Review Film The Long Walk (2025): Pawai Panjang yang Brutal

BAHASFILMReview film The Long Walk (2025) garapan Francis Lawrence (The Hunger Games) akhirnya membawa novel Stephen King yang lama dianggap “tidak layak difilmkan” ke layar lebar. Berdasarkan buku pertama King yang ditulis di usia 19 tahun (diterbitkan 1979 dengan nama samaran Richard Bachman), film ini dibintangi Cooper Hoffman dan David Jonsson, serta Mark Hamill sebagai antagonis. Dirilis pada 12 September 2025 oleh Lionsgate, film dengan rating R dan durasi 108 menit ini menuai pujian kritis tinggi dengan skor 88% di Rotten Tomatoes dan 71 Metascore di Metacritic. Secara finansial, film ini meraup 52,5 juta dolar secara global dari anggaran yang diyakini masih di bawah 50 juta, menjadikannya sukses kecil untuk kategori bleak drama dewasa. Menurut pantauan BAHASFILMThe Long Walk adalah salah satu adaptasi King paling brutal dan paling berhasil dalam beberapa tahun terakhir, meskipun tidak akan cocok untuk penonton yang mencari hiburan ringan.

Baca Juga : Review Film Faces of Death (2026): Horor Meta yang Terbelah

🏃 Sinopsis: 3 Mil Per Jam atau Mati

Berlatar Amerika di masa depan yang tidak jauh berbeda, setelah perang berdarah yang melumpuhkan ekonomi dan moral bangsa, muncullah sebuah tradisi tahunan yang sadis: The Long Walk. Setiap tahun, dari 50 negara bagian, dipilih satu anak laki-laki—total 50 peserta—untuk berjalan tanpa henti di jalan raya terbuka, diawaki militer bersenjata lengkap dan dipimpin Major misterius (Mark Hamill). Aturan mainnya brutal namun sederhana: setiap peserta wajib berjalan minimal 3 mil per jam [8†L14-L15]. Jika kecepatan turun, ia mendapat peringatan. Jika mendapat tiga peringatan, tentara di belakangnya akan menembak mati di tempat. Lelucon, tidur, berhenti makan—semua tidak diperbolehkan. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus melangkah, sampai hanya satu orang yang tersisa, yang akan dianugerahi apa pun yang ia minta seumur hidup.

Kamera mengikuti Raymond Garraty (Cooper Hoffman) dari Maine, yang dengan berat hati mengikuti kompetisi ini demi menyelamatkan keluarganya dari tekanan ekonomi. Sepanjang perjalanan, ia bertemu dengan peserta-peserta lain yang membentuk ikatan rapuh di ambang kematian: Peter McVries (David Jonsson) yang sinis namun setia, Arthur Baker (Tut Nyuot) yang pendiam, Hank Olson (Ben Wang) yang lucu, dan Stebbins (Garrett Wareing) yang misterius dan diyakini sebagai anak haram sang Major dari tahun-tahun sebelumnya. Hujan, malam yang dingin, kelelahan luar biasa, dan ledakan kekerasan sporadis menyertai mereka selama perjalanan tak berujung. Pertanyaan inti yang diajukan film ini adalah: Berapa lama seorang manusia bisa bertahan—baik secara fisik maupun psikologis—dalam tekanan ekstrem? Dan pada titik mana kemanusiaan itu sendiri akhirnya runtuh?

🎭 Tiga Entitas Penting yang Menggerakkan Film

1. Cooper Hoffman (Raymond Garraty)
Anak mendiang aktor legendaris Philip Seymour Hoffman, Cooper Hoffman membuktikan bahwa bakat akting memang diwariskan. Di usianya yang ke-22 selama produksi, ia berhasil membawa beban emosional film ini di pundaknya. Sebagai karakter yang paling banyak mendapatkan sorotan dan voiceover internal (yang diambil langsung dari buku), Garraty adalah pusat moral yang terus-menerus diuji. Penampilannya yang tenang namun penuh tekad membuat penonton peduli pada nasibnya, meskipun terkadang karakternya terasa terlalu “murni” untuk dunia film yang begitu brutal.

