Devils on the Doorstep (2000): Review Film Mandarin Karya Jiang Wen yang Kontroversial
BAHASFILM mengulas Devils on the Doorstep, sebuah Film Mandarin garapan sutradara Jiang Wen yang memadukan tragedi perang dengan komedi gelap. Dibintangi Jiang Wen sendiri, film ini meraih Grand Prix di Cannes namun dilarang beredar di China selama bertahun-tahun.
Jiang Wen adalah salah satu sineas paling berani di China. Devils on the Doorstep hadir pada tahun 2000 sebagai sebuah Film Mandarin yang hingga kini masih diperbincangkan karena keberaniannya mengkritisi sejarah. BAHASFILM akan mengajak Anda menyelami film yang mendapatkan skor 9.3 di Douban ini, menjadikannya salah satu film China dengan rating tertinggi sepanjang masa. Dalam ulasan kali ini, BAHASFILM membedah bagaimana film ini menjadi kritik tajam terhadap absurditas perang, sekaligus kisah tragis tentang nasib rakyat kecil di tengah konflik besar.
BAHASFILM mencatat bahwa film ini bukan sekadar tontonan sejarah biasa. Ia adalah sebuah mahakarya kontroversial yang membuat karier Jiang Wen terpuruk, namun sekaligus mengangkat namanya di kancah internasional. Mari kita telusuri bersama.
Baca Juga : House of Flying Daggers (2004): Review Film China Zhang Yimou
Profil Film Versi BAHASFILM: Data Lengkap Devils on the Doorstep
Sinopsis: Ketika Dua Tawanan Tiba di Depan Pintu
Tahun 1944-1945, masa pendudukan Jepang di China. Sebuah desa terpencil bernama Guajiatai (Rack-Armor Terrace) di kaki Gunung Shanhaiguan, Hebei, hidup dalam ketakutan . Ma Dasan (Jiang Wen), seorang petani sederhana, sedang bermesraan dengan kekasihnya Yu’er (Jiang Hongbo) ketika seseorang misterius tiba-tiba mengetuk pintu di tengah malam .
Orang itu, yang hanya dikenal sebagai “Me”, membawa dua karung goni berisi tawanan. Satu karung berisi Kosaburo Hanaya (Kagawa Teruyuki), seorang sersan Jepang yang bengis. Satu lagi berisi Dong Hanchen (Yuan Ding), penerjemah China yang penurut . Dengan todongan senjata, Ma diperintahkan menjaga kedua tawanan itu hingga Tahun Baru Imlek .
Review Film Mandarin ini mengungkap bahwa penduduk desa panik. Mereka takut pada orang misterius itu, tapi juga takut pada Jepang. Seluruh desa akhirnya sepakat mengikuti instruksi dan menahan kedua tawanan di ruang bawah tanah rumah Ma . Hanaya berulang kali berusaha memprovokasi warga untuk membunuhnya, tapi Dong, yang takut akan nyawanya, mengubah kata-kata Hanaya dalam terjemahan agar terdengar lebih bersahabat .
Klimaks dan Spoiler: Puncak Tragedi dalam Analisis BAHASFILM
BAHASFILM harus memberi peringatan: bagian berikut mengandung bocoran cerita penting.
Janji tahun baru berlalu. Enam bulan kemudian, sang misterius tak kunjung kembali. Penduduk desa kehabisan kesabaran dan memutuskan membunuh para tawanan. Undian jatuh pada Ma. Namun ia tak sanggup membunuh . Ia justru menyembunyikan mereka di menara pengawas di sepanjang Tembok Besar, diam-diam memberi mereka makan dan minum.
Upaya pelarian yang gagal membuka rahasia Ma. Penduduk desa bertengkar hebat. Mereka akhirnya mempekerjakan algojo tua bernama “One-Stroke Liu” (Chen Qiang) dari kota. Liu terkenal dengan satu tebasan pedang yang tidak menyakitkan. Namun Liu gagal. Ia menganggap itu kehendak surga dan pergi .
