bahasfilm – kali ini mengupas tuntas film yang penuh kontroversi. Iceman: The Time Traveller adalah sekuel dari film Iceman (2014) . Film ini kembali dibintangi oleh Donnie Yen sebagai He Ying. Ia adalah seorang perwira pengawal dari Dinasti Ming . He Ying bersama tiga saudara angkatnya, Sao (Wang Baoqiang), Niehu (Yu Kang), dan Yuanlong (Simon Yam), secara tidak sengaja membeku selama 400 tahun . Mereka terbangun di Hong Kong modern . Cerita berfokus pada pencarian He Ying terhadap Golden Wheel of Time . Artefak ini adalah alat legendaris yang bisa membawanya kembali ke masa lalu . Tujuannya adalah mengubah sejarah kelam pembantaian di Desa Taoyuan . Namun, ia harus berhadapan dengan saudara angkatnya yang haus kekuasaan. Bahasfilm mencatat bahwa premis ini sebenarnya menarik, tetapi eksekusinya bermasalah.
BACA JUGA : Riview Film Terbaru: Gunslingers (2025)
Spoiler: Alur Lengkap Perjalanan Kembali ke Masa Lalu
Perhatian: Bagian ini mengandung bocoran alur film (spoiler).
Tim bahasfilm telah merangkum alur lengkapnya untuk Anda. Film dibuka dengan kilas balik panjang . Ini menceritakan kembali kejadian di film pertama di Jembatan Tsing Ma . He Ying selamat setelah jatuh dari jembatan. May (Huang Shengyi), kekasihnya di masa modern, dikejar paparazzi.
Yuanlong kini menjadi Kepala Kepolisian Hong Kong. Ia menemukan He Ying dan membawanya ke Beijing. Mereka mencari Roda Emas Waktu. Di sinilah tipu daya Yuanlong terungkap. Ia ingin kembali ke masa lalu bukan untuk menyelamatkan desa. Tujuannya adalah bersekutu dengan Jenderal Hojo (Yasuaki Kurata) . Mereka berencana menggulingkan Kaisar Ming muda. Yuanlong dan Niehu menyandera May. Mereka memaksa He Ying membuka gerbang waktu.
He Ying dan May mengikuti mereka ke masa lalu. Mereka tiba di Desa Taoyuan beberapa hari sebelum pembantaian. Pertarungan klimaks terjadi di atas kereta kuda. He Ying melawan Jenderal Hojo. Di sisi lain, Sao gugur di tangan Niehu. Ia berusaha melindungi warga desa. He Ying berhasil mengalahkan Hojo. Namun, konsekuensi perjalanan waktu meninggalkan tanda tanya besar. Apakah sejarah benar-benar bisa diubah? Bahasfilm menilai akhir ceritanya terasa terburu-buru dan membingungkan .
Karakter dan Pemain: Kembalinya Para Bintang
Bahasfilm menyajikan daftar lengkap pemeran utama. Berikut adalah karakter dan pemain dalam film ini.
Menurut bahasfilm, kehadiran Yasuaki Kurata adalah daya tarik tersendiri. Namun, secara umum, akting para pemain dinilai datar . Bahkan Donnie Yen terlihat kehilangan semangat dalam film ini .
Detail Pembuatan: Drama di Balik Layar
bahasfilm menemukan fakta menarik di balik layar film ini. Film ini sebenarnya syuting bersamaan dengan film pertama pada tahun 2014 . Namun, perilisannya tertunda hingga empat tahun kemudian . Penundaan ini memicu berbagai masalah.
Kontroversi terbesar adalah sengketa antara Donnie Yen dan rumah produksi . Donnie Yen bahkan tidak mau mempromosikan film ini sama sekali . Seorang sumber menyebut para pemain tidak dibayar untuk sekuel ini . Donnie Yen dikabarkan menawarkan diri untuk syuting ulang gratis. Ia ingin memperbaiki kualitas film yang buruk. Namun, studio menolak mengeluarkan biaya sepeser pun . Bahasfilm menilai drama di balik layar ini lebih seru daripada filmnya sendiri.
- Sutradara: Raymond Yip (Wai-Man Yip)
- Penulis Skenario: Fung Lam, Mark Wu, dan lainnya
- Rumah Produksi: Zhongmeng Century Media, Bona Film Group
- Durasi: 87 – 104 menit (bervariasi)
- Anggaran: Dikabarkan sekitar 25 juta USD per film
- Pendapatan: Hanya sekitar 5 juta USD di box office China
Sinematografi: Antara Aksi dan Efek Visual
Secara teknis, sinematografi film ini menuai banyak kritik. Seorang pengamat dari bahasfilm menjelaskan kelemahannya. Koreografi laga sebenarnya diarahkan oleh Donnie Yen sendiri . Hasilnya, adegan tarung terlihat mengesankan secara teknis. Namun, sinematografinya gagal menangkap aksi dengan baik . Beberapa kritikus menyebut kamera bergoyang seperti operatornya sedang sakit .