2. David Jonsson (Peter McVries)
Bintang Alien: Romulus ini mencuri perhatian sebagai yang terbaik di antara para pendukung. McVries adalah karakter yang kompleks: seorang pemuda kaya yang mengikuti The Long Walk karena keinginan bunuh diri setelah kematian orang tuanya. Dialognya yang tajam, sinis, namun penuh perhatian menjadi penyegar di tengah tekanan. Chemistry-nya dengan Garraty adalah salah satu fondasi emosional film. McVries juga menjadi karakter yang paling banyak mempertanyakan moralitas kompetisi—dan mungkin yang paling manusiawi di antara mereka semua.

3. Mark Hamill (The Major)
Legenda Star Wars ini menunjukkan sisi lain yang jarang terlihat: seorang birokrat fasis yang sangat menyeramkan, dingin, dan tanpa emosi. Major di film tidak lagi menjadi figur abstrak seperti di buku; ia hadir secara fisik, dengan pakaian serba putih bersih, duduk di tribun tinggi, dan sesekali turun berinteraksi dengan para peserta untuk memberikan pidato propaganda tentang “kehormatan” dan “pengorbanan”. Hamill memerankannya dengan senyum palsu dan tatapan kosong yang membuat bulu kuduk berdiri. Namun, beberapa kritikus merasa penampilannya terlalu “bersih” dan tidak cukup mengancam untuk menjadi ikon antagonis seperti yang diharapkan.

Selain ketiga entitas tersebut, film ini didukung oleh pemeran muda yang solid: Tut Nyuot (Arthur Baker) dengan keheningannya yang sarat makna, Ben Wang (Hank Olson) sebagai comic relief yang tragis, dan Charlie Plummer (Gary Barkovitch) yang tampil mengerikan dalam adegan kematiannya yang diubah drastis dari buku.

📊 Fakta Cepat & Statistik

MetrikAngka
Tanggal Rilis Teater (AS)12 September 2025
Rilis Digital21 Oktober 2025 (Premium VOD)
Streaming (Prime Video)8 Desember 2025 (India) [3†L16] / Januari 2026 (STARZ AS) [3†L45-L46]
DistributorLionsgate
Anggaran ProduksiTidak diungkap (diperkirakan 45-55 juta dolar)
Durasi108 menit (1 jam 48 menit)
Rating MPAAR (kekerasan, darah, bunuh diri, bahasa vulgar) [16†L16-L17]

Pendapatan Box Office Global (per 13 Oktober 2025):

WilayahAngka
Domestik (AS)34,2 juta dolar
Internasional18,2 juta dolar
Total Global52,5 juta dolar

Sumber: Koimoi [14†L43-L44], Box Office Mojo [14†L14-L16]

Skor Agregator (per Mei 2026):

PlatformSkor
Rotten Tomatoes (Kritikus)88% (Certified Fresh)
Rotten Tomatoes (Penonton)84% (Verified Audience)
Metacritic71/100 (Generally Favorable)
IMDb7.0/10 (dari 83.000+ rating)

Sumber: Rotten Tomatoes [13†L24-L25], Metacritic [17†L2], IMDb [10†L2]

🧠 Analisis Mendalam: Antara Pujian Kritikus dan Keterbatasan Naratif

🎭 Dari 100 Menjadi 50: Penyederhanaan yang Cerdas

Salah satu perubahan paling signifikan dari novel adalah pengurangan jumlah peserta dari 100 menjadi 50 orang, satu dari setiap negara bagian AS [20†L18-L19]. Keputusan ini, diakui oleh sutradara Lawrence dan penulis skenario JT Mollner, bertujuan untuk memberi ruang lebih bagi pengembangan karakter tanpa membuat penonton kewalahan.

