Review Film Green Book (2018)

BAHASFILMReview film Green Book (2018) menghadirkan fenomena langka dalam sejarah Oscar: film yang dicintai penonton namun dituding “terlalu manis” untuk selera kritikus progresif. Disutradarai Peter Farrelly (Dumb and Dumber), kisah nyata persahabatan antara sopir Italia-Amerika kasar Tony Lip (Viggo Mortensen) dan pianis jenius Don Shirley (Mahershala Ali) ini sukses menyapu panggung penghargaan global. Menurut BAHASFILMGreen Book bukan sekadar film road trip — ia adalah jendela ke Amerika 1962 yang segregasinya masih terbuka lebar, sekaligus cermin perdebatan abadi tentang siapa yang berhak menceritakan kisah siapa.

Baca Juga : Death of a Unicorn (2025): Review Lengkap dari bahasfilm

🧵 Sinopsis: Tur Konser di Tengah Amerika Jim Crow

Film ini dibuka dengan Brooklyn, 1962. Tony “Lip” Vallelonga (Viggo Mortensen), petugas keamanan klub malam keturunan Italia-Amerika, menganggur setelah Copacabana ditutup untuk renovasi. Dalam situasi sulit, ia diundang wawancara oleh Dr. Don Shirley (Mahershala Ali), pianis klasik Afrika-Amerika berpendidikan tinggi yang tengah mencari sopir sekaligus pengawal untuk tur konser di wilayah Deep South — jantung segregasi Amerika.

Awalnya Tony ragu karena harus meninggalkan istri Dolores (Linda Cardellini) dan dua anaknya selama delapan minggu. Namun bayaran yang menggiurkan membuatnya menerima tawaran itu.

Sepanjang perjalanan, Tony dan Don bergantung pada The Negro Motorist Green Book, panduan khusus bagi wisatawan kulit hitam untuk menemukan hotel, restoran, dan bengkel yang “ramah warna kulit” di tengah daratan Selatan yang rasis.

Dari New York hingga Mississippi, mereka menghadapi berbagai insiden diskriminatif: Don dilarang menggunakan toilet dalam ruangan, tidak dilayani di restoran eksklusif, hingga dipukuli di bar Alabama. Di tengah semua itu, Tony – yang awalnya membuang gelas yang pernah dipakai Don – berubah menjadi pelindung yang setia.

Perbedaan kelas dan ras perlahan mencair. Don mengajari Tony menulis surat puitis untuk Dolores, sementara Tony mengajari Don cara menyantap ayam goreng tanpa merasa malu. Di puncak musim dingin, Tony yang kelelahan tetap memaksa Don meneruskan konser terakhirnya di Birmingham, lalu bertengkar hebat di ruang ganti ketika Don menolak karena fasilitas yang tidak layak. Tonylah yang melepas malu Don: “Jangan khawatir, aku akan menjagamu.”

Akhirnya Tony menolak bayaran penuh dari promotor rasis, memilih memulangkan Don ke Harlem pada malam Natal, tempat Don yang kesepian akhirnya membuka pintu dan mengundang keluarga Tony masuk. Di ambang pintu, Dolores berbisik kepada Don: “Terima kasih telah mengajari suamiku cara menulis surat.”

🎭 Tiga Entitas Penting: Aktor, Sutradara, dan Kisah Nyata

1. Mahershala Ali sebagai Don Shirley

Ali, yang sebelumnya meraih Oscar lewat Moonlight (2016), tampil dengan kemewahan yang rapuh. Penampilannya sebagai pianis jenius yang terisolasi dari kedua dunianya — terlalu hitam bagi orang kulit putih, terlalu halus bagi komuitas kulit hitam — menuai pujian universal.

“Mahershala Ali is really fantastic in Green Book, his performance really elevated the film for me,” tulis seorang kritikus.

Ia keluar sebagai pemenang Oscar Supporting Actor 2019, menjadikannya aktor kulit hitam pertama yang memenangkan dua Oscar dalam tiga tahun berturut-turut.

2. Viggo Mortensen sebagai Tony Lip

Sang aktor Lord of the Rings ini menambah bobot 45 pon, belajar dialek Italia-Amerika, dan mengubah dirinya menjadi tukang ledeng kasar dengan hati emas. Chemistry-nya dengan Ali menjadi tulang punggung film ini.

3. Peter Farrelly di Luar Zona Nyaman

Sutradara yang dikenal dengan komedi kotor (There’s Something About Mary) ini benar-benar mengejutkan dunia. Farrelly tidak hanya menyutradarai, tetapi juga ikut menulis skenario, menghasilkan naskah yang tajam, jenaka, namun penuh empati.

📊 Fakta Cepat & Prestasi Box Office

Green Book memulai debutnya di Festival Film Toronto pada 11 September 2018, memenangkan People’s Choice Award — sebuah predikat yang sering kali menjadi penunjuk kemenangan Oscar.

MetrikAngka
Tanggal rilis terbatas (AS)16 November 2018
Tanggal rilis luas (AS)21 November 2018
Anggaran produksiUS$23 juta
Pendapatan domestik (AS)US$85.080.171
Pendapatan internasionalUS$236.672.485
Total globalUS$321.752.656
Jumlah teater maksimum2.648
Durasi130 menit

Prestasi keuangan ini melambungkan film ini menjadi salah satu indie-biopik paling menguntungkan sepanjang masa, dengan laba bersih lebih dari 13 kali lipat dari biaya produksi.