Pada titik ini, Hanaya telah kehilangan semua perlawanannya. Ia dipenuhi rasa terima kasih pada penduduk desa. Ia berjanji memberi hadiah dua gerobak gandum jika dibebaskan . Penduduk setuju dan mengembalikan tawanan ke kamp Jepang.
Namun militer Jepang telah menjadikan Hanaya pahlawan, mengira ia tewas dalam pertempuran. Kembalinya Hanaya hidup-hidup justru mempermalukan mereka. Komandan Kapten Inokichi Sakatsuka (Kenya Sawada) memukuli Hanaya, namun merasa terikat kehormatan untuk memenuhi janji .
Para prajurit Jepang datang ke desa berpesta dengan penduduk. Tapi saat Ma pergi menjemput Yu’er, Sakatsuka menuduh Ma memanggil pasukan perlawanan. Ia memerintahkan pembantaian seluruh penduduk desa . Desa dibakar habis.
Setelah Jepang menyerah, pasukan China mengambil alih. Dong dieksekusi sebagai kolaborator. Ma yang dendam menyamar dan membunuh beberapa tawanan Jepang. Ia ditangkap. Komandan China menganggap perbuatan Ma terlalu keji untuk dihukum mati oleh tentara China, sehingga memerintahkan tawanan Jepang yang mengeksekusinya .
Hanaya yang ditugaskan, mengayunkan pedang. Kepala Ma jatuh ke tanah, menggelinding sembilan kali, berkedip tiga kali, dan tersenyum—persis seperti yang dikatakan One-Stroke Liu . Adegan ini menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Film Mandarin.
Tokoh dan Pemeran: Analisis Karakter oleh BAHASFILM
Proses Kreatif: Lahirnya Sebuah Film Mandarin Kontroversial
BAHASFILM menemukan fakta menarik dalam proses produksi film ini. Diadaptasi dari novel “Survival” karya You Fengwei, naskahnya mengalami modifikasi besar-besaran . Jiang Wen mengubah tema perlawanan heroik dalam novel menjadi eksplorasi tentang “ketidaktahuan petani” dan “absurditas perang” .
Dengan anggaran $3,9 juta, Devils on the Doorstep menjadi produksi independen yang ambisius. Jiang Wen merekrut Gu Changwei, sinematografer legendaris di balik Farewell My Concubine, untuk menangani visual. Keputusan menggunakan format hitam-putih dipilih untuk meniru gaya film perang klasik yang ia tonton semasa kecil .
Yang menarik, film ini melibatkan kolaborasi lintas negara. Aktor Jepang Kagawa Teruyuki dan Kenya Sawada bergabung, menciptakan dinamika autentik antara tawanan dan penduduk desa. Adegan pesta yang berubah menjadi pembantaian direkam dengan intensitas luar biasa, menggunakan ribuan figuran.
Namun kontroversi langsung mengikuti setelah film selesai. Pemerintah China melarang film ini beredar karena Jiang Wen menolak memotong adegan-adegan tertentu . Akibatnya, Jiang Wen dilarang menyutradarai film selama beberapa tahun . Ironisnya, film ini justru meraih sambutan meriah di kancah internasional.
Sinematografi: Bahasa Visual Gu Changwei
Gu Changwei menciptakan visual yang memukau dalam format hitam-putih. BAHASFILM menyoroti beberapa teknik utama:
Pertama, penggunaan kontras tinggi. Adegan-adegan gelap di ruang bawah tanah menciptakan rasa klaustrofobia yang mencekik. Sementara adegan luar ruang di salju memberikan nuansa dingin dan terasing.
Kedua, komposisi yang memperkuat absurditas. Adegan-adegan komedi sering difilmkan dengan sudut lebar yang membuat situasi terasa aneh dan tidak nyata—persis seperti kondisi perang itu sendiri.
Ketiga, satu-satunya warna merah di akhir film. Ketika kepala Ma Dasan jatuh dan darah memancar, untuk pertama kalinya warna muncul. Ini adalah keputusan visual yang cemerlang, mengingatkan pada gaun merah dalam Schindler’s List. Darah merah menjadi simbol kebiadaban yang tak terbantahkan .