Hasilnya? The Long Walk berhasil membangun dinamika kelompok yang terasa nyata, di mana setiap karakter utama memiliki momen untuk bersinar sebelum akhirnya gugur satu per satu. Seperti ditulis The Hollywood Reporter“Lawrence melakukan pekerjaan luar biasa dengan materi yang bisa dengan mudah menjadi membosankan di tangan yang kurang mampu.” [19†L20-L22]

🚶‍♂️ Kritik: Film Ini Benar-benar Tentang Jalan Kaki

Namun, keterbatasan utama film ini adalah pada strukturnya yang repetitif. Karena premisnya—berjalan terus tanpa henti—tidak banyak yang bisa dilakukan secara visual. Kritikus The Guardian menyebutnya “lebih banyak olahraga kematian televisi di masa depan suram, dengan sinisme berlebihan dan kurang orisinalitas.” [6†L21-L24]

Penonton di IMDb dengan tegas mengeluhkan hal yang sama: “Tidak ada hal besar yang benar-benar terjadi—hanya jalan kaki tanpa akhir dengan sedikit dialog di antaranya, dan tidak ada yang terasa cukup berdampak untuk membenarkan durasinya.” [10†L26-L28]

Memang, film ini bergantung hampir sepenuhnya pada dialog dan akting untuk membangun ketegangan. Adegan tembak-menembak sporadis hanya terjadi ketika peringatan ketiga diberikan. Hasilnya, The Long Walk lebih mirip drama psikologis daripada thriller aksi, yang mungkin akan mengecewakan penonton yang mengharapkan kejar-kejaran mobil atau ledakan.

🧬 Adegan Kematian: Lebih Brutal Namun Lebih Bermakna

Salah satu keunggulan film ini adalah dalam mengeksekusi adegan-adegan kematian para karakter. Diubah dari buku untuk meningkatkan dampak visual dan emosional, beberapa kematian dibuat lebih dramatis. Contoh paling mencolok adalah Gary Barkovitch (Charlie Plummer). Dalam buku, Barkovitch merobek tenggorokannya sendiri. Di film, ia menusuk dirinya sendiri dengan senjata curian [20†L40-L41]. Perubahan ini mungkin tampak kecil, tetapi dalam konteks film, adegan itu menjadi salah satu momen paling mengganggu yang pernah ada dalam film Stephen King, menunjukkan keputusasaan mutlak dari seorang anak muda yang lebih memilih bunuh diri daripada terus berjalan.

Secara keseluruhan, tingkat kekerasan film ini sangat ekstrem. Ini bukan film untuk penonton yang lemah hati. Darah dan luka diperlihatkan secara grafis, dan bunuh diri—baik yang terjadi secara sengaja maupun akibat tekanan psikologis—menjadi tema yang konstan.

🎯 Interpretasi Politik: Sindiran yang Jelas Namun Tidak Menggurui

Seperti layaknya karya Stephen King terbaik, The Long Walk adalah sindiran politik yang terbuka. Di tahun 2025, di mana ketegangan politik dan krisis lingkungan nyata terjadi, film ini terasa sangat relevan: ia menggambarkan Amerika sebagai negara polisi di mana rakyat jelata menghibur diri dengan menonton anak-anak mereka mati secara perlahan. Major dan para prajuritnya tidak pernah menunjukkan emosi—mereka hanyalah mesin birokrasi yang menjalankan perintah. Ini adalah gambaran tentang fasisme dalam balutan demokrasi, di mana kompetisi kejam dibalut dengan narasi “prestasi” dan “pilihan pribadi”.

Menurut The Daily Beast, film ini “menampilkan dirinya sebagai kisah menakutkan tentang kemampuan tirani untuk membiasakan rakyatnya pada pembantaian dan perbudakan, dan memaksa mereka untuk melakukan (dan merayakan) penghancuran diri dengan kedok persatuan, kekuatan, dan kemajuan.” [17†L28-L30]

🎤 Kutipan Sutradara dan Aktor

“We walked probably close to 350 miles making the movie.”
— Francis Lawrence (Sutradara), menjelaskan proses syuting yang melelahkan. [18†L4]

“Cooper Hoffman and David Jonsson’s soulful performances bring a lot of heart to Stephen King’s dystopian tale, making The Long Walk a life-or-death ordeal for its characters but a riveting ride for audiences.”
— Rotten Tomatoes Critics Consensus [21†L13-L15]

“The Long Walk is not for the faint of heart, but it is one of the best Stephen King adaptations ever made, and one of the best dystopian sci-fi movies to hit the big screen in a really long time.”
— Total Film (Skor 100/100) [17†L4-L7]

