Review film Nuremberg (2025) sutradara James Vanderbilt telah memantik perdebatan sengit di kalangan kritikus dan penonton. Film yang diangkat dari kisah nyata psikiater militer AS Dr. Douglas Kelley (Rami Malek) dan interaksinya dengan pemimpin Nazi Hermann Göring (Russell Crowe) ini sukses meraup lebih dari USD 37 juta di seluruh dunia dari anggaran hanya USD 7,4 juta, sekaligus menuai skor 95% dari penonton di Rotten Tomatoes. Menurut BAHASFILM, Nuremberg bukanlah film pengadilan biasa, melainkan thriller psikologis yang menanyakan pertanyaan mengganggu: bagaimana seorang pria beradab bisa jatuh ke dalam jurang kejahatan paling ekstrem dalam sejarah manusia?
Baca Juga : Good Luck, Have Fun, Don’t Die: Sinopsis, Spoiler, Pemain, Rating & Analisis
🧵 Sinopsis: Psikiater Menatap Jantung Kegelapan
Film ini berlatar tahun 1945, setelah kekalahan Nazi Jerman. Sekutu menahan 22 perwira tinggi Nazi, dan Hermann Göring (Russell Crowe)—orang nomor dua setelah Hitler—menjadi tahanan paling berharga yang harus dipastikan layak diadili.
Untuk memastikan para tahanan dalam kondisi mental yang stabil, sekutu menugaskan Dr. Douglas Kelley (Rami Malek) , seorang psikiater militer Amerika yang ambisius. Kelley harus menembus topeng Göring untuk menentukan apakah ia layak berdiri di pengadilan.
Apa yang dimulai sebagai evaluasi psikiatri rutin perlahan berubah menjadi permainan kucing-dan-tikus yang intens. Göring yang karismatik, manipulatif, dan jenuh tipu daya perlahan menyusup ke dalam pikiran Kelley. Semakin lama Kelley menghabiskan waktu bersama Göring, semakin ia bergumul dengan pertanyaan abadi: apakah kejahatan itu sebuah penyakit, atau pilihan sadar?
Film ini lebih banyak berlangsung di dalam sel Göring, bukan di ruang sidang. BAHASFILM mencatat bahwa pilihan naratif ini menjadi salah satu yang paling kontroversial sekaligus paling menarik dari film ini.
🎭 Tiga Entitas Penting yang Menggerakkan Film
Entity Penting #1 – Russell Crowe (Hermann Göring). Ini bukan sekadar cameo. Crowe menghilang ke dalam peran sebagai pemimpin Nazi yang dulunya adalah pewaris Hitler. Ia tidak diperankan sebagai monster satu dimensi. Crowe memberikan Göring karisma yang mengerikan—seorang pria yang dapat membuat Anda tertawa, lalu mengingatkan Anda bahwa ia adalah otak di balik pembantaian jutaan orang. Banyak kritikus menyebut penampilan Crowe sebagai salah satu yang terbaik sepanjang kariernya.
“Russell Crowe delivers Oscar-worthy work as Göring – controlled, charismatic, unsettling, and psychologically precise.” — emceeanz, IMDb
Entity Penting #2 – Rami Malek (Dr. Douglas Kelley). Aktor pemenang Oscar (Bohemian Rhapsody) ini memerankan psikiater yang kehausan akan ketenaran. Kelley melihat tugasnya di Nuremberg sebagai batu loncatan untuk menulis buku terlaris dan menjadi kaya. Namun, interaksinya dengan Göring perlahan meracuni pikirannya. Penampilan Malek menuai reaksi terbelah: pujian atas intensitasnya, tetapi kritik karena dianggap “berlebihan dan seperti sedang audisi untuk peran Hitler di The Producers”.
Entity Penting #3 – James Vanderbilt (Sutradara & Penulis Skenario). Vanderbilt, yang sebelumnya menulis Zodiac dan The Amazing Spider-Man, di sini mengambil kursi sutradara untuk pertama kalinya dalam film drama sejarah sebesar ini. Ia memilih fokus pada duel psikologis alih-alih rekreasi faktual persidangan. Pilihan ini, seperti yang akan kita lihat, menjadi sumber pujian sekaligus kritik.
📊 Fakta Cepat & Statistik Box Office
| Metrik | Angka |
|---|---|
| Tanggal rilis luas AS | 7 November 2025 |
| Anggaran produksi | USD 7,4–11,8 juta |
| Pendapatan akhir pekan pembuka | USD 3,88 juta |
| Total pendapatan domestik | ± USD 15 juta |
| Total pendapatan global | USD 37 juta |
| Jumlah teater | 2.600+ |
| Durasi | 2 jam 28 menit (148 menit) |
| Rating MPAA | PG-13 |
Skor Agregator (per April 2026):
| Platform | Skor |
|---|---|
| Rotten Tomatoes (Kritikus) | 67-73% (bervariasi) |
| Rotten Tomatoes (Penonton) | 95-98% (Verified Audience) |
| Metacritic | N/A |
| IMDb | 7,4/10 |
Film ini menjadi salah satu film drama sejarah terlaris tahun 2025 untuk kategori anggaran kecil menengah. Dengan ROI lebih dari 5 kali lipat, Nuremberg adalah sukses finansial yang tak terbantahkan.
