Cobra (1986): Sinopsis, Spoiler, dan Review Lengkap Film Sylvester Stallone

bahasfilm – Pembaca setia bahasfilm di Indonesia, siapa yang tidak kenal Sylvester Stallone? Ikon film laga tahun 80-an ini telah membintangi puluhan film legendaris. Salah satu karyanya yang wajib Anda tonton adalah Cobra yang rilis pada tahun 1986. Kali ini, tim redaksi bahasfilm akan mengupas tuntas film arahan sutradara George P. Cosmatos tersebut. Kami akan membahas sinopsis singkat, spoiler alur, karakter pemain, proses pembuatan, sinematografi, hingga review dan rating dari berbagai sumber. Simak ulasan lengkapnya hanya di bahasfilm!

BACA JUGA : Review Film Knives Out (2019): Misteri, Keluarga, dan Plot Twist Mengejutkan


Sekilas Tentang Film Cobra (1986) Menurut bahasfilm

bahasfilm mencatat bahwa Cobra adalah film aksi klasik yang mewakili eranya dengan sempurna. Film ini dirilis pada 23 Mei 1986 di Amerika Serikat. Warner Bros. bertindak sebagai distributor utama.

Sylvester Stallone tidak hanya menjadi pemeran utama. Ia juga menulis skenario film ini. Stallone terinspirasi dari naskah awal yang ia tulis untuk Beverly Hills Cop. Namun, studio menolak versinya yang terlalu gelap dan penuh aksi.

Karakter Letnan Marion “Cobra” Cobretti lahir dari situasi tersebut. Stallone kemudian mengadaptasi idenya menjadi film yang berdiri sendiri. Ia menggabungkannya dengan novel Fair Game karya Paula Gosling.

Menurut catatan bahasfilm, film ini awalnya mendapat rating X dari MPAA. Penyebabnya adalah kekerasan grafis yang terlalu eksplisit. Warner Bros. harus memotong beberapa adegan agar mendapat rating R. Versi potongan inilah yang kemudian beredar di bioskop.

Meskipun kritikus kurang berkenan, penonton justru berbondong-bondong datang. Cobra berhasil meraup $160 juta di seluruh dunia. Angka ini sangat impresif untuk film bergenre aksi di masanya.


Sinopsis Singkat Film Cobra (1986) Versi bahasfilm

bahasfilm akan memaparkan sinopsis film ini tanpa spoiler berat terlebih dahulu. Simak baik-baik alur awalnya berikut ini.

Los Angeles sedang diteror oleh pembunuh berantai sadis. Kelompok ini menamakan diri mereka “The New World“. Mereka menganut paham ekstrem untuk membersihkan masyarakat dari orang-orang lemah.

Kepolisian Los Angeles (LAPD) memiliki unit elit bernama “Zombie Squad”. Unit ini dipanggil untuk menangani kasus-kasus terberat yang tidak bisa diselesaikan polisi biasa.

Letnan Marion “Cobra” Cobretti adalah anggota terbaik Zombie Squad. Ia dikenal dengan metodenya yang keras dan tidak konvensional. Cobra tidak pernah ragu untuk melanggar prosedur demi menyelesaikan masalah.

Suatu malam, seorang model cantik bernama Ingrid Knudsen mengalami kejadian mengerikan. Ia tanpa sengaja menyaksikan aksi pembunuhan yang dilakukan oleh “The New World“. Pemimpin kelompok sadis itu dikenal dengan julukan “Night Slasher”.

Ingrid segera menjadi target utama organisasi tersebut. Mereka ingin membungkamnya sebelum ia bisa bersaksi. Cobra dan rekannya, Sersan Tony Gonzales, ditugaskan untuk melindungi Ingrid.

Perlindungan saksi ini tidak berjalan mulus. Berbagai upaya pembunuhan terus dilancarkan. Cobra curiga ini bukan kerjaan pembunuh tunggal, melainkan organisasi besar.

Atasan Cobra menolak teorinya. Demi keselamatan Ingrid, Cobra membawanya ke kota kecil bernama San Remos. Di sanalah mereka bersembunyi sambil menunggu persidangan.

