BAHASFILM – Curse of the Golden Flower (2006)

Poster film Curse of the Golden Flower menampilkan wajah tiga pemeran utama; Chow Yun Fat di kiri mengenakan baju besi emas, Gong Li di tengah dengan hiasan kepala emas yang anggun, dan Jay Chou di kanan mengenakan helm perang; di bagian bawah terdapat ribuan prajurit berbaju zirah emas dan teks judul "Curse of the Golden Flower" berwarna krem.

Curse of the Golden Flower (2006): BAHASFILM Mengupas Epik Tragedi Keluarga di Balik Kemegahan Istana

Melalui lensa BAHASFILM, kita akan menyelami kemegahan visual sekaligus kegelapan moral Curse of the Golden Flower. Sebuah analisis mendalam tentang bagaimana film ini memadukan intrik kerajaan dengan tragedi keluarga berskala opera, layaknya “Hamlet yang dipentaskan oleh Peking Circus” .

Zhang Yimou adalah maestro sinema visual yang tak terbantahkan. Curse of the Golden Flower hadir pada 2006 sebagai mahakarya epik dari sutradara legendaris ini BAHASFILM akan mengupas tuntas mengapa film dengan anggaran termahal sepanjang sejarah perfilman Tiongkok ini layak disebut sebagai opera tragis dalam balutan estetika mewah. Dalam ulasan kali ini, BAHASFILM membawa Anda menyelami intrik istana yang penuh pengkhianatan, hubungan terlarang, serta ambisi tak terkendali dari keluarga kekaisaran. BAHASFILM juga akan mengungkap detail produksi spektakuler yang melibatkan tim efek visual dari seluruh dunia, sinematografi memukau karya Zhao Xiaoding, serta pesan universal tentang kekuasaan dan kehancuran yang membuat film ini relevan hingga kini .

Baca Juga : Starry Starry Night (2011) : BAHASFILM Mengupas Drama Visual


Profil Film Versi BAHASFILM: Data Lengkap Curse of the Golden Flower

Mari kita pahami data dasar film epik ini sebelum melangkah lebih dalam ke pusaran ceritanya. BAHASFILM merangkum informasi pentingnya untuk Anda.

AspekDetail
JudulCurse of the Golden Flower (滿城盡帶黃金甲) 
SutradaraZhang Yimou 
Penulis SkenarioZhang Yimou, Bian Zhihong, Wu Nan 
Berdasarkan Drama“Thunderstorm” karya Cao Yu (1934) 
NegaraTiongkok 
Tahun Rilis21 Desember 2006 
Durasi114 menit 
Anggaran$45 juta USD (termahal saat rilis) 
Pendapatan$78,5 juta USD (global) 
Rating MPAAR (untuk kekerasan dan konten dewasa) 
BahasaMandarin 
SinematograferZhao Xiaoding 
MusikShigeru Umebayashi 
Lagu Tema“Chrysanthemum Terrace” oleh Jay Chou 

Sinopsis Menurut BAHASFILM: Alur Cerita yang Menggetarkan Jiwa

Tiongkok abad ke-10, era Dinasti Tang Akhir . Istana kekaisaran dihiasi ribuan bunga seruni kuning menyambut Festival Chong Yang . Kaisar Ping (Chow Yun-fat) pulang secara tak terduga dari kampanye militernya. Ia ditemani putra keduanya, Pangeran Jai (Jay Chou). Dalihnya adalah merayakan liburan bersama keluarga. Namun hubungan dingin antara Kaisar dan Permaisuri (Gong Li) yang sakit-sakitan membuat niat ini terasa tidak tulus .

Selama bertahun-tahun, Permaisuri menjalin hubungan terlarang dengan putra tirinya, Putra Mahkota Wan (Liu Ye) . Merasa terjebak, Pangeran Wan bermimpi melarikan diri dari istana bersama kekasih rahasianya, Chan (Li Man), putri Dokter Kekaisaran BAHASFILM mencatat bahwa di sinilah benih-benih tragedi mulai tumbuh.

Sementara itu, Pangeran Jai mulai cemas atas kesehatan ibunya. Ia bingung melihat obsesi sang permaisuri terhadap bunga seruni kuning . Permaisuri kemudian mengungkapkan bahwa teh yang diminumnya telah diracuni oleh Kaisar selama ini. Ia berencana melakukan pemberontakan untuk menggulingkan suaminya. Setelah ragu-ragu, Pangeran Jai setuju menjadi pemimpin pemberontakan .

