Review Film Mortal Kombat (2021): Pembantaian yang Sangat Seru

BAHASFILMReview film Mortal Kombat (2021) memperlihatkan secara gamblang mengapa jurang pemisah antara kritikus film dan penonton biasa sering kali begitu dalam. Film yang disutradarai Simon McQuoid ini dirilis secara strategis pada masa pandemi, tersedia di bioskop dan layanan streaming HBO Max secara bersamaan pada 23 April 2021. Menurut BAHASFILM, di balik skor Tomatometer yang hanya 55% (Rotten) di Rotten Tomatoes, film yang didasarkan pada waralaba video game legendaris karya Ed Boon dan John Tobias ini justru menjadi tontonan yang mengasyikkan bagi penggemar setia yang hanya ingin melihat darah muncrat, tulang patah, dan fatality dalam wujud sinematik yang belum pernah ada sebelumnya.

Baca Juga : Love’s Ambition : Drama Ambisi, Cinta, dan Pencarian Jati Diri

📜 Sinopsis: Persiapan Panjang untuk Turnamen Fatal

Cerita reboot ini tidak langsung masuk ke turnamen Mortal Kombat itu sendiri. Alih-alih, film memilih pendekatan berbeda: ini adalah cerita tentang perjalanan menuju turnamen tersebut. Penonton disuguhi adegan pembuka yang epik di abad ke-17 Jepang, di mana Hanzo Hasashi, atau yang kelak dikenal sebagai Scorpion (Hiroyuki Sanada), harus tewas di tangan musuh bebuyutannya, Bi-Han (Joe Taslim), sang Sub-Zero.

Beralih ke masa modern, Cole Young (Lewis Tan), seorang petarung MMA yang sedang terpuruk dan memiliki tanda naga misterius di dadanya, menjadi target buruan Sub-Zero yang ingin membunuh semua “pendekar bertanda” untuk mencegah Earthrealm memenangkan turnamen. Cole yang panik dan tidak mengerti apa-apa, berkelana mencari Lord Raiden (Tadanobu Asano), dewa petir pelindung Earthrealm. Dalam perjalanannya, ia bergabung dengan Sonya Blade (Jessica McNamee), Kano si pembuat onar (Josh Lawson), Jax (Mehcad Brooks), Liu Kang (Ludi Lin), dan Kung Lao (Max Huang). Misi mereka sederhana: bertahan hidup dari kejaran para petarung Outworld yang dikirim Shang Tsung (Chin Han) untuk membantai mereka satu per satu.

Sepanjang durasi film, nuansa gotik dan cenderung serius sangat kental. Tidak ada lagu dance Techno Syndrome yang ikonik di film ini, kecuali hanya sekilas di kredit akhir. Yang ada adalah pertarungan yang kejam di tengah lorong kuil dan kuil.

🎭 Tiga Entitas Penting yang Mengangkat Film

Entity Penting #1 – Joe Taslim sebagai Bi-Han / Sub-Zero. Aktor asal Indonesia ini benar-benar menjadi show stealer. Kesuksesan film ini tidak lepas dari bagaimana Joe Taslim menghidupkan tokoh antagonis yang dingin, tanpa ampun, tetapi sangat menawan. Kehadirannya sebagai Sub-Zero menjadi sorotan utama di seluruh pemasaran film. Kemampuan bela diri Taslim yang murni membuat setiap gerakannya terlihat sangat mengancam. Ini adalah peran yang membawa namanya melambung ke kancah internasional.

Entity Penting #2 – Josh Lawson sebagai Kano. Di tengah adegan-adegan yang sangat serius, Lawson sebagai Kano mampu memberikan “nyawa” komedi yang segar. Karakternya yang kasar, tidak tahu malu, dan sangat menghibur ini tidak hanya menyelamatkan banyak adegan dari kebosanan, tetapi sering kali menjadi favorit penonton. Banter antara Kano dan Sonya Blade menjadi salah satu keunggulan naratif yang tidak terduga.