Namun, ketenangan mereka terusik ketika fajar tiba. Gerombolan “The New World” yang mengendarai motor mengepung kota kecil itu. Pertarungan sengit pun tidak terhindarkan.


Spoiler Alur Film Cobra (1986) Peringatan dari bahasfilm

PERHATIAN: BAGIAN INI MENGANDUNG BOCORAN ALUR ATAU SPOILER BERAT. Jika Anda belum menonton film ini dan ingin menikmati kejutannya, lewati bagian ini. Namun, jika Anda ingin tahu detail akhir ceritanya, mari lanjutkan bersama bahasfilm.

Serbuan “The New World” ke San Remos berlangsung sangat dahsyat. Puluhan anggota geng motor menyerang kota dengan brutal. Mereka menembak siapa pun yang menghalangi jalan.

Cobra dan Gonzales bertahan dengan gagah berani. Mereka berhasil membunuh banyak anggota kultus. Namun, Gonzales tertembak dan terluka parah.

Cobra dan Ingrid terpaksa melarikan diri dengan truk pickup. Para pemburu terus mengejar mereka tanpa henti. Mereka berhasil merusak truk Cobra dengan penghadang jalan.

Tanpa pilihan lain, Cobra dan Ingrid berlari menuju pabrik baja tua yang terbengkalai. Tempat itu menjadi lokasi pertarungan pamungkas. Satu per satu anggota kultus yang tersisa berhasil dilumpuhkan.

Nancy Stalk, polisi wanita dalam tim pengawal, ternyata adalah pengkhianat. Ia adalah anggota “The New World” dan kekasih Night Slasher. Nancy tanpa sengaja tertembak oleh pemimpinnya sendiri di tengah kekacauan.

Puncak pertarungan adalah duel satu lawan satu. Cobra dan Night Slasher bertarung di dalam pabrik penuh peralatan berat. Kait-kait besar dan tungku api menjadi saksi bisu pertarungan sengit tersebut.

Dengan kegigihannya, Cobra berhasil mengalahkan Night Slasher. Ia menusuk lawannya dengan kait besar. Night Slasher terseret masuk ke dalam tungku pembakaran dan tewas terbakar hidup-hidup.

Tim LAPD yang dipimpin Detektif Monte tiba setelah pertempuran usai. Mereka mengevakuasi Gonzales yang terluka. Monte kembali mengkritik Cobra karena dianggap bertindak berlebihan.

Merasa jengkel, Cobra melayangkan pukulan keras ke wajah Monte. Di akhir film, Cobra dan Ingrid pergi meninggalkan kota. Mereka mengendarai motor milik anggota “The New World” yang tewas.


Daftar Karakter dan Pemain Film Cobra

Siapa saja pemain yang membintangi film ini? Menurut catatan bahasfilm, berikut daftar lengkapnya.

Pemeran Utama

Sylvester Stallone sebagai Letnan Marion “Cobra” Cobretti. Ia adalah polisi jalanan yang keras dan cerdas. Cobra hidup dengan aturannya sendiri. Ia anggota elit “Zombie Squad” yang dipanggil untuk kasus terberat. Stallone sendiri yang menulis karakter ini.

Brigitte Nielsen sebagai Ingrid Knudsen. Ia adalah model cantik yang menjadi saksi mata pembunuhan. Ingrid adalah target utama “The New World“. Di dunia nyata, Brigitte adalah istri Stallone saat syuting film ini.

Reni Santoni sebagai Sersan Tony Gonzales. Ia adalah partner setia Cobra. Gonzales selalu mendampingi Cobra dalam setiap misi berbahaya. Karakarnya menjadi penyeimbang sifat keras Cobra.

Andrew Robinson sebagai Detektif Monte. Ia adalah detektif LAPD yang selalu bersitegang dengan Cobra. Monte mewakili sisi birokrasi yang dibenci Cobra. Ia terus mengkritik metode kerja Cobra yang tidak konvensional.

Pemeran Pendukung dan Antagonis

Brian Thompson sebagai “Night Slasher”. Ia adalah pemimpin kultus “The New World“. Karakternya kejam dan psikopat. Ini adalah peran besar pertama Brian Thompson di Hollywood.