Spoiler: Puncak Tragedi dalam Analisis BAHASFILM

BAHASFILM harus memberi peringatan: bagian berikut mengandung bocoran cerita penting.

Permaisuri menyewa seorang wanita misterius untuk menyelidiki jenis racun yang dideritanya. Namun wanita itu ditangkap dan ternyata adalah Jiang Shi, istri Dokter Kekaisaran yang diyakini telah mati . Kaisar memutuskan mengampuni dan mempromosikan Dokter Kekaisaran menjadi Gubernur Suzhou. Saat Putra Mahkota Wan bertemu Chan untuk berpamitan, Chan memberi tahu bahwa Permaisuri telah menenun 10.000 selendang bermotif bunga seruni.

Dalam perjalanan ke Suzhou, keluarga Dokter Kekaisaran diserang dan dibunuh oleh algojo Kaisar . Jiang Shi dan Chan lari kembali ke Nanjing dan menghadap Kaisar. Di sinilah kebenaran mengerikan terungkap. Jiang Shi adalah istri pertama Kaisar dan ibu kandung Putra Mahkota Wan. Artinya, Chan dan Putra Mahkota Wan adalah kakak beradik tiri . Chan yang ketakutan lari dari istana. Jiang Shi mengejarnya dan mereka berdua dibunuh oleh algojo Kaisar.

Pangeran Yu (Qin Junjie), putra bungsu yang selama ini tersisih, tiba-tiba membunuh Putra Mahkota Wan. Ia menuntut Kaisar turun tahta dan menyerahkan takhta padanya . Namun pasukan Kaisar dengan mudah mengalahkan prajurit Pangeran Yu. Kaisar kemudian mencambuk Pangeran Yu hingga tewas sebagai balasan atas pembunuhan putra mahkota.

Klimaks Film Curse of the Golden Flower

Sementara itu, 10.000 prajurit berserban lencana emas menyerbu istana dengan Pangeran Jai di barisan terdepan . Mereka mengalahkan algojo Kaisar dan memasuki pelataran dalam, menginjak-injak hamparan bunga seruni. Namun ribuan prajurit cadangan Kaisar muncul dan membantai habis prajurit berlencana emas . Hanya Pangeran Jai yang selamat dan ditawan.

Di meja perjamuan Festival Chong Yang, Kaisar mengungkapkan kekecewaannya pada Pangeran Jai. Ia mengaku sudah berencana memberikan takhta padanya. Pangeran Jai menjawab bahwa ia memberontak bukan demi takhta, melainkan demi ibunya . Kaisar menawarkan pengampunan jika Pangeran Jai bersedia membantu meracuni Permaisuri setiap hari. Pangeran Jai menolak dan bunuh diri. Darahnya memercik ke cangkir teh beracun yang disiapkan untuk Permaisuri. Permaisuri yang ngeri menjatuhkan cangkir itu, dan cairannya mengikis ukiran kayu bermotif bunga seruni di meja.

Adegan terakhir menunjukkan Permaisuri berjalan sendirian di antara ribuan bunga seruni yang telah dirapikan kembali. Istana kembali tertata sempurna, seolah pemberontakan tak pernah terjadi. Kaisar duduk sendirian di singgasana BAHASFILM membiarkan Anda merenungkan bahwa dalam perebutan kekuasaan, tak ada pemenang sejati.


Tokoh dan Pemeran: Analisis Karakter oleh BAHASFILM

KarakterPemeranAnalisis BAHASFILM
Kaisar PingChow Yun-fat Penguasa kejam yang menyembunyikan dendam di balik ketenangan . Chow membawakan peran ini dengan wibawa luar biasa. BAHASFILM menilai ini sebagai penampilan tergelap dalam kariernya.
Permaisuri PhoenixGong Li Ibu tiri yang terpenjara dalam pernikahan tanpa cinta . Gong Li memenangkan Aktris Terbaik di Hong Kong Film Awards untuk peran ini BAHASFILM menyebut aktingnya sebagai ledakan emosi tak terlupakan.
Pangeran JaiJay Chou Putra kedua yang setia namun terjebak di antara ibu dan ayah. Debut akting Jay Chou menuai pujian dan nominasi Aktor Pendukung Terbaik .
Putra Mahkota WanLiu Ye Pewaris takhta yang lemah, terperangkap dalam hubungan terlarang BAHASFILM mencatat Liu Ye menampilkan kompleksitas karakter ini dengan apik.
Pangeran YuQin Junjie Putra bungsu yang terabaikan, menyimpan ambisi besar .
Dokter KekaisaranNi Dahong Penyimpan rahasia besar keluarga kekaisaran.
Jiang ShiChen Jin Istri pertama Kaisar yang menyamar sebagai orang mati.
Jiang ChanLi Man Putri dokter yang menjadi objek cinta terlarang.

