bahasfilm – Sebagai portal yang konsisten membahas film Indonesia, kami menyoroti karya terbaru Hadrah Daeng Ratu, Alas Roban. Film yang tayang sejak 15 Januari 2026 ini punya modal kuat: lokasi legendaris dan cerita rakyat yang hidup. Namun, setelah menontonnya, kami merasa ada kesenjangan antara potensi ide dan eksekusi di layar. Artikel BAHASFILM ini akan mengupasnya secara mendalam, termasuk sinopsis dan analisis mendetail.
Sinopsis dan Latar Cerita
Film ini mengisahkan Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal yang pindah ke Semarang dengan putrinya, Gendis (Fara Shakila). Perjalanan naik bus malam mereka berubah jadi mimpi buruk saat kendaraan mogok di tengah hutan Alas Roban. Sejak itu, Gendis mulai diganggu entitas gaib. Sita pun berjuang menyelamatkan putrinya dengan bantuan sepupu dan seorang sopir yang paham mitos lokasi tersebut.
Baca Juga: Review 12th Fail 2023 : Inspirasi Perjuangan Nyata oleh BahasFilm
Analisis Mendalam dari Tim BAHASFILM
Sebagai tim yang aktif membahas film, kami melihat beberapa lapisan dalam karya ini.
Kekuatan: Atmosfer dan Lokasi sebagai Karakter
Film ini berhasil menjadikan Alas Roban lebih dari sekadar latar. Suasana gelap, berkabut, dan terisolasi digambarkan dengan sinematografi yang cermat. Alas Roban hadir sebagai ruang liminal—tempat peralihan yang penuh ketidakpastian. Ini adalah pencapaian terbesar film dalam membangun ketegangan psikologis.
Kelemahan: Alur Cerita yang Generik dan Tidak Fokus
Sayangnya, kekuatan atmosfer itu tidak didukung narasi yang segar. Banyak penonton di platform seperti Letterboxd mengeluhkan alur yang terasa klise dan repetitif. Konflik berputar-putar di tempat yang sama, membuat bagian tengah film terasa draggy. Penjelasan mengenai sosok gaib Dewi Raras dan sejarah kelam Alas Roban juga hanya disinggung sekilas, tidak dirajut menjadi inti cerita yang kuat.
Sound Design: Pro dan Kontra
Salah satu aspek paling banyak diperdebatkan adalah tata suara. Di satu sisi, penggunaan keheningan dan suara alam hutan sangat efektif. Di sisi lain, pilihan musik ilustratif dan jumpscare dengan suara keras dinilai banyak penonton justru mengganggu dan terasa murahan. Ini mengurangi rasa ngeri alami yang sudah dibangun oleh visual.
Performa Akting: Sorotan dan Kekurangan
- Fara Shakila (Gendis): Jadi pencuri adegan. Ekspresinya yang polos namun meresahkan sangat meyakinkan.
- Michelle Ziudith (Sita): Solid, namun chemistry emosionalnya dengan Gendis kurang terasa mendalam bagi sebagian penonton.
- Taskya Namya dan Rio Dewanto: Memerankan peran pendukung dengan baik, meski karakter mereka tidak terlalu dikembangkan.
BAHASFILM Verdict: Layak Ditonton?
Setelah membahas film ini dari berbagai sisi, tim BAHASFILM menyimpulkan bahwa Alas Roban adalah film horor yang ambisius namun setengah hati.
Film ini layak disaksikan jika Anda:
- Penggemar film horor lokal berbasis mitos.
- Ingin melihat potensi visual dari legenda Alas Roban.
- Tertarik pada performa Fara Shakila.
Namun, kelola ekspektasi untuk:
- Originalitas cerita dan kedalaman karakter.
- Penyelesaian konflik yang memuaskan.
- Penggunaan jumpscare yang mungkin berlebihan.
Secara keseluruhan, film ini menunjukkan peningkatan kualitas produksi horor Indonesia, tetapi masih terjebak dalam formula yang aman. Ia meninggalkan kesan bahwa potensi besar lokasi dan sejarah Alas Roban belum sepenuhnya tergali.