Lee Garlington sebagai Nancy Stalk. Ia adalah polisi wanita yang menyusup ke tim pengawal Cobra. Diam-diam Nancy adalah anggota “The New World” dan tangan kanan Night Slasher.

John Herzfeld sebagai Cho. Ia adalah salah satu anggota kultus “The New World“.

Art LaFleur sebagai Kapten Sears. Ia adalah atasan Cobra dan Gonzales di LAPD.

Marco Rodríguez sebagai Pembunuh di Supermarket. Karakternya membuka cerita tentang “The New World” di awal film.

Val Avery sebagai Kepala Polisi Halliwell.

David Rasche sebagai Dan. Ia adalah kekasih Ingrid yang menjadi korban pertama “The New World“.


Proses Pembuatan Film Cobra Ide Naskah hingga Syuting

bahasfilm akan mengungkap fakta menarik di balik layar pembuatan film ini.

Asal-Usul Naskah

Skenario Cobra ditulis oleh Sylvester Stallone sendiri. Tahukah Anda bahwa naskah ini awalnya untuk film lain?

Stallone ditawari memerankan Axel Foley dalam Beverly Hills Cop. Ia merasa film itu tidak cocok untuknya. Stallone kemudian menulis ulang naskahnya secara total. Ia menghilangkan semua elemen komedi. Stallone mengubahnya menjadi film aksi gelap penuh kekerasan.

Studio Paramount Pictures menolak revisi naskah Stallone. Mereka menganggap biaya produksinya akan membengkak. Proyek pun ditinggalkan Stallone. Peran Axel Foley akhirnya diberikan kepada Eddie Murphy.

Tidak ingin idenya sia-sia, Stallone menggunakan ulang naskah tersebut. Ia mengadaptasinya menjadi cerita orisinal. Stallone menggabungkannya dengan novel Fair Game karya Paula Gosling. Hasilnya adalah skenario untuk Cobra.

Proses Syuting

Syuting Cobra tidak lepas dari berbagai drama. Awalnya film ini direncanakan mengambil lokasi di Seattle. Adegan klimaks akan berlangsung di atas feri pada malam hari. Stallone membatalkannya karena masalah nyamuk yang akan mengganggu syuting malam.

Para pemeran pendukung dilarang keras berbicara dengan Stallone di lokasi syuting. Ada insiden di mana Stallone mengeluh kepada sinematografer Ric Waite. Ia menganggap proses syuting terlalu lambat.

Waite dengan berani menjawab bahwa keterlambatan itu disebabkan Stallone sendiri. Stallone terlalu banyak bermanja-manja dengan Brigitte Nielsen. Ia juga pamer pada bodyguard-nya. Meski kaget, Stallone sempat memperbaiki sikapnya.

Ric Waite kemudian menyatakan bahwa Stallone memiliki ego besar tapi juga selera humor tinggi. Ia juga membenarkan desas-desus bahwa Stallone-lah yang menjadi sutradara bayangan. George P. Cosmatos lebih banyak menjadi eksekutor di lapangan.

Brian Thompson harus mengikuti tujuh kali audisi untuk mendapatkan peran Night Slasher. Stallone awalnya menganggap Thompson terlalu baik untuk memerankan psikopat.

Sylvester Stallone menggunakan mobil pribadinya sebagai kendaraan Cobra. Mobil itu adalah Mercury 1950 yang sudah dimodifikasi khusus. Tim produksi membuat tiga unit mobil stunt yang identik untuk keperluan aksi.

Pisau yang digunakan Night Slasher dirancang khusus oleh pembuat pisau legendaris Herman Schneider. Stallone meminta senjata yang tidak akan dilupakan penonton.


Sinematografi Film Cobra Gaya Visual Khas Era 80-an

bahasfilm mencatat bahwa sinematografi film ini digarap oleh Ric Waite. Ia adalah sinematografer berpengalaman yang pernah mengerjakan berbagai film besar.

Gaya visual Cobra sangat khas dengan nuansa gelap. Los Angeles digambarkan sebagai kota yang kumuh di malam hari. Penggunaan lampu neon yang mencolok menciptakan atmosfer suram dan tegang.

Penggunaan filter dan pencahayaan kontras tinggi sangat dominan. Teknik ini mempertegas karakter Cobra sebagai sosok yang hidup di dunia hitam-putih. Ia berada di antara hukum dan kejahatan.