Proses Kreatif: Cerita di Balik Layar Menurut BAHASFILM

BAHASFILM menemukan fakta mencengangkan dalam proses produksi film ini. Dengan anggaran $45 juta, Curse of the Golden Flower menjadi film Tiongkok termahal sepanjang sejarah saat dirilis, mengalahkan The Promise karya Chen Kaige . Uang sebanyak itu digunakan untuk membangun set istana megah di Beijing seluas puluhan ribu meter persegi.

Yang menarik, film ini diadaptasi dari drama panggung terkenal Tiongkok berjudul “Thunderstorm” karya Cao Yu yang ditulis pada 1934 . Zhang Yimou memindahkan latar dari era modern ke istana kuno, menciptakan perpaduan unik antara drama psikologis dan epik sejarah.

Proses syuting melibatkan ribuan figuran dan prajurit. Adegan pertempuran di puncak festival melibatkan 10.000 prajurit berlencana emas melawan 20.000 prajurit perak milik Kaisar . Tim efek visual dari Moving Picture Company (MPC) di London dan Centro Digital Pictures di Hong Kong bekerja keras menciptakan pertempuran spektakuler ini. MPC menggunakan perangkat lunak crowd-building yang dikembangkan untuk film Troy dan digunakan dalam Alexander serta Kingdom of Heaven .

Menariknya, untuk menciptakan ilusi ribuan prajurit, tim produksi hanya merekrut 800 figuran lokal dan tentara Tiongkok. MPC kemudian melipatgandakan jumlah mereka secara digital menjadi 10.000 pemberontak dan 20.000 pembela . Angela Barson, supervisor efek visual dari MPC, menghadapi tantangan besar karena tidak bisa berkomunikasi langsung dengan sutradara Zhang Yimou akibat kendala bahasa. Semua komunikasi dilakukan melalui penerjemah dan konferensi video .

Zhang Yimou terinspirasi oleh pepatah Tiongkok kuno: “emas dan giok di luar, busuk dan hancur di dalam” serta “semakin tinggi kau naik, semakin sepi rasanya”. Kedua pepatah ini menjadi fondasi filosofis film, menggambarkan kemegahan istana yang menyembunyikan kebusukan moral.


Sinematografi: Bahasa Visual dalam Analisis BAHASFILM

Zhao Xiaoding sebagai sinematografer berhasil menciptakan visual yang memukau. BAHASFILM menyoroti beberapa teknik yang digunakan dalam film ini.

Pertamapenggunaan warna emas sebagai simbol. Ribuan bunga seruni kuning memenuhi setiap sudut istana, menciptakan lautan keemasan yang memabukkan . Bunga seruni dalam budaya Tiongkok melambangkan kebangsawanan dan keabadian, namun di film ini justru menjadi latar bagi kehancuran keluarga kekaisaran BAHASFILM melihat ini sebagai ironi visual yang brilian.

Keduakomposisi simetris yang megah. Setiap frame dirancang dengan presisi bak lukisan. Istana dengan pilar-pilar merah dan emas menciptakan rasa kaku dan menindas yang mencerminkan kekuasaan absolut .

Ketigakontras antara kemegahan dan kebusukan. Adegan perjamuan megah bergantian dengan adegan pembunuhan brutal di lorong gelap. BAHASFILM mencatat bagaimana kontras ini menciptakan ketegangan emosional yang konstan.

Keempatadegan pertempuran spektakuler. Ribuan prajurit berpakaian emas menyerbu istana dalam formasi rapi, menciptakan tarian kematian yang estetis. Sinematografi ini mendapatkan nominasi Sinematografi Terbaik di Hong Kong Film Awards .