Seorang kritikus menulis, “Oleh adegan akhir, yang mengambil sudut pandang kepala yang dipenggal, komedi yang mengerikan itu telah membengkak, melampaui kemarahan, hingga mencapai puncak histeria yang memabukkan” .
Musik: Kolaborasi Para Maestro
Cui Jian, musisi rock legendaris China yang dijuluki “Bapak Rock China”, berkolaborasi dengan Liu Xing dan Li Haiying menciptakan musik yang unik . Mereka memadukan instrumen tradisional China dengan elemen modern, menciptakan suara yang aneh sekaligus memikat—sempurna untuk nada absurd film ini.
Musik dalam adegan pesta menjadi sorotan. Irama ceria mengiringi perayaan, namun penonton tahu malapetaka akan datang. Disonansi ini menciptakan ketegangan yang tak terlupakan.
Poin Penting dalam Analisis BAHASFILM
- Komedi Gelap yang Mencekik: Devils on the Doorstep adalah salah satu Film Mandarin paling berani dalam hal genre. Ia memadukan slapstick, tragedi, dan satire dalam satu paket utuh .
- Kritik pada Mentalitas Budak: Jiang Wen mengkritik bagaimana masyarakat China selama ini digambarkan sebagai korban pasif. Ia menunjukkan bahwa ketidaktahuan dan ketakutan justru menjadi sumber tragedi .
- Simbolisme Kepala yang Tersenyum: Adegan akhir yang ikonik menyampaikan pesan bahwa Ma Dasan akhirnya mencapai kedamaian setelah sekian lama hidup dalam ketakutan .
- Absurditas Perang: Seperti ditulis seorang kritikus, film ini “menyampaikan pesan yang sama dengan Closely Watched Trains dan No Man’s Land. Sambil mengakui bahwa perang adalah neraka, film ini melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa perang itu konyol” .
- Kemanusiaan di Tengah Kebiadaban: Hubungan yang terbentuk antara Hanaya dan penduduk desa menunjukkan bahwa bahkan di tengah perang, kebaikan masih mungkin muncul. Namun ironisnya, kebaikan ini justru berujung pada kehancuran.

Rating dan Penerimaan: Perspektif BAHASFILM
Devils on the Doorstep meraih pengakuan luar biasa di kancah internasional, meski dilarang di dalam negeri.
| Sumber | Rating | Catatan dari BAHASFILM |
|---|---|---|
| IMDb | 8.1/10 | Rating dari puluhan ribu pengguna global, menempatkannya sebagai salah satu film Asia dengan rating tertinggi. |
| Douban | 9.3/10 | Rating dari lebih 681.000 pengguna China. Masuk peringkat 44 dalam Top 250 Film Terbaik versi Douban . |
| Metacritic | 70/100 | Metascore dari kritikus, kategori “Generally Favorable” . |
| FilmAffinity | 7.0/10 | Rating dari 392 pengguna . |
Pencapaian bergengsi yang diraih:
- Grand Prix di Festival Film Cannes 2000 .
- Nominasi Palme d’Or di Festival Film Cannes 2000 .
- French Culture Award untuk Jiang Wen di Cannes 2001 .
- 7 kemenangan dan 3 nominasi di berbagai festival internasional .
Kutipan Kritikus:
J. Hoberman dari The Village Voice menulis, “Jiang mendapatkan banyak humor dari situasi ini, tapi film ini tak terhindarkan meledak dalam kekerasan yang mengerikan” . Elbert Ventura dari AllMovie menyebutnya, “Sebuah wahana liar yang dengan mudah menggabungkan humor gelap iblis, komedi slapstick, kekerasan ekstrem, dan satire pahit” .
FAQ Seputar Devils on the Doorstep
Mengapa film ini dilarang di China?
