BAHASFILM – Review film Star Wars: The Mandalorian and Grogu (2026) menandai kembalinya waralaba ikonik ini ke layar lebar setelah tujuh tahun vakum sejak Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Film arahan Jon Favreau yang dirilis pada 22 Mei 2026 ini sukses mengantongi $82 juta** di akhir pekan pembukaan di Amerika Utara dan total **$165 juta secara global. Namun, di balik kesuksesan finansial tersebut, tersimpan perpecahan tajam antara kritikus dan penggemar.
Baca Juga : Review Film Passenger (2026): Perjalanan Penuh Jumpscare di Jurnal Horor Jalanan
Pendahuluan: Kembali ke Bioskop dengan Formula Aman
Film berdurasi 2 jam 12 menit ini merupakan kelanjutan langsung dari serial Disney+ The Mandalorian. Cerita berfokus pada Din Djarin (Pedro Pascal) dan Grogu yang kini bekerja untuk Republik Baru untuk memburu sisa-sisa pemberontak Imperial. Dinamika terbaru muncul ketika mereka harus bekerja sama dengan Kembar Hutt yang licik untuk menyelamatkan keponakan mereka, Rotta (Jeremy Allen White), demi mendapatkan informasi penting.
Yang membuat review film ini menarik adalah kesenjangan besar antara skor kritik dan penonton. Di Rotten Tomatoes, film ini hanya meraih 62% dari kritikus (rata-rata rating 5.9/10), menjadikannya salah satu skor terendah dalam sejarah waralaba di bawah Disney. Namun, di sisi lain, 89% penonton justru menyukainya, menjadikannya skor audiens tertinggi untuk film Star Wars era Disney.
Tiga Entity Penting yang Menggerakkan Narasi
Setiap review film yang kredibel harus mengidentifikasi pilar penggerak utama. The Mandalorian and Grogu setidaknya memiliki tiga:
- Din Djarin (Pedro Pascal) – Karakter ikonik berhelm beskar ini tetap menjadi jantung emosional film. Pascal, yang telah memerankan karakter ini sejak 2019, menyebutnya sebagai “hubungan kreatif terpanjang” yang pernah ia jalani. Dalam film ini, Djarin bertransformasi dari pemburu bayaran yang enggan menjadi ayah pelindung sejati yang bersedia mengorbankan segalanya untuk Grogu. Adegan di mana ia diracuni ular raksasa dan hampir mati menjadi puncak dramatis yang menunjukkan kedalaman karakternya.
- Grogu (Baby Yoda) – Karakter yang diciptakan khusus untuk mengundang rasa gemas ini kini menunjukkan evolusi signifikan. Di akhir film, ia sendirian merawat Djarin yang terluka, mencari obat, dan bahkan menyelamatkan Rotta menggunakan kekuatan Force. Adegan-adegan ini menegaskan bahwa Grogu bukan lagi sekadar “bayi” yang menggemaskan, tetapi asisten yang semakin mandiri. USA Today bahkan menyebut bahwa Grogu kini cukup mampu untuk memimpin film Star Wars sendirian di masa depan.
- Rotta the Hutt (Jeremy Allen White) – Kejutan terbesar dalam review film ini adalah karakter baru yang diperkenalkan. Putra Jabba the Hutt yang pertama kali muncul sebagai bayi “Stinky” dalam Star Wars: The Clone Wars (2008) kini tumbuh dewasa. Yang menarik, Rotta digambarkan sebagai karakter yang baik hati—berlawanan dengan stereotip Hutts yang serakah. Ia bahkan bergabung dengan Republik Baru di akhir film. Keputusan untuk menjadikan musuh bebuyutan Jedi menjadi sekutu adalah gerakan berani yang layak diapresiasi.
“Ini adalah cerita tentang magang. Tentang satu generasi yang mengajarkan generasi berikutnya.” – Dave Filoni, Presiden Lucasfilm dan rekan penulis skenario
Fakta Cepat dan Statistik Kunci The Mandalorian and Grogu
Data berikut memperkuat review film The Mandalorian and Grogu sebagai studi kasus industri:
- Anggaran produksi: Tidak diungkap publik, tetapi diperkirakan di atas $150 juta
- Pendapatan akhir pekan perdana (AS): $82 juta ($102 juta hingga Senin 25 Mei)
- Total global akhir pekan perdana: $165 juta
- Rotten Tomatoes: 62% kritikus (235 ulasan) vs 89% penonton (5.000+ rating)
- Metacritic: 53/100 (indikasi “mixed or average”)
- CinemaScore: A- dari penonton malam pembukaan
- Peringkat: PG-13 | Durasi: 132 menit
- Post-credits scene: Tidak ada. Star Wars tidak pernah memiliki adegan setelah kredit
- Penurunan akhir pekan kedua: 69%
Analisis Mendalam – Antara Kenangan dan Kebosanan
Yang Berhasil – Kenangan dan Spektakel Visual
Review film dari berbagai media sepakat bahwa kekuatan utama film ini terletak pada kemampuan teknis dan nostalgia. Favreau dan tim produksi berhasil menghadirkan spektakel visual yang layak untuk layar lebar IMAX. Adegan pertempuran—termasuk robohnya AT-AT di lereng gunung—disajikan dengan skala yang jauh lebih besar dari serial TV-nya.
Musik garapan Ludwig Göransson juga mendapat pujian. Skor yang sangat berbeda dari suara orkestra Star Wars tradisional ini dianggap “sangat fantastis” oleh pengguna IMDb.