Entity Penting #3 – Simon McQuoid (Sutradara) . Ini adalah debut penyutradaraan film fitur pertama McQuoid, yang sebelumnya adalah sutradara iklan dan komersial. Ia berhasil membawa DNA permainan video ke dalam layar lebar dengan sangat apik. Ia paham bahwa untuk film seperti ini, prioritas utamanya adalah menghormati source material, memberikan pertarungan yang otentik, dan tidak perlu malu dengan “kebodohan” dari cerita khas Mortal Kombat. Pilihan estetikanya yang “gelap” membuat film ini terasa lebih dewasa dibandingkan film-film adaptasi game lainnya.

📊 Fakta Cepat & Prestasi Box Office

MetrikAngka
Tanggal Rilis (AS)23 April 2021
Anggaran Produksi$55 Juta
Debut Domestik Akhir Pekan$23,3 Juta
Total Domestik$42,3 Juta
Total Pendapatan Global$84,4 Juta
Jumlah Teater3.014 Bioskop
Platform HibridaHBO Max (Siaran Serentak)
Durasi110 menit

Pada masa pandemi, di mana beberapa bioskop masih setengah tutup, film ini mencetak pembukaan terbesar kedua selama pandemi saat itu, hanya kalah dari Godzilla vs. Kong. Kombinasi perilisan HBO Max dan bioskop tidak menghalangi film ini untuk secara finansial cukup sukses.

Skor Agregator:

PlatformSkor
Rotten Tomatoes (Kritikus)55%
Rotten Tomatoes (Audience)87%
Metacritic44/100
IMDb6.0/10

🧠 Analisis Mendalam: Mengapa Kritikus dan Penonton Beda Jauh?

Jurang antara kritikus dan penonton memang tidak terlalu ekstrem, tetapi cukup untuk menimbulkan perdebatan sengit.

⚡️ Jurang Pandangan: 55% vs 87%

Para kritikus, dengan skor 55% di RT, mengeluhkan narasi yang terlalu “bertele-tele” dan dangkal. Richard Roeper dari Chicago Sun-Times menyebut film ini “penuh dengan dialog datar yang kaku” . Sementara kritikus dari Variety menyebut bahwa meskipun pertarungannya memuaskan, durasi film terasa terlalu berlebihan dan plotnya seperti “pengaturan yang kelewat panjang” .

Sementara penonton di IMDb memberikan skor 6.0, tetapi yang paling menarik adalah 87% di Rotten Tomatoes! Penonton sangat memaafkan kelemahan plot karena “Sub-Zero-nya sangat keren!”“Kano-nya Lucu Banget”, dan mereka hanya ingin melihat fatality. Rotten Tomatoes Official menyebut dalam podcast mereka bahwa film ini dipuji oleh audiens karena berhasil membawa nuansa kekerasan “lizard-brain fun” yang membuat mereka merasa seperti sedang bermain game lawas di ruang keluarga.

💥 Aksi yang Brutal, Namun Terlalu Banyak Stunting?

Salah satu kritik yang cukup menarik datang dari IMDb NewsAlonso Duralde (The Wrap) berargumen bahwa meskipun film ini bergelimang darah, adegan pertarungannya terasa “kurang berdampak karena terlalu bergantung pada CGI dan efek visual yang menghilangkan choreography yang realistis” . Sebaliknya, banyak gamer justru menyukai hasil akhirnya, karena sesuai dengan nuansa arcade di mana serangan terasa “over the top”.

🎮 Karakter Original (Cole Young) yang Tidak Selalu Disukai

Salah satu keputusan paling kontroversial dalam film ini adalah menghadirkan karakter original bernama Cole Young (Lewis Tan) sebagai pusat cerita, bukan Liu Kang atau Johnny Cage yang lebih dikenal. McQuoid mengaku butuh karakter “pemandu” bagi penonton awam yang belum tahu dunia MK. Namun hasilnya, banyak penggemar merasa karakter Cole terlalu datar, membosankan, dan hanya menjadi alat untuk eksposisi. Hal ini sedikit meredam skor penonton meskipun secara umum mereka memaafkannya karena aksi yang ditawarkan sangat kuat.