Pemerintah China melarang film ini karena Jiang Wen menolak memotong adegan-adegan tertentu. Film ini dianggap tidak sesuai dengan narasi heroik tentang perang melawan Jepang . Akibatnya, Jiang Wen dilarang menyutradarai film selama beberapa tahun.
Apa makna adegan akhir dengan kepala yang tersenyum?
Menurut Jiang Wen, Ma Dasan pada awalnya sangat ketakutan tapi tidak tahu asal-usul ketakutannya. Titik balik terjadi ketika ia melihat desanya terbakar dan penduduknya dibantai. Ia kemudian mengatasi ketakutannya dan mulai merindukan kematian. Di adegan akhir, Ma mati dengan kematian yang memuaskan karena ia telah memenuhi keinginannya .
Apakah film ini anti-Jepang?
Jiang Wen membantah hal ini. Dalam wawancara, ia mengatakan bahwa film ini bukan tentang perang, melainkan tentang kondisi manusia . Ia berharap film ini bisa membuat penonton China dan Jepang sama-sama menghadapi sejarah .
Di mana lokasi syuting film ini?
Film ini mengambil gambar di pedesaan Hebei, China, di kaki Pegunungan Shanhaiguan dekat Tembok Besar .
Warisan dan Pengaruh: Mengapa Film Ini Penting Menurut BAHASFILM
Devils on the Doorstep bukan sekadar Film Mandarin biasa. Ia adalah mahakarya kontroversial yang membuktikan bahwa sinema bisa menjadi alat kritik sosial yang tajam. Dengan keberanian Jiang Wen menghadapi sensor, film ini menjadi simbol perlawanan terhadap narasi tunggal sejarah.
Warisan terbesarnya: membuka mata dunia tentang kompleksitas sejarah China-Jepang. Tidak seperti film-film propaganda yang menggambarkan rakyat China sebagai pahlawan sempurna, Devils on the Doorstep menunjukkan mereka sebagai manusia biasa—dengan segala ketakutan, kebodohan, dan kebaikan hati mereka.
Film ini juga menjadi batu loncatan bagi aktor-aktor lintas negara. Kagawa Teruyuki membuktikan bahwa aktor Jepang bisa diterima di film China. Kolaborasi ini membuka jalan bagi produksi-produksi bersama di masa depan.
Dari sisi sinematografi, keputusan menggunakan hitam-putih dan satu warna merah di akhir menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah film. Ia menginspirasi banyak sineas untuk berani bereksperimen dengan format.
BAHASFILM mencatat bahwa film ini juga mengubah cara pandang tentang komedi perang. Ia membuktikan bahwa tertawa di tengah tragedi bukanlah penghinaan, melainkan cara untuk bertahan hidup.
Yang terpenting, Devils on the Doorstep mengingatkan kita pada harga dari ketidakpedulian. Ma Dasan dan penduduk desa hanya ingin hidup damai. Mereka tidak memilih pihak. Namun dalam perang, tidak ada yang netral. Kepala yang tersenyum di akhir film menjadi pengingat bahwa bahkan dalam kematian, manusia bisa menemukan kedamaian yang tak pernah mereka dapatkan semasa hidup.
Kesimpulan dari BAHASFILM:
Devils on the Doorstep adalah film yang sulit dilupakan. Ia membuat kita tertawa di satu menit, lalu membekap kita dengan kengerian di menit berikutnya. Jiang Wen berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang utuh—sebuah perjalanan emosional yang melelahkan namun memuaskan.
Dua dekade setelah kelahirannya, film ini masih relevan. Ia masih bisa membuat kita merenung tentang absurditas perang, tentang harga dari ketakutan, dan tentang kemanusiaan yang kadang muncul di tempat-tempat paling tak terduga. BAHASFILM dengan bangga menempatkannya sebagai salah satu Film Mandarin terpenting yang wajib ditonton—setidaknya sekali, meskipun mungkin Anda tidak akan sanggup menontonnya dua kali.
Temukan review film jujur dan mendalam lainnya hanya di BAHASFILM. Kunjungi situs kami untuk ulasan eksklusif berbagai film dari China dan seluruh dunia.