Chemistry antara Djarin dan Grogu tetap menjadi daya tarik utama. The Guardian menyebut film ini “menawan, cepat, dipoles secara visual, dan memiliki Baby Yoda”. Interaksi antara ayah angkat dan anak angkatnya—mulai dari momen lucu hingga haru—berhasil menyentuh hati penonton.
Yang Gagal – Naskah yang Terlalu Aman dan Struktur Episodik
Kritik terbesar muncul dari naskah yang dianggap terlalu standar hingga membosankan. Slate bahkan menyebutnya sebagai film “the least essential, the least engaging, the least necessary” dalam saga Star Wars. The Hollywood Reporter mengkritik bahwa film ini “terasa kecil secara membandel dalam alur cerita dan tema yang relatif tidak penting”.
Masalah utamanya adalah struktur naratif yang terlalu mirip dengan serial TV. Banyak kritikus mengeluh bahwa film ini terasa seperti “tiga episode Disney+ yang digabung”—bukan pengalaman sinematik yang utuh. Den of Geek bahkan menyebutnya sebagai “the first summer tentpole blockbuster that feels like a small-screen rerun“.
Kritik lain datang dari aksi yang dianggap hambar. Reporter Jonathan Sim menggambarkannya sebagai “pengalaman yang tanpa emosi dan dapat diprediksi” dengan “adegan pertarungan yang membosankan dan tidak menarik”. Favreau dinilai terlalu berhati-hati—memilih untuk memenuhi ekspektasi daripada mengambil risiko.
Analisis Box Office – Antara Keberhasilan dan Kekecewaan
Dari sisi bisnis, angka **$82 juta** di akhir pekan perdana bukanlah awal yang buruk. Namun, ini menandai **pembukaan terendah untuk film *Star Wars* sejak Disney membeli Lucasfilm pada 2012**—bahkan di bawah *Solo: A Star Wars Story* (2018) yang membuka dengan $84 juta.
Penurunan 69% di akhir pekan kedua menunjukkan efek word-of-mouth yang kurang positif. Persaingan ketat dengan film horor Obsession (Focus Features) dan Michael (Lionsgate) semakin menekan perolehan layar.
Analis industri David Gross berkomentar: “Penghasilannya tidak berada di level film Star Wars utama. Tetapi ini adalah angka yang besar dan ini adalah bagaimana spin-off berperforma”. Dengan kata lain, The Mandalorian and Grogu berhasil secara finansial untuk standar spin-off, tetapi gagal mencapai level fenomena budaya seperti The Force Awakens.
FAQ – Pertanyaan Paling Sering Diajukan tentang The Mandalorian and Grogu
Apakah saya harus menonton serial The Mandalorian sebelum film ini?
Tidak wajib. Film ini dirancang agar dapat dinikmati sebagai petualangan mandiri. Banyak pengguna IMDb melaporkan bahwa mereka tidak pernah merasa bingung meskipun belum pernah menonton serialnya. Namun, menonton serial akan memperkaya pengalaman karena Anda akan lebih memahami dinamika hubungan Djarin dan Grogu.
Mengapa skor kritikus dan penonton berbeda jauh?
Perbedaan ini mencerminkan ekspektasi yang berbeda. Kritikus mencari inovasi naratif dan kedalaman tematik—yang tidak ditemukan di film ini. Sebaliknya, penonton umum hanya menginginkan petualangan seru dengan karakter yang mereka sukai. Film ini berhasil di ranah后者, tetapi gagal di ranah前者.
Apakah ada rencana untuk sekuel?
Jon Favreau telah mengonfirmasi bahwa ia memiliki “banyak catatan dan ide” untuk kelanjutan cerita Djarin dan Grogu. Ia menggambarkan masa depan mereka sebagai “kanvas yang luas dan terbuka”. Namun, apakah sekuel akan kembali ke layar lebar atau kembali ke Disney+ masih belum ditentukan.
Kesimpulan dan Prediksi Masa Depan
Review film Star Wars: The Mandalorian and Grogu (2026) harus berakhir pada satu kesimpulan: ini adalah definisi film “aman” dalam skala besar. Favreau memilih untuk tidak mengambil risiko—memberikan penggemar apa yang mereka inginkan tanpa mencoba hal baru. Hasilnya, film ini berhasil secara komersial dan disukai penonton, tetapi gagal memenangkan hati kritikus atau meninggalkan jejak abadi dalam kanon Star Wars.
Ke depan, kesuksesan The Mandalorian and Grogu menunjukkan bahwa spin-off karakter tetap memiliki pasar yang kuat. Namun, angka pembukaan terendah sejak era Disney juga menjadi peringatan: kelelahan waralaba mulai terasa. Jika Lucasfilm ingin Star Wars kembali ke kejayaannya di layar lebar, mereka perlu menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru—bukan sekadar memperpanjang apa yang sudah berhasil di televisi.
Apakah film ini layak ditonton di bioskop? Jika Anda penggemar serial The Mandalorian dan hanya menginginkan petualangan seru berdurasi dua jam—jawabannya ya. Tapi jika Anda mengharapkan Star Wars yang berani, ambisius, dan mendorong batasan—mungkin tunggu proyek Dave Filoni berikutnya.
Satu hal yang pasti: Grogu bukan lagi sekadar bayi lucu. Ia sedang dalam perjalanan menjadi legenda Star Wars berikutnya. Dan untuk itu saja, film ini layak diapresiasi.

