan pada CeritaTetap pada alur utama, meski dengan penggabungan dan perubahan beberapa plot.Banyak menyimpang dari alur dan logika dunia Avatar.

Resonansi dengan Penonton: Data dan Tanggapan Publik

Terlepas dari kritik, data menunjukkan serial ini sangat sukses menjangkau penonton luas. Bagi generasi yang tumbuh dengan serial animasinya, tayangan ini adalah nostalgia yang kuat. Bagi penonton baru, ini adalah pintu masuk yang spektakuler ke dunia Avatar. Sukses komersial ini telah membuat Netflix secara resmi memperbarui serial untuk musim kedua dan ketiga, dengan rencana menyelesaikan keseluruhan saga.

Kesimpulan Akhir: Layak Ditonton atau Tidak?

“Avatar: The Last Airbender” (2024) adalah adaptasi ambisius yang tidak sempurna, namun penuh hormat. Serial ini berhasil menghindari jurang kegagalan adaptasi film 2010 dan menawarkan pengalaman visual yang memukau serta momen-momen karakter yang kuat (terutama dari sisi Zuko dan Iroh).

Rekomendasi kami:

  • Untuk Penggemar Baru: Ini adalah tontonan fantasy-action yang solid. Jika Anda menyukainya, sangat disarankan untuk menonton serial animasi orisinalnya untuk mendapatkan pengalaman naratif yang lebih utuh, mendalam, dan penuh hati.
  • Untuk Penggemar Lama: Datanglah dengan ekspektasi yang dikelola. Anda akan melihat dunia favorit Anda dihidupkan dengan detail menakjubkan, tetapi bersiaplah dengan beberapa perubahan alur dan karakter. Lihatlah ini sebagai sebuah interpretasi baru, bukan replika persis.

Dengan musim berikutnya yang sudah dikonfirmasi, ada harapan bahwa tim kreatif dapat menyempurnakan formula, menemukan lebih banyak keseimbangan, dan lebih menghidupkan “jiwa” yang membuat Avatar abadi. Mari kita nantikan kelanjutannya.