🏆 Prestasi Penghargaan

Pada 91st Academy Awards (24 Februari 2019), Green Book masuk dalam 5 nominasi dan memenangkan 3 Oscar:

  • Best Picture (Film Terbaik)
  • Best Supporting Actor (Mahershala Ali)
  • Best Original Screenplay (Nick Vallelonga, Brian Hayes Currie, Peter Farrelly)

Selain itu, film ini juga meraih Golden Globe untuk Best Motion Picture – Musical or Comedy dan Golden Globe untuk Best Screenplay. Total keseluruhan, Green Book mengoleksi 51 kemenangan dari 128 nominasi di berbagai ajang di seluruh dunia.

🧠 Analisis Mendalam: Mengapa Film Ini Begitu Mencebik dan Dicintai?

🎭 Narasi White Savior: Kontroversi yang Tak Pernah Padam

Kritik terbesar terhadap film ini adalah narasi white savior (penyelamat putih). Banyak kritikus menuduh bahwa film ini menempatkan Tony — pria kulit putih kasar — sebagai figur yang “menyadarkan” Don tentang budayanya sendiri.

Brooke Obie calls the movie a “poorly titled white savior film” that brought to a focus white people in the life story of black people, tulis sebuah jurnal akademik.

Juga, keluarga Shirley yang asli mengaku tidak pernah dikonsultasikan selama produksi, dan mereka menggambarkan hubungan Don dengan Tony tidak seperti yang digambarkan sebagai persahabatan akrab.

The Los Angeles Times editorial bahkan menyebut kemenangan Oscar film ini sebagai bukti bahwa Akademi masih “tergila-gila pada narasi penyelamat putih” hingga tahun 2019.

😄 Alasan Popularitas: Penonton Lebih Suka Perjalanan Emosional

Meskipun kritik sengit meluncur, penonton umum memujinya. Di IMDb, film ini mencetak 8.2/10 dari lebih dari 600.000 pengguna, sementara di Rotten Tomatoes skor penonton menyentuh 91%.

Mengapa? Karena Green Book adalah film yang terasa tulus. Adegan Don yang menangis setelah ditolak di bar, atau perubahan Tony dari orang rasis kelas bawah menjadi pelindung yang setia — semua itu terasa nyata, bukan propaganda. Film ini tidak mengklaim menjadi kebenaran absolut, melainkan sebuah jendela kecil ke sebuah hubungan manusia yang kompleks.

🎨 Teknis: Sinematografi yang Mendidik

Sinematografer Sean Porter memilih palet warna yang hangat untuk adegan dalam mobil — melambangkan ‘rumah yang bergerak’, kontras dengan nada biru dingin di luar mobil yang melambangkan permusuhan. Green Book juga menggunakan teknik lensing lama dengan lensa anamorfik untuk menangkap nuansa vintage.

🎙️ Kutipan Sutradara & Kritikus

It never feels like a cynical attempt to revisit proven material merely for commercial reasons. Instead, the filmmakers appear to have returned to a story whose allegorical commentary on today’s grim political landscape seems more relevant than ever.” — Tim Grierson, Screen International

“Green Book is a feel-good delight that packs an emotional punch,” tulis The New York Times.

❓ FAQ – Green Book (2018)

1. Apakah Green Book didasarkan pada kisah nyata?
Ya. Don Shirley dan Tony Lip keduanya adalah tokoh nyata. Namun, banyak pihak yang mengkritik akurasi film, terutama keluarga Shirley yang merasa film ini memutarbalikkan hubungan sebenarnya antara Don dan Tony.

2. Mengapa judul film ini ‘Green Book’?
Judulnya diambil dari The Negro Motorist Green Book (1936–1967), panduan perjalanan bagi wisatawan kulit hitam untuk mengetahui tempat-tempat aman di Amerika yang masih segregasi.

3. Apakah Green Book layak ditonton?
Sangat direkomendasikan. Film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pelajaran tentang sejarah rasial Amerika. Meskipun kontroversial dalam beberapa aspek, nilai kemanusiaannya jauh melampaui kekurangannya.

4. Untuk usia berapa film ini ditujukan?
Green Book mendapatkan rating PG-13 di AS karena mengandung bahasa rasis, kekerasan tematik, dan merokok. Tidak disarankan untuk anak di bawah 13 tahun.

🔮 Kesimpulan & Prediksi

Review film Green Book (2018) menyimpulkan: Ini adalah fenomena budaya yang sangat langka. Film yang dibenci kaum kritikus progresif namun dicintai jutaan penonton, yang menang Oscar namun juga dikritik habis-habisan.

Perbedaan tajam antara skor kritikus 78% dan penonton 91% dari Rotten Tomatoes menunjukkan bahwa Green Book tidak sempurna. Namun, film ini berhasil melakukan satu hal dengan baik: mengingatkan kita bahwa perubahan sering kali datang bukan dari pidato besar, tetapi dari perjalanan bersama dua orang yang saling mengajari satu sama lain — bagaimana caranya bertahan hidup, tertawa, dan mencintai di dunia yang membenci perbedaan.

BAHASFILM merekomendasikan Green Book kepada siapa pun yang ingin menyaksikan perpaduan akting sempurna antara Mortensen dan Ali, serta menikmati perjalanan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah.

Dampak film ini terhadap industri hiburan sangat besar: ia membuka jalan untuk lebih banyak film drama sosial beranggaran menengah untuk berani masuk ke dalam narasi yang kompleks. Prediksi kami, Green Book akan terus dikenang sebagai salah satu peraih Oscar paling kontroversial sepanjang masa.