Yang paling ikonik adalah adegan ketika lautan bunga seruni diinjak-injak pasukan, lalu dengan cepat dirapikan kembali oleh pelayan istana . Ini adalah metafora visual yang sempurna tentang bagaimana kekuasaan membersihkan jejak pemberontakan.


Musik dan Lagu Tema: Denyut Nadi dalam Ulasan BAHASFILM

Shigeru Umebayashi, komposer legendaris Jepang di balik musik In the Mood for Love dan House of Flying Daggers, menciptakan musik yang menjadi jiwa film ini . Orkestra megah mengiringi adegan perjamuan, sementara nada sendu menemani momen-momen intim.

Yang istimewa, Jay Chou tidak hanya berakting tetapi juga menciptakan dua lagu untuk film ini. Lagu “Chrysanthemum Terrace” (菊花台) menjadi hit besar dan memenangkan Lagu Film Asli Terbaik di Hong Kong Film Awards . Akhirnya lagu ini dirilis dalam albumnya Still Fantasy dan EP khusus Curse of the Golden Flower. Lagu lainnya berjudul “Golden Armor” (黄金甲) memiliki nada lebih enerjik sesuai dengan tema pertempuran .

BAHASFILM menilai musik film ini sebagai karakter tersendiri yang memperkuat atmosfer tragis sekaligus megah.


Poin Penting dalam Analisis BAHASFILM

  1. Keluarga sebagai Medan Perang: Film ini menunjukkan bahwa intrik kekuasaan paling kejam justru terjadi di dalam keluarga. Istana bukan tempat berlindung, melainkan arena pertarungan hidup-mati antar anggota keluarga BAHASFILM melihat ini sebagai kritik pada dinasti politik mana pun.
  2. Kemegahan yang Menipu: Ribuan bunga seruni, pakaian mewah, dan arsitektur megah hanyalah topeng yang menyembunyikan kebusukan moral . Seperti diungkap dalam pepatah Tiongkok, “emas dan giok di luar, busuk dan hancur di dalam”.
  3. Hubungan Terlarang sebagai Pemicu: Perselingkuhan antara Permaisuri dan putra tirinya, serta cinta terlarang antara kakak beradik, menjadi pemicu runtuhnya keluarga kekaisaran .
  4. Racun sebagai Simbol Pengkhianatan: Racun dalam teh Permaisuri melambangkan pengkhianatan paling halus. Bukan kekerasan fisik, tapi pembunuhan perlahan yang dilakukan oleh orang terdekat. BAHASFILM mencatat ironi bahwa Kaisar meracuni istrinya sambil berpura-pura peduli.
  5. Pemberontakan yang Sia-sia: Pasukan berlencana emas dikalahkan, Pangeran Jai bunuh diri, Permaisuri kehilangan semua anaknya. BAHASFILM mencatat bahwa film ini tidak memberi kemenangan pada pihak mana pun. Seperti tragedi Yunani, semua tokoh utama hancur pada akhirnya .
  6. Siklus Kekuasaan yang Tak Berujung: Akhir film menunjukkan istana kembali rapi, perjamuan tetap berlangsung, Kaisar tetap berkuasa. Seolah tak ada yang berubah . Ini kritik bahwa kekuasaan absolut akan terus berulang, apa pun yang terjadi.

Rating dan Penerimaan: Perspektif BAHASFILM

Pengakuan dunia terhadap film ini sangat membanggakan. BAHASFILM merangkumnya untuk Anda.

SumberRatingCatatan dari BAHASFILM
IMDb7.0/10Rating dari lebih 47.000 pengguna global BAHASFILM mencatat apresiasi yang solid dari penonton internasional.
Rotten Tomatoes65%Skor dari kritikus menunjukkan penerimaan positif.
Metacritic70/100Kategori “Generally Favorable”.

Pencapaian bergengsi yang diraih:

  • 14 nominasi di Hong Kong Film Awards ke-26, memenangkan 4 penghargaan: Aktris Terbaik (Gong Li), Penyutradaraan Seni Terbaik, Rancangan Kostum dan Make Up Terbaik, dan Lagu Film Asli Terbaik untuk “Chrysanthemum Terrace” .
  • Nominasi Rancangan Kostum Terbaik di Academy Awards (Oscar) .
  • Terpilih sebagai perwakilan Tiongkok untuk Film Berbahasa Asing Terbaik di Oscar 2006 .
  • 19 kemenangan total dari berbagai festival internasional .