🎉 Kelebihan dan Kekurangan

Berikut ringkasan cepat ulasan penonton yang dikutip dari IMDb (Berdasarkan ribuan pengguna):

  • Kelebihan (Pro): – Adegan Pembuka Scorpion vs Sub-Zero: Luar Biasa. – Akting Josh Lawson sebagai Kano sangat cemerlang. – Gore dan Fatalities terasa memuaskan. – Joe Taslim sebagai Sub-Zero sangat menyeramkan. – Adegan Kuil dan Kabal cukup solid.
  • Kekurangan (Con): – Cerita seperti “prekuel” yang tidak sampai pada turnamen. – Karakter Cole Young terasa kurang greget. – Beberapa anggota cast sekunder seperti Reiko dan Nitara hanya jadi figuran. – Akting beberapa pendukung terasa datar.

🔮 Warisan dan Masa Depan MK

Meski menuai perdebatan, film ini sukses secara komersial (menjadi salah satu film terlaris di masa pandemi). Kesuksesan ini langsung mengamankan green light untuk sekuel berjudul Mortal Kombat II yang dirilis pada tahun 2025.

Dalam wawancara eksklusif, sutradara Simon McQuoid mengakui bahwa ia sadar akan kritik tentang minimnya turnamen di film pertama. Untuk sekuelnya, ia berjanji akan lebih fokus pada pertarungan masif, lebih “besar, lebih bervariasi, dan lebih emosional”. Ia juga mendatangkan penulis naskah baru (Jeremy Slater) dan karakter-karakterseperti Johnny Cage (Karl Urban) yang sangat dinanti penggemar akan memiliki panggung utama dengan busur cerita yang lebih matang.

❓ FAQ – Mortal Kombat (2021)

1. Apakah film ini lebih baik dari film Mortal Kombat tahun 1995?
Tergantung selera. Jika Anda menyukai film adaptasi dengan nafas gelap dan kekerasan ekstrem yang mendekati permainan dewasa, maka versi 2021 ini jelas lebih unggul. Namun jika Anda ingin nostalgia ringan dengan dialog absurd yang kocak, film 1995 masih memiliki pesonanya.

2. Apakah film ini layak ditonton bagi yang belum pernah main game MK?
Ya, bisa. Film ini memperkenalkan dunia MK dari awal. Namun, ekspektasi perlu disesuaikan: Anda akan disuguhkan misteri “dragon mark” dan karakter baru, bukan langsung turnamen yang epic.

3. Apakah anak di bawah 17 tahun boleh menonton film ini?
TIDAK. Film ini mendapat rating R karena kekerasan ekstrem, darah mengucur deras, pembunuhan brutal, serta beberapa bahasa kasar yang cukup keras. Jangan bawa anak di bawah umur.

4. Dimana streaming Mortal Kombat di Indonesia?
Saat artikel ini ditulis, film tersebut tersedia untuk disewa/dibeli di platform digital seperti Apple TV dan Amazon Prime Video, dan telah hadir di Netflix untuk beberapa kawasan. Untuk wilayah Indonesia, cek ketersediaan di platform berlangganan HBO yang resmi.

5. Apakah lagu “Techno Syndrome” dimainkan di film?
Secara resmi, tidak ada. Lagu ikonik itu hanya terdengar di credit akhir. Sutradara memutuskan untuk membangun tone yang lebih epik dan gelap, bukan ceria. Keputusan ini sempat membuat pro dan kontra.

🔮 Kesimpulan

Review film Mortal Kombat (2021) dari BAHASFILM menyimpulkan bahwa meskipun memiliki naskah yang tidak terlalu istimewa dan dialog yang kaku, ia berhasil menjadi salah satu video game adaptation paling jujur dengan esensinya. Ia tidak malu menjadi “bodoh”, dan ia tidak malu menampilkan darah di mana-mana.

Dengan debut yang cukup sukses di tengah pandemi, serta kini dikenang sebagai fondasi awal bagi semesta sinematik MK yang lebih besar, film ini menjadi tontonan wajib bagi para penggemar setia waralaba.

Skor Akhir: 7.0/10 (Rekomendasi untuk Hardcore Gamer).