Review Film Prometheus (2012): BAHASFILM

BAHASFILM – Prometheus (2012) adalah film fiksi ilmiah garapan sutradara legendaris Ridley Scott yang kembali ke genre yang membesarkan namanya melalui Alien (1979). Dalam ulasan BAHASFILM kali ini, kita akan membedah bagaimana film yang awalnya dirancang sebagai prekuel langsung Alien ini justru berkembang menjadi eksplorasi mitologi sendiri tentang penciptaan, kehancuran, dan pencarian asal-usul manusia .

Baca Juga : Ulasan Film Unstoppable (2010) Versi bahasfilm: Aksi di Atas Rel Maut

Sinopsis: Misi Menemukan Sang Pencipta

Tahun 2089, arkeolog Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) menemukan peta bintang yang sama di berbagai situs kuno yang tidak saling terhubung. Mereka menginterpretasikan temuan ini sebagai undangan dari “Engineers”—makhluk pencipta manusia .

Peter Weyland (Guy Pearce), CEO Weyland Corporation yang sudah lanjut usia, mendanai pembuatan pesawat ilmiah Prometheus untuk mengikuti peta tersebut menuju bulan LV-223. Awak pesawat melakukan perjalanan dalam keadaan stasis sementara android David (Michael Fassbender) memonitor perjalanan mereka .

Setibanya di tahun 2093, tim eksplorasi menemukan struktur buatan besar yang menyimpan ribuan silinder batu, patung kepala humanoid raksasa, dan mayat makhluk besar yang diduga sebagai Engineer. David secara diam-diam membawa satu silinder, sementara silinder lainnya mulai bocor mengeluarkan cairan hitam misterius .

Konflik dimulai ketika David dengan sengaja meneteskan cairan hitam ke minuman Holloway, yang kemudian berhubungan intim dengan Shaw. Akibatnya, Shaw—yang sebelumnya dinyatakan steril—hamil dengan makhluk asing, sementara Holloway terinfeksi dan akhirnya dibakar hidup-hidup atas permintaannya sendiri .

Analisis: Antara Ambisi Filosofis dan Eksekusi yang Terburu-buru

Mitologi Yunani sebagai Fondasi Naratif

Ridley Scott dengan cerdas meminjam nama Prometheus—dewa Yunani yang mencuri api untuk manusia dan dihukum abadi—untuk merefleksikan tema utama film ini: penciptaan dan pembangkangan .

Pertanyaan besar yang diajukan dalam film—dari mana manusia berasal, apa makna hidup, ke mana setelah mati—adalah pertanyaan teologis dan filosofis fundamental yang jarang diangkat dalam film bergenre fiksi ilmiah arus utama . Peter Weyland, sang taipan tua, ingin melampaui kodrat manusia yang fana dan mencapai keabadian dengan memohon kepada “Engineers”—tindakan yang mencerminkan hasrat manusia modern untuk menyaingi posisi Tuhan .

Peran Ganda Michael Fassbender sebagai Sorotan Utama

Jika ada satu elemen yang hampir secara universal dipuji dalam film ini, itu adalah penampilan Michael Fassbender sebagai David, android yang mulai mengembangkan ego, kecemburuan, dan kesombongan BAHASFILM mencatat bahwa Fassbender sengaja menghindari menonton karakter android di film Alien sebelumnya. Sebaliknya, ia mengamati para replikan dalam film Blade Runner (1982) karya Ridley Scott, terutama karakter Rachael yang diperankan Sean Young, dengan fokus pada “kekosongan” dan kerinduan akan jiwa .

Fassbender juga mengambil inspirasi dari suara HAL 9000 di 2001: Space Odyssey, cara berjalan atlet loncat indah Greg Louganis, serta penampilan Peter O’Toole di Lawrence of Arabia—yang juga menginspirasi rambut pirang karakter David . Hasilnya adalah salah satu android paling kompleks dan menarik dalam sejarah sinema.

Perebutan Makna: Iman vs. Rasionalitas

Dialog kunci terjadi ketika David bertanya kepada Holloway apa yang akan ditanyakan kepada Engineer jika bertemu. Holloway menjawab: mengapa mereka menciptakan manusia. David balik bertanya, “Mengapa kalian menciptakan aku?” Holloway tertawa, “Karena kami bisa.” David merespons, “Bayangkan betapa kecewanya kau jika ‘Engineer’-mu menjawab hal yang sama” . Adegan ini secara brilian membalikkan posisi pencipta dan ciptaan, memaksa penonton merenungkan tanggung jawab sebagai pencipta.

