Film Anime Yang Bisa Bikin Kamu Nangis! : Grave of The FireFlies

bahasfilm – Di Artikel kali ini, bahasfilm mau berikan rekomendasi film anime yang sedih nih. Grave of the Fireflies adalah film animasi Jepang yang menyayat hati, mengisahkan perjuangan dua kakak beradik, Seita (14 tahun) dan Setsuko (4 tahun), untuk bertahan hidup di Jepang pada bulan-bulan terakhir Perang Dunia II. Film ini tidak hanya menampilkan penderitaan fisik akibat perang, tetapi juga luka emosional yang mendalam, terutama pada anak-anak yang tak berdosa.

Kisah ini dibingkai melalui sudut pandang roh Seita yang mengenang nasib tragis dirinya dan sang adik, menjadikan film ini sebagai refleksi penuh duka tentang kehilangan, rasa bersalah, dan kemanusiaan.

Baca juga : Rekomendasi Film Action Terbaik: The Raid

Pembukaan yang Suram dan Penuh Makna – Bahasfilm

Film dibuka dengan adegan Seita yang sekarat di sebuah stasiun kereta api. Seorang petugas kebersihan menemukan jasadnya bersama sebuah kaleng permen. Di dalam kaleng tersebut tersimpan abu Setsuko. Adegan pembuka ini langsung menetapkan suasana kelam dan tragis, sekaligus memberi petunjuk bahwa cerita ini adalah sebuah kenangan pahit yang telah berakhir tragis sejak awal.


Terpisah oleh Perang dan Kehilangan Keluarga

Serangan udara Amerika yang membombardir Kobe menghancurkan kehidupan Seita dan Setsuko. Rumah mereka musnah, dan sang ibu meninggal akibat luka parah dari pemboman tersebut. Tanpa orang tua dan tempat tinggal, mereka terpaksa mengungsi dan bergantung pada kerabat terdekat.

Kehidupan Pahit Bersama Sang Bibi

Keduanya kemudian tinggal di rumah bibi mereka. Namun, kehidupan di sana jauh dari kata hangat. Sang bibi bersikap keras dan sinis, terutama karena Seita dianggap tidak berkontribusi dalam usaha perang. Ketegangan terus meningkat, hingga harga diri Seita dan perlakuan bibi tersebut mendorong mereka pergi untuk hidup mandiri.


Bertahan Hidup di Tempat Perlindungan Terbengkalai

Seita dan Setsuko memilih tinggal di sebuah tempat perlindungan bom yang sudah ditinggalkan. Di sinilah muncul momen-momen kecil kebahagiaan, seperti bermain dengan kunang-kunang di malam hari. Namun, kebahagiaan itu bersifat sementara. Persediaan makanan semakin menipis, dan kelaparan mulai menggerogoti tubuh mereka.

Seita terpaksa mencuri makanan seperti tomat dan tebu demi bertahan hidup. Sayangnya, usaha tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan Setsuko yang semakin lemah.


Kematian Setsuko dan Kejatuhan Seita

Setsuko akhirnya meninggal dunia akibat kekurangan gizi. Seita dengan penuh kesedihan mengkremasi jasad adiknya dan menyimpan abunya di dalam kaleng permen simbol polosnya masa kecil yang telah direnggut perang.

Tak lama setelah itu, Seita sendiri meninggal karena kelaparan. Roh mereka kemudian diperlihatkan bersatu kembali dalam adegan penutup yang mengharukan, menyaksikan Jepang modern dari kejauhan. Kontras antara masa depan yang damai dan masa lalu yang brutal terasa begitu menyakitkan.


Tema Besar yang Diangkat Film

1. Kerugian Manusia Akibat Perang

Film ini menyoroti dampak perang terhadap warga sipil, khususnya anak-anak, yang sering kali menjadi korban paling menderita.

2. Cinta dan Ikatan Persaudaraan

Hubungan Seita dan Setsuko adalah inti emosional cerita cinta tanpa pamrih yang bertahan hingga akhir hayat.

3. Kehilangan Kepolosan

Perang memaksa anak-anak menghadapi kenyataan pahit yang seharusnya tidak mereka alami.

4. Rasa Bersalah dan Ingatan

Diadaptasi dari pengalaman nyata Akiyuki Nosaka, film ini sarat dengan refleksi rasa bersalah seorang yang selamat.

Ikuti terus Artikel dari bahasfilm biar kamu ga ketinggalan rekomendasi film lainnya.