Adegan-adegan aksi ditangkap dengan kamera yang dinamis. Kejar-kejaran mobil dan motor terasa sangat nyata dan mendebarkan. Penonton diajak merasakan sensasi kecepatan dan bahaya.

Penggunaan slow motion pada momen-momen tertentu menjadi ciri khas. Saat Cobra menarik pelatuk atau saat Night Slasher tewas, efek slow motion memperkuat kesan epik. Ini adalah gaya khas film laga era 80-an.

Sinematografi Cobra berhasil menangkap esensi kota yang kotor dan berbahaya. Setiap bingkai mendukung karakter Cobra yang keras. Dunia kelam yang ia huni terasa sangat nyata dan mencekam.


Poin-Poin Penting dalam Alur Film Cobra

Berikut adalah poin-poin penting yang membuat film Cobra begitu berkesan. bahasfilm merangkumnya khusus untuk Anda.

Pembukaan Ikonik di Supermarket. Adegan ini langsung mengenalkan karakter Cobra yang cool dan mematikan. Dialog antara Cobra dan pelaku tentang “New World” langsung membangun misteri.

Kultus “The New World”. Konsep antagonis yang unik membuat film ini berbeda. Mereka bukan sekadar preman jalanan biasa. Organisasi rahasia dengan ideologi sosial Darwinis ini sangat terstruktur.

Hubungan Cobra dan Ingrid. Chemistry antara Stallone dan Brigitte Nielsen terasa alami. Mereka adalah pasangan suami-istri saat syuting. Kisah asmara yang tumbuh di tengah bahaya menjadi bumbu penyedap manis.

Pengkhianatan Nancy Stalk. Twist ketika diketahui bahwa polisi wanita pelindung Ingrid adalah mata-mata musuh. Ini menambah lapisan intrik dan ketegangan dalam cerita.

Pengepungan di San Remos. Serangan besar-besaran oleh gerombolan motor ke kota kecil yang damai. Ini adalah salah satu adegan aksi terbaik dalam film. Kekacauan dan baku tembak yang terjadi sangat mendebarkan.

Pertarungan di Pabrik Baja. Adegan klimaks ini adalah duel yang brutal dan penuh simbolisme. Lingkungan pabrik dengan kait dan tungku api digunakan sebagai senjata. Kematian Night Slasher yang tergantung di kait dan terbakar sangat ikonik.

Pukulan Terakhir untuk Monte. Sikap Cobra yang tidak peduli pada prosedur birokrasi diganjar dengan pukulan terakhir. Ini menegaskan bahwa Cobra adalah pahlawan yang hidup di luar sistem.


Review dan Rating Film Cobra dari Berbagai Sumber

bahasfilm merangkum respons kritikus dan penonton terhadap film Cobra dari berbagai platform agregator film terkenal.

H3: Tanggapan Kritikus

Saat pertama kali dirilis tahun 1986, Cobra menerima ulasan negatif dari para kritikus. Banyak yang menyoroti lemahnya pengembangan karakter. Dialog yang kaku juga menjadi sasaran kritik. Ketergantungan berlebihan pada klise film laga dan kekerasan dianggap sebagai kelemahan.

Kritikus menyebut film ini sebagai tiruan Dirty Harry yang kurang cerdas. Mereka menganggapnya terlalu berlebihan dalam segala hal.

Namun seiring berjalannya waktu, pandangan terhadap film ini mulai berubah. Cobra kini secara luas dianggap sebagai film kultus atau cult classic. Film ini mewakili esensi film laga berlebihan di era 80-an.

Para penggemar modern mengapresiasi gaya visualnya yang khas. Karakter Cobra yang ikonik juga menjadi daya tarik tersendiri. Adegan-adegan aksi yang menghibur dan “cheesy” justru dinilai menyenangkan.

Rating dari Agregator

IMDb memberikan rating 5.8 dari 10. Rating ini berasal dari lebih dari 79.000 pengguna. Skor 58% menunjukkan respons yang cukup beragam dari penonton.