Efek visual (CGI) menjadi kelemahan utama lainnya. Banyak latar belakang yang jelas-jelas menggunakan layar hijau. Kualitasnya dinilai sangat murahan untuk film beranggaran besar . Adegan di atas kereta yang seharusnya epak terasa palsu. Sayangnya, film ini juga dirilis dengan konversi 3D yang buruk . bahasfilm berpendapat, aspek teknis ini merusak seluruh pengalaman menonton.
Poin Penting dalam Alur Film
Berikut adalah poin-poin penting yang dirangkum oleh bahasfilm.
- Konsep Perjalanan Waktu yang Ambisius. Film mencoba menggabungkan sejarah Dinasti Ming, teknologi modern, dan petualangan lintas waktu .
- Pengkhianatan Saudara Angkat. Konflik utama adalah tragedi persahabatan empat saudara yang berakhir karena ambisi kekuasaan .
- Kunjungan ke Kota Terlarang. Momen di Beijing ini menjadi titik balik di mana motif Yuanlong mulai dipertanyakan .
- Kematian Heroik Sao. Karakter Sao mengalami transformasi dari antagonis kocak menjadi pahlawan di akhir cerita .
- Klimaks di Atas Kereta. Pertarungan final He Ying melawan Jenderal Hojo di atas kereta kuda yang melaju .
- Akhir Cerita yang Mengambang. Film ditutup dengan ambigu, membuat penonton bertanya-tanya tentang nasib para karakter .
Review dan Rating dari Kritikus
Bahasfilm telah mengumpulkan berbagai ulasan dari kritikus ternama. Hasilnya sangat mengecewakan.
- South China Morning Post: Memberi rating 0.5/5. Menyebut film ini “menghina publik yang membayar” dan “kumpulan adegan tanpa makna” .
- easternKicks: Memberi rating 1/5. Menyebutnya “film aksi yang benar-benar mengerikan”.
- IMDb: Rating pengguna 4.0/10 berdasarkan lebih dari 1.100 suara .
- KapanLagi.com: Rating pengguna Indonesia 4.4/10 .
- Google Play: Rating 3.4/5 berdasarkan 8 ulasan .
- Rotten Tomatoes: Memiliki skor tomatometer 17% .
Kritikus sepakat bahwa alur cerita tidak koheren dan membingungkan . Bahkan seorang kritikus menulis, “Tidak heran Donnie Yen tidak mau mempromosikan film ini” . bahasfilm mencatat bahwa ini adalah titik terendah dalam karier Donnie Yen .
Testimoni Penonton: Kebingungan di Tengah Aksi
Selain kritikus, penonton biasa juga memberikan pendapatnya. Berikut adalah beberapa testimoni yang dikutip oleh bahasfilm.
“The worst of donnie yen movie.. the story just makes no sense.” – Ulasan di IMDb
“Honestly, this movie is quite confusing and the ending is quite abrupt.” – Tiger Heng, pengguna Popcorn
“Everything is good except the ending. I hope there is a third one. Overall, i think the show is quite rushed.” – Casper Chan, pengguna Popcorn
“The acting by Donnie yen, visuals and music was good just that the storyline could have been improved on.” – Tristan Jun Yu Ng, pengguna Popcorn
Meskipun banyak kritik negatif, beberapa penonton memuji akting Donnie Yen. Namun, mayoritas setuju bahwa alur cerita adalah titik lemah utama film ini. bahasfilm berpendapat bahwa film ini gagal memanfaatkan potensi besar para pemainnya.
Kesimpulan: Perlukah Anda Menontonnya?
Setelah mengulas secara mendalam, bahasfilm memberikan kesimpulan. Iceman: The Time Traveller adalah contoh nyata bagaimana film besar bisa gagal. Ia menawarkan premis unik tentang patriot Dinasti Ming yang bertualang lintas waktu. Namun, eksekusi cerita yang kacau dan penyuntingan tidak rapi menghancurkannya.
Film ini hanya cocok untuk penggemar berat Donnie Yen. Mereka mungkin ingin melengkapi koleksi karyanya. Namun, bagi pencinta film aksi umum, ada banyak pilihan film Donnie Yen lain yang jauh lebih berkualitas. bahasfilm menyarankan Anda untuk menonton Ip Man atau Flash Point saja.
Apakah He Ying berhasil mengubah sejarah? Jawabannya mungkin akan membuat Anda semakin bingung. Saksikan jika Anda penasaran, tetapi jangan berharap banyak. Untuk ulasan film lainnya, jangan lupa kunjungi bahasfilm!

