BAHASFILM – Review film Passenger (2026) bukan sekadar ulasan tentang horor perjalanan biasa. Film arahan André Øvredal yang dirilis Paramount Pictures pada 22 Mei 2026 ini mengusung premis sederhana: sepasang kekasih yang hidup di mobil van dikejar entitas iblis setelah menyaksikan kecelakaan maut di jalan tol. Hasilnya? Tanggapan kritikus terbelah, dengan skor 48% di Rotten Tomatoes dan rating 5,6/10 di IMDb.
Baca Juga : Review Film Backrooms (2026): Horor Liminal yang Jadi Fenomena Box Office
Pendahuluan: Horor Vanlife yang Gagal Mencapai Potensi
Film berdurasi 94 menit ini dibintangi Jacob Scipio (Tyler), Lou Llobell (Maddie), dan pemenang Oscar Melissa Leo (Diana). Cerita dimulai ketika Tyler dan Maddie, yang baru enam minggu meninggalkan pekerjaan kantor untuk menjalani petualangan vanlife, menyaksikan kecelaksaan tragis di tengah malam. Tanpa sepengetahuan mereka, entitas jahat bernama The Passenger ikut naik ke mobil mereka dan tidak akan berhenti sampai menewaskan keduanya.
Menariknya, meski berlatar Amerika, film ini sebagian besar disyuting di lima wilayah Washington selama 34 hari, menggunakan pemandangan pedesaan Pacific Northwest sebagai latar yang mencekam.
Tiga Entity Penting yang Menentukan Wajah Passenger
Setiap review film yang solid harus mengidentifikasi pilar penggerak utama. Passenger setidaknya memiliki tiga:
- André Øvredal (Sutradara) – Sutradara Norwegia di balik The Autopsy of Jane Doe (2016) dan Scary Stories to Tell in the Dark (2019) dikenal sebagai maestro atmosfer mencekam. Sayangnya, Passenger dinilai sebagai karya terlemahnya oleh banyak kritikus. Dalam film ini, Øvredal terlalu mengandalkan formasi yang sudah ia kuasai sebelumnya tanpa inovasi berarti.
- Jacob Scipio & Lou Llobell (Tyler & Maddie) – Kimia di antara keduanya menjadi satu-satunya jantung emosional yang menghidupkan naskah tipis garapan Zachary Donohue dan T.W. Burgess. The Hindu memuji mereka dengan mengatakan “charming and have us rooting for them to make it through”. Namun, pengembangan karakter dinilai terlampau dangkal untuk sebuah cerita survival.
- Joseph Lopez (The Passenger) – Entitas supernatural yang divisualkan melalui prostetik berat dan efek digital mencekam. Adegan perdananya dalam cold open pembuka bahkan disebut sebagai “fantastic” oleh Empire Online, dengan timing jumpscare yang presisi.
Fakta Cepat dan Statistik Kunci Passenger
Data berikut memperkuat review film Passenger sebagai studi kasus industri:
- Anggaran produksi: Tidak diungkap secara resmi, namun diperkirakan di bawah $15 juta (kategori low-budget)
- Pendapatan akhir pekan perdana (AS): $8,7 juta dari 2.534 lokasi
- Total global hingga pekan kedua: $15,17 juta, dengan penurunan 70,3% di akhir pekan kedua
- Rotten Tomatoes: 48% critics (peringkat “Rotten”) dan 53% audience score
- IMDb: 5,6/10 dari ribuan pengguna
- Post-credits scene: Tidak ada. Film ini berakhir definitif tanpa tease sekuel
- Produksi di Washington: 378 pekerja lokal, 7.497 malam menginap di hotel, 220 restoran
Analisis Mendalam – Antara Keahlian Teknis dan Naskah Dangkal
Review film Passenger dari berbagai media sepakat pada satu titik: film ini menawarkan kemasan teknis yang mumpuni dengan naskah yang terlalu standar hingga membosankan.
Yang Bekerja – Atmosfer dan Desain Suara
Keunggulan utama Passenger terletak pada keahlian teknis Øvredal dalam membangun ketegangan. Cinematographer Federico Verardi menggunakan palet gelap-dominan dengan pantulan lampu mobil dan semburat merah lampu belakang untuk menciptakan paranoia visual yang efektif.
Desain suara menjadi pahlawan sesungguhnya. Suara klasik berkendara—deru jalan, pecahan kaca, suara kepala menggilas roda—diperkuat untuk efek yang mengerikan. Seperti yang diungkap dalam banyak ulasan IMDb: “the sound design is what really makes this film scary“.