Kutipan Kritikus versi BAHASFILM:
Richard Corliss dari TIME Magazine menyebut film ini sebagai “opera grand, di mana soal cinta dan kematian dimainkan dengan sempurna”. Kevin Thomas dari Los Angeles Times menulis, “Sebuah tontonan epik, penuh kemegahan luar biasa dan intrik istana mematikan”. Peter Debruge dari Miami Herald membandingkannya dengan Shakespeare: “Jumlah kematian di akhir film menyaingi Hamlet dalam pertumpahan darah kerajaannya”. Cammila Collar dari AllMovie menyatakan bahwa film ini adalah “fabel yang lebih besar dari kehidupan tentang bagaimana kekuasaan dan isolasi kehidupan istana menghilangkan semua kerangka acuan dari kehidupan para bangsawan” . Rick DeMott dari Animation World Network menyimpulkan, “Secara visual memukau dan dramatis menggugah, CURSE OF THE GOLDEN FLOWER seperti HAMLET yang dipentaskan oleh Peking Circus” .


Warisan dan Pengaruh: Mengapa Film Ini Penting Menurut BAHASFILM

Curse of the Golden Flower bukan sekadar film yang sukses secara komersial. Ia adalah puncak dari trilogi wuxia Zhang Yimou setelah Hero (2002) dan House of Flying Daggers (2004) . Namun berbeda dari pendahulunya yang lebih ringan, film ini lebih gelap dan tragis. Ia lebih merupakan drama keluarga Shakespearean ketimbang film laga biasa .

Warisan terbesarnya: membuktikan bahwa sinema Tiongkok mampu bersaing di panggung global dengan anggaran Hollywood. Dengan biaya $45 juta, film ini menjadi yang termahal saat itu dan membuka jalan bagi produksi-produksi besar berikutnya .

Film ini juga menjadi reuni artistik Zhang Yimou dan Gong Li setelah lebih satu dekade berpisah. Gong Li adalah mantan kekasih dan muse Zhang yang membintangi film-film awalnya seperti Raise the Red Lantern dan Farewell My Concubine. Chemistry mereka masih terasa kuat di layar .

Dari sisi teknis, film ini mendorong batas kemampuan efek visual Asia. Kolaborasi antara MPC London dan Centro Digital Pictures Hong Kong menghasilkan adegan pertempuran yang hingga kini masih terasa spektakuler. Teknik crowd duplication yang digunakan menjadi standar baru bagi industri film Tiongkok .

Yang terpenting, Curse of the Golden Flower mengingatkan kita pada bahaya kekuasaan absolut. Ia adalah alegori tentang bagaimana kekuasaan dapat menghancurkan ikatan keluarga, meracuni hubungan, dan menciptakan monster dalam wujud manusia. BAHASFILM menilai film ini relevan dibaca sebagai kritik politik di era mana pun, di negara mana pun.


Kesimpulan dari BAHASFILM:

Curse of the Golden Flower adalah film yang megah sekaligus mengerikan. Ia tidak butuh dialog panjang untuk menyampaikan pesannya. Cukup dengan lautan bunga emas, pakaian mewah, dan arsitektur istana yang menjulang, ia berbicara tentang kesombongan, pengkhianatan, dan kehancuran. BAHASFILM merekomendasikan film ini untuk pencinta sinema epik yang tidak takut dengan kegelapan.

Dengan sinematografi Zhao Xiaoding yang memukau, akting legendaris Chow Yun-fat dan Gong Li, debut akting mengejutkan Jay Chou, serta musik Shigeru Umebayashi yang menghanyutkan, film ini layak ditonton oleh semua pencinta film berkualitas. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap singgasana, ada mayat-mayat yang terkubur. Dan di balik setiap kemegahan, ada air mata yang tak terlihat.

Empat belas tahun setelah kelahirannya, film ini masih relevan. Ia masih bisa membuat kita terpukau sekaligus merinding. BAHASFILM dengan bangga menempatkannya sebagai salah satu film epik Tiongkok terbaik yang layak dikenang.

Temukan review film jujur dan mendalam lainnya hanya di BAHASFILM. Kunjungi situs kami untuk ulasan eksklusif berbagai film dari seluruh dunia.