Rotten Tomatoes mencatat skor kritikus sebesar 18%. Hanya 17 ulasan kritikus yang masuk dalam agregator ini. Predikat “Rotten” atau busuk melekat pada film ini dari sisi kritikus. Namun skor penonton mencapai 53% dari lebih dari 50.000 rating.

Metacritic memberikan skor 25 dari 100. Skor ini termasuk dalam kategori “Generally Unfavorable” atau umumnya tidak disukai. Hanya 8 ulasan kritikus yang tercatat di platform ini.

Performa Box Office

Meskipun dihajar kritikus, Cobra terbukti sukses besar di box office. Budget produksi film ini adalah $25 juta. Pendapatan kotor worldwide mencapai $160 juta.

Angka ini membuktikan bahwa penonton tetap berbondong-bondong datang ke bioskop. Mereka ingin menyaksikan aksi Sylvester Stallone meskipun kritikus tidak menyukainya.


Fakta Menarik Film Cobra yang Wajib Anda Tahu

Sebagai penutup, bahasfilm merangkum beberapa fakta unik tentang film Cobra.

Dampak Top Gun. Film Cobra dipangkas habis-habisan oleh Stallone dan Warner Bros. Mereka khawatir kalah saing dengan Top Gun yang sedang meledak di pasaran. Pemangkasan durasi bertujuan menambah jumlah pemutaran per hari.

Rating X. Versi asli Cobra sangat brutal dan berdarah-darah. MPAA memberi rating X yang berarti hanya untuk penonton dewasa. Untuk bisa dirilis luas dengan rating R, banyak adegan kekerasan yang harus dipotong.

Dilarang Bicara dengan Bintang. Para aktor pendukung dan figuran dilarang keras berbicara dengan Sylvester Stallone di lokasi syuting. Aturan ini diterapkan untuk menjaga konsentrasi sang bintang.

Pisau Khusus. Pisau yang digunakan Night Slasher dirancang khusus oleh Herman Schneider. Stallone meminta senjata yang ikonik dan tidak terlupakan. Hasilnya adalah pisau dengan desain unik yang melekat di ingatan penonton.

Mobil Pribadi Stallone. Mobil Mercury 1950 yang dikendarai Cobra adalah milik pribadi Sylvester Stallone. Ia sangat bangga dengan mobil koleksinya itu.

Sutradara Bayangan. Ada rumor kuat yang dibenarkan oleh sinematografer Ric Waite. Sylvester Stallone-lah yang menjadi sutradara sebenarnya di balik layar. George P. Cosmatos hanya menjadi frontman atau pelaksana di lapangan.


Kesimpulan Warisan Film Cobra dalam Genre Action

Cobra mungkin bukan film terbaik dalam karier Sylvester Stallone. Kritikus mungkin mencemoohnya dengan berbagai cara. Namun bagi para penggemar film laga, film ini memiliki tempat spesial.

Karakter protagonis yang keras dan ikonik menjadi daya tarik utama. Antagonis yang mengerikan berhasil meninggalkan kesan mendalam. Dialog-dialognya mudah diingat dan sering dikutip penggemar.

Adegan aksi yang berlebihan namun menghibur menjadi ciri khas. Cobra telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu film kultus paling berharga dari masanya.

Di bahasfilm, kami percaya menonton Cobra seperti membuka mesin waktu. Anda akan kembali ke masa ketika film laga dibuat dengan sederhana. Penuh ledakan dan tidak perlu berpikir terlalu rumit.

Cukup duduk, nikmati popcorn, dan saksikan sang pahlawan menghabisi para penjahat. Itulah esensi hiburan yang ditawarkan Cobra.


Penutup dari bahasfilm

Itulah ulasan lengkap dari bahasfilm mengenai film Cobra (1986). Apakah Anda tertarik menonton atau menonton ulang film klasik ini? Atau mungkin Anda punya kenangan sendiri terkait film ini?

Yuk diskusikan di kolom komentar! Tim bahasfilm sangat antusias mendengar pendapat Anda.

Jangan lupa untuk selalu mengunjungi bahasfilm mendapatkan informasi terbaru. Kami menyediakan sinopsis, spoiler, dan review film-film terkini dan klasik lainnya.

Sampai jumpa di ulasan berikutnya! Salam film dari bahasfilm!