Jiu Jitsu (2020): Sebuah Review Film yang Menguliti Kegagalan Spektakuler di Balik Bintang-Bintang Besar
Sebuah Review Film yang jujur ini bukan hanya mengupas alur cerita, namun membedah mengapa film dengan Nicolas Cage dan Tony Jaa ini bisa menjadi salah satu bom terbesar box office dan kritik pada tahun 2020.
BAHASFILM – Film Jiu Jitsu (2020) hadir dengan janji besar. Ia menampilkan Nicolas Cage dan Tony Jaa dalam satu frame. Namun, Review Film ini akan membuktikan bahwa janji itu hampa. Kami akan menganalisis mengapa film ini gagal total. Gagal secara finansial dan juga kritik. BAHASFILM ini akan mengupas tuntas semua aspek. Mulai dari sinopsis yang kacau hingga produksi bermasalah.
Baca Juga : Review Film Lengkap The Wild Robot (2024)
Data Utama Jiu Jitsu: Angka-Angka yang Bicara
Sebelum masuk ke analisis, mari lihat fakta dasarnya. Data ini menjelaskan skala kegagalan film.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Judul | Jiu Jitsu |
| Sutradara | Dimitri Logothetis |
| Rilis | 20 November 2020 |
| Durasi | 102 menit |
| Pemeran | Alain Moussi, Nicolas Cage, Tony Jaa |
| Anggaran | $25 juta USD |
| Box Office Global | Kurang dari $100,000 USD |
Sinopsis Review Film: Premis Menjanjikan, Eksekusi Kacau
Jake Barnes adalah seorang pejuang. Ia terbangun tanpa ingatan di Burma. Ia lalu mengetahui sebuah kebenaran. Dirinya adalah bagian dari kelompok petarung elit. Misi mereka adalah melawan Brax. Brax adalah pemimpin alien yang menyerang Bumi setiap enam tahun. Review Film ini mencatat premis yang sebenarnya menarik. Sayangnya, eksekusi ceritanya langsung berantakan. Jake harus bersatu dengan kawan-kawannya. Termasuk Wylie (Nicolas Cage) dan Keung (Tony Jaa). Tujuannya adalah memenangkan duel terakhir melawan Brax.
Bagian Spoiler : Klimaks yang Menghasilkan Tanya, Bukan Jawaban
Konflik film berpuncak pada duel tersebut. Review Film ini mengungkap kelemahan terbesarnya. Adegan pertarungan final sangat tidak memuaskan. Alur yang membangunnya terasa dipaksakan. Motivasi setiap karakter tidak pernah benar-benar jelas. Brax sebagai penjahat terasa datar. Tidak ada ancaman yang menggentarkan. Akhir cerita justru meninggalkan banyak pertanyaan. Banyak penonton merasa bingung dan kecewa. Itulah inti dari semua review yang bernada negatif.
Analisis Karakter Review Film: Pemeran Kelas Dunia yang Tersia-siakan
Film ini memiliki nama-nama besar. Namun, nama besar tidak menjamin kualitas. Berikut analisis mendalam kami.
| Karakter | Pemeran | Analisis Review Film BAHASFILM |
|---|---|---|
| Jake Barnes | Alain Moussi | Protagonis dengan amnesia yang klise. Perkembangan karakternya nol. Penonton sulit merasa terhubung. |
| Wylie | Nicolas Cage | Penampilan Cage sangat over-the-top. Ia lebih banyak berteriak aneh daripada menunjukkan kemampuan bertarung. |
| Keung | Tony Jaa | Sebuah penghinaan bagi maestro bela diri. Keahlian Jaa sama sekali tidak dimanfaatkan. Perannya hanya jadi cameo. |
| Brax | – | Antagonis paling generik. Ia hadir hanya karena cerita butuh penjahat. Tanpa depth atau motivasi kuat. |

Detail Produksi Review Film: Skandal Hukum dan Sinematografi yang Menipu
Di balik layar, masalah film ini lebih dalam. Review ini menemukan fakta mencengangkan. Syuting dilakukan di Siprus. Namun, produser digugat pemerintah setempat. Gugatan diajukan karena janji insentif produksi tidak dibayar. Kasus hukum ini begitu serius. Rencana sekuel langsung dibatalkan. Ini adalah pertanda buruk sejak awal.
Aspek teknis film juga bermasalah. Judul film adalah Jiu Jitsu. Namun, jangan harap melihat seni bela diri yang sesungguhnya. Teknik ground fight dan submisi tidak ada. Yang ada hanya aksi pukul-pukulan biasa. Review Film kami menilai ini sebagai bentuk penipuan pada penonton. Sinematografinya gelap dan membingungkan. Adegan pertarungan sulit diikuti. Koreografinya tidak memiliki daya tarik.
Poin Kritik : Mengapa Jiu Jitsu Layak Dinobatkan sebagai Film Buruk
- Kesalahan Fatal di Naskah: Cerita tentang ritual duel alien bisa jadi menarik. Namun, eksekusinya seperti draft pertama. Alur tidak logis. Dialognya canggung.
- Pemborosan Talent secara Masif: Ini adalah dosa terbesar film. Menyatukan Cage dan Jaa adalah impian fans. Sayangnya, film ini menyia-nyiakan mereka sepenuhnya.
- Judul yang Menyesatkan: Ini adalah keluhan utama dalam banyak review. Film tentang “Jiu Jitsu” tapi kosong dari Jiu Jitsu sejati. Ini merusak ekspektasi penonton.
- Kegagalan Finansial yang Historis: Anggaran $25 juta versus pendapatan <$100,000. Angka ini bukan sekadar gagal. Ini adalah bencana keuangan yang langka.
Rating dan Tanggapan Kritik: Review Film Berdasarkan Data Keras
Vonis kritik dan penonton sangat jelas. Data dari agregator terpercaya membuktikan kegagalan ini.
- Rotten Tomatoes: Skor 28% berdasarkan puluhan ulasan kritik. Konsensusnya menyebut film “tidak menarik dan kacau”.
- Metacritic: Skor 28/100. Ini masuk kategori “ulasan umumnya tidak suka”.
- IMDb: Rating pengguna sekitar 3.8/10. Ribuan review film dari penonton menyebutnya membosankan.
Beberapa media sangat keras. Situs seperti RogerEbert memberinya nilai sangat rendah. Hanya sedikit yang memberi “pujian”. Itu pun dengan catatan film ini “sangat buruk sampai jadi lucu”. Mayoritas review film bernada miring.
Kesimpulan Review Film:
Jiu Jitsu (2024) adalah pembelajaran berharga. Ia mengajarkan bahwa bintang besar dan konsep unik bukanlah jaminan. Film ini gagal di skrip, karakter, aksi, dan bisnis. Ia layak ditonton hanya sebagai bahan studi kasus “cara tidak membuat film”. Atau mungkin untuk tertawa melihat kegagalannya. Bagi yang menghargai waktu, review ini menyarankan untuk menghindarinya. Cari film laga lain yang lebih bermartabat. Untuk analisis dan review film tajam lainnya, kunjungi selalu BAHASFILM.