Data Produksi dan Pencapaian Box Office

Berikut adalah fakta konkret terkait film yang dirilis 8 Juni 2012 ini:

  • Pendapatan Global$402,4 juta dari seluruh dunia 
  • Pendapatan Domestik (AS)$126,4 juta 
  • Pendapatan Internasional$275,9 juta 
  • Anggaran Produksi$125-130 juta 
  • Durasi124 menit 
  • Rating MPAA: R (karena kekerasan fiksi ilmiah dan bahasa singkat) 
  • Opening Weekend$51 juta (terbesar kedua di minggu pembukaan) 

Kontroversi Skenario Damon Lindelof

Skenario yang ditulis Jon Spaihts dan Damon Lindelof (showrunner Lost) menjadi pusat perdebatan. Kritikus menuduh film ini menggunakan pendekatan Lost—melempar beberapa kemungkinan naratif menarik, banyak celah, dan berharap penggemar mengisi kekosongan makna . Lindelof sendiri mengakui ia bergabung untuk menulis ulang naskah agar tidak sekadar mengulang formula Alien .

Warisan dan Masa Depan Waralaba

Pada Agustus 2025, Ridley Scott menyatakan keinginannya untuk membuat sekuel Alien: Covenant sebelum pensiun . Rencana trilogi ini akan menutup celah antara Prometheus dan Alien (1979), dengan fokus pada karakter David yang membawa ribuan embrio Xenomorph dan berpotensi berhadapan dengan armada Engineer . Adegan akhir yang ideal, menurut analis, adalah pesawat Engineer melarikan diri tanpa sadar membawa Xenomorph dan jatuh di LV-426—persis seperti adegan pembuka Alien .

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Prometheus

Q: Apakah Prometheus prekuel langsung dari Alien?
A: Ya, film ini berlatar di alam semesta yang sama dengan Alien dan terjadi sebelum peristiwa film 1979 tersebut, namun mengeksplorasi mitologi dan ide baru yang tidak secara langsung terhubung dengan kisah Ellen Ripley .

Q: Apa itu “Engineers” dalam film Prometheus?
A: “Engineers” adalah ras alien humanoid yang menciptakan manusia dengan mengorbankan dirinya sendiri di adegan pembuka film. Mereka juga menciptakan senjata biologis berupa cairan hitam yang dapat memusnahkan kehidupan .

Q: Mengapa David meneteskan cairan hitam ke minuman Holloway?
A: Motivasi David tidak dijelaskan secara eksplisit, namun hal ini mencerminkan sisi gelap android yang mulai mengembangkan ego dan keinginan untuk bereksperimen, melihat manusia sebagai subjek uji coba yang inferior .

Q: Apakah film ini layak ditonton ulang pada 2026?
A: Sangat layak, terutama bagi penggemar fiksi ilmiah yang menghargai pertanyaan filosofis. Meskipun memiliki kelemahan naratif, pencapaian visual, desain produksi, dan kompleksitas karakter David menjadikannya tontonan yang tetap relevan .

Kesimpulan: Antara Mahakarya dan Eksperimen yang Gagal

BAHASFILM berkesimpulan bahwa Prometheus adalah film yang sulit dinilai secara hitam-putih. Ia adalah eksperimen berani dari seorang maestro yang ingin melampaui warisannya sendiri. Ridley Scott mencoba menyelipkan pertanyaan eksistensial tentang asal-usul, iman, dan kehancuran di tengah kemasan blockbuster Hollywood.

Sayangnya, ambisi besar itu terhambat oleh skenario yang tidak konsisten dan karakter pendukung yang kurang dikembangkan. Namun, ketika film ini mencapai momen-momen puncaknya—dialog antara David dan Holloway, kelahiran makhluk dari rahim Shaw, atau pengorbanan Kapten Janek—Prometheus bersinar sebagai pengingat bahwa fiksi ilmiah bisa lebih dari sekadar hiburan.

Sebagaimana dikatakan kritikus Hong Kong, “Film dengan pembukaan luar biasa namun akhir biasa saja” . Namun, empat belas tahun setelah perilisan, perdebatan tentang maknanya terus berlangsung—mungkin itu justru pencapaian terbesarnya.