Satu adegan yang paling dipuji adalah ketika Maddie menggunakan proyektor film Roman Holiday sebagai lampu darurat di hutan—gambaran Gregory Peck dan Audrey Hepburn yang terselubung oleh bayangan mengerikan menciptakan meta-horor yang unik.
Yang Gagal – Ketergantungan Berlebihan pada Jumpscare
Kritik terbesar muncul dari struktur jumpscare yang repetitif. Seperti diulas SlashFilm: “But there’s absolutely nothing scary about ‘Passenger.’ Will a few of the jump-scares get you? Most likely, but that doesn’t mean they’re good“. Banyak jumpscare yang hadir tanpa persiapan psikologis yang matang—sekadar “naikkan volume musik secara tiba-tiba dan ada yang berteriak.”
Exclaim! bahkan lebih keras: film ini disebut sebagai “a dull, generic and altogether disappointing pit stop” yang penuh klise tanpa substansi. Naskah Donohue dan Burgess dituduh terlalu dangkal dalam membangun latar—motivasi karakter hampir tidak dijelaskan selain sekadar “ingin hidup bebas di van”.
Resepsi Box Office – Antara Keberhasilan dan Kekecewaan
Angka $8,7 juta di akhir pekan perdana bukanlah awal yang buruk untuk film horor beranggaran rendah. Paramount Pictures bahkan sempat menggeser jadwal rilis Passenger menghindari kompetisi dengan Backrooms—film debut Kane Parsons yang dirilis seminggu kemudian pada 29 Mei 2026.
Namun, penurunan 70,3% di akhir pekan kedua menunjukkan efek word-of-mouth yang buruk. Persaingan ketat dengan Obsession (Focus Features yang meraup $55 juta) dan Star Wars: The Mandalorian & Grogu juga menekan layar yang tersedia.
DreadCentral menyebut Passenger sebagai “the biggest loser of the week” di pasar box office yang sangat padat saat itu. Meski begitu, film ini diperkirakan tetap akan mencapai break-even di bawah target $50 juta.
FAQ – Pertanyaan Paling Sering Diajukan tentang Passenger
Apakah Passenger lebih baik dari film horor jalanan lain seperti The Hitcher atau Joy Ride?
Tergantung preferensi Anda. Passenger memiliki keunggulan teknis dalam desain suara dan sinematografi malam hari yang lebih modern. Namun, dari sisi ketegangan psikologis dan pengembangan karakter, film-film klasik tahun 1980-an dan 2000-an dianggap lebih unggul.
Apakah ada adegan pasca-kredit di Passenger?
Tidak. Passenger berakhir dengan ending yang self-contained dan tidak memiliki adegan mid-credits atau post-credits. Anda boleh langsung meninggalkan bioskop setelah kredit mulai bergulir.
Mengapa skor Rotten Tomatoes Passenger hanya 48%?
Kritikus sepakat bahwa meski keahlian teknis Øvredal masih terlihat, naskah yang ditulis Zachary Donohue dan T.W. Burgess dinilai terlalu klise dan minim pengembangan karakter. Banyak yang mengkritik ketergantungan berlebihan pada jumpscare murahan dan penyelesaian yang terasa “dipaksakan” secara naratif.
Kesimpulan dan Prediksi Masa Depan
Review film Passenger (2026) harus berakhir pada satu kesimpulan: film ini adalah definisi horor “middle-of-the-road” —tidak cukup baik untuk dikenang, tidak cukup buruk untuk menjadi kultus. Øvredal membuktikan bahwa ia masih mahir secara teknis, namun tampaknya kelelahan kreatif mulai terasa. Ketika horor independen seperti Backrooms keluar setahun kemudian dengan ide segar, Passenger justru terasa seperti peninggalan tahun 1990-an yang dibungkus kemasan modern.
Ke depan, kesuksesan Smile dan Obsession menunjukkan bahwa penonton horor mendambakan inovasi psikologis, bukan sekadar rangkaian jumpscare yang dapat diprediksi. Paramount Pictures tetap akan baik-baik saja berkat Scream dan Smile yang menguntungkan, tetapi Passenger akan terlupakan dalam arsip studio dalam dua tahun ke depan.
Apakah film ini layak ditonton? Jika Anda hanya ingin pengalaman jumpscare cepat berdurasi 94 menit tanpa banyak beban pikiran—jawabannya ya. Tapi jika Anda mengharapkan horor berlapis dengan karakter yang terasa manusiawi—mungkin lewati saja dan baca sinopsisnya di BAHASFILM terlebih dahulu.