🧠 Analisis Mendalam: Antara Pujian dan Kontroversi
Jurang antara skor kritikus dan penonton adalah yang paling mencolok. Mengapa perbedaan ini bisa terjadi?
🗣️ Mengapa Kritikus Terbelah?
Para kritikus profesional mengakui kekuatan akting Crowe dan produksi yang apik, tetapi mereka kecewa dengan pendekatan Vanderbilt yang dianggap terlalu dangkal dan sensasionalistis untuk subjek seberat ini.
The Guardian menyebut film ini “swish yet glib”—penampilan mewah namun dangkal—dan gagal menyajikan versi yang autentik dari peristiwa bersejarah.
Kritikus dari South Carolina Public Radio juga menyebut film ini penuh dengan pertanyaan besar tetapi juga kesempatan yang terlewatkan (missed opportunities) untuk mengeksplorasi topik secara lebih mendalam.
Inti kritik adalah bahwa film ini, alih-alih menjadi eksplorasi psikologis yang serius, terasa seperti “old-fashioned entertainment” yang membungkus tragedi kemanusiaan terbesar abad ke-20 dalam kemasan yang terlalu rapi dan menghibur.
👍 Mengapa Penonton Memujinya?
Di sisi lain, penonton membanjiri Rotten Tomatoes dengan skor 95-98%. Bagi mereka, Nuremberg adalah film yang menegangkan, mengesankan, dan sangat relevan dengan dunia yang saat ini dilanda kebangkitan fasisme.
Penonton di IMDb menulis: “Great set and costumes, interesting interpersonal relationships, shows what it means to put humanity before hatred”. Mereka juga memuji bahwa film ini berhasil menyentuh isu berat tanpa menjadi “heavy handed” atau menggurui.
Seorang penonton lain menambahkan: “The script is intelligent, restrained, and genuinely thoughtful, and Russell Crowe delivers Oscar-worthy work as Göring”.
Bagi penonton umum, yang tidak terlalu peduli dengan akurasi sejarah, yang mereka lihat adalah duel akting hebat antara dua aktor papan atas yang berhasil membuat mereka terpaku selama 148 menit.
😄 Kelemahan Terbesar: Pemeran Pendukung dan Produksi
Tidak semuanya berjalan mulus. Kritik yang sering muncul adalah bahwa anggaran tampak habis untuk bayaran bintang utama. Pengaturan produksi terasa tidak merata: beberapa adegan terlihat megah, sementara yang lain terkesan murah dan tidak meyakinkan.
Seorang pengguna IMDb mengeluhkan: “The direction felt unfocused, the pacing was off, and the overall execution didn’t pull me in. The story has potential, but the way it was presented made it hard to stay engaged”.
Akting Malek juga menuai kritik keras dari beberapa pihak. The Guardian menyebut penampilannya “an eye-rolling, enigmatic-smiling, scenery-nibbling hamfest” yang membuat film ini terasa seperti parodi.
📅 Kontras dengan Judgment at Nuremberg (1961)
Tidak bisa dihindari untuk membandingkan film ini dengan film klasik Judgment at Nuremberg (1961) yang dianggap sebagai mahakarya mutlak. MovieTalkies menulis bahwa versi 2025 ini “nowhere close to the 1961 masterpiece, but at least an attempt to discover something new”.
Perbedaan utamanya: Film 1961 adalah drama pengadilan yang sangat faktual, sementara versi 2025 ini lebih merupakan film thriller psikologis karakter. Penonton yang mengharapkan film gaya klasik mungkin akan kecewa. Namun, penonton yang datang untuk melihat pertarungan akting psikologis antara Malek dan Crowe akan menemukan banyak hal untuk dinikmati.
🎖️ Prestasi dan Warisan
Meskipun tidak berhasil meraih nominasi Oscar besar (kategori Akting masih mungkin), film ini berhasil mencetak rekor langka: menjadi film dengan skor penonton tertinggi untuk Russell Crowe sejak L.A. Confidential (1997). Pencapaian ini menunjukkan bahwa meskipun kritikus terbelah, publik masih sangat menghargai karya terbaru Crowe.
❓ FAQ – Nuremberg (2025)
1. Apakah film ini berdasarkan kisah nyata?
Ya. Film ini diadaptasi dari buku nonfiksi The Nazi and the Psychiatrist (2013) karya Jack El-Hai, yang mendokumentasikan pengalaman nyata Dr. Douglas Kelley saat mengevaluasi para pemimpin Nazi di penjara Nuremberg.
2. Mengapa skor kritikus dan penonton sangat berbeda?
Film ini memprioritaskan akting dan drama psikologis daripada akurasi sejarah yang ketat. Kritikus merasa ini “membungkus tragedi dalam kemasan hiburan”, sementara penonton hanya menikmati duel akting yang sangat kuat.
3. Apakah film ini terlalu keras untuk remaja?
Film ini mendapat rating PG-13 karena mengandung konten tematik tentang kekejaman Nazi, bahasa, dan situasi mengganggu, tetapi tidak ada adegan kekerasan atau