❓ FAQ – The Long Walk (2025)

1. Apakah film ini lebih baik dari novel Stephen King?
Tidak bisa dibandingkan secara langsung. Film ini memperpendek dan menyederhanakan banyak elemen buku (100 peserta menjadi 50, mengubah beberapa kematian, mengubah ending) untuk keperluan sinematik. Buku memiliki ruang untuk monolog internal dan perkembangan hubungan yang lebih lambat. Film lebih cepat, lebih brutal, dan lebih visual. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing; penggemar setia novel mungkin kecewa dengan perubahan, tetapi penonton baru akan menikmatinya.

2. Apakah film ini cocok untuk remaja?
TIDAK. The Long Walk mendapatkan rating R karena mengandung kekerasan grafis, darah, adegan bunuh diri, bahasa vulgar, dan referensi seksual yang cukup eksplisit. Jangan bawa anak di bawah 17 tahun tanpa pendamping dewasa.

3. Di mana bisa menonton The Long Walk di Indonesia?
Film ini telah dirilis secara digital di seluruh dunia. Anda dapat menyewa atau membeli film ini di platform seperti Apple TV, Amazon Prime Video, Google Play Movies, dan YouTube [3†L11-L12]. Di India, film ini tersedia di Prime Video dengan harga Rs 149 [3†L16-L17]. Untuk pelanggan di AS, film ini juga tersedia di STARZ mulai Januari 2026 [3†L45-L46]. Di Indonesia, cek ketersediaan di platform digital favorit Anda.

4. Apakah ada adegan pasca-kredit yang perlu ditunggu?
Tidak. Film ini tidak memiliki adegan pasca-kredit. Setelah kredit mulai bergulir, Anda bisa langsung meninggalkan teater—atau dalam kasus ini, mematikan layar.

5. Berapa lama Cooper Hoffman berjalan selama syuting?
Para aktor utama dilaporkan berjalan sekitar 350 mil (sekitar 560 kilometer) selama produksi, yang diambil secara kronologis [18†L4]. Ini adalah pencapaian fisik yang luar biasa, karena mereka harus melakukan adegan berjalan di tengah hujan, malam hari, dan kondisi yang sengaja dibuat melelahkan.

🔮 Kesimpulan & Prediksi

Review film The Long Walk (2025) dari BAHASFILM menyimpulkan bahwa film ini adalah karya yang berhasil dalam misinya—tetapi misinya itu sendiri mungkin tidak untuk semua orang. Dengan skor 88% di Rotten Tomatoes71 Metascore, dan pendapatan global 52,5 juta dolar (dari anggaran sekitar 45–55 juta), The Long Walk tidak bisa disebut sebagai kegagalan atau kesuksesan gemilang. Ia berhasil secara kritis, tetapi hanya sekadar impas secara finansial.

Keberhasilan utamanya terletak pada akting para pemeran muda—terutama Cooper Hoffman dan David Jonsson—serta kemampuan Francis Lawrence untuk membangun ketegangan dari premis yang tampaknya sederhanaThe Long Walk adalah bukti bahwa adaptasi Stephen King bisa menjadi sinema yang dewasa, gelap, dan mengganggu tanpa perlu mengorbankan esensi sumber materialnya.

Prediksi kami: Di tahun-tahun mendatang, The Long Walk akan mendapatkan status cult classic di kalangan penggemar King, terutama setelah dirilis di platform streaming yang lebih luas. Ini adalah film yang akan didiskusikan di forum-forum pecinta film karena endingnya yang ambigu—tidak memberikan resolusi bahagia, tetapi juga tidak sepenuhnya suram; ia menggantung di antara keduanya, seperti para pesertanya yang terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti.

Bagi penonton yang ingin menyaksikan film yang menghancurkan secara emosional, brutal secara visual, dan sangat relevan dengan dunia saat iniThe Long Walk layak Anda tonton. Tapi bersiaplah: Anda akan merasa seperti ikut berjalan bermil-mil, dan mungkin tidak akan bisa tidur nyenyak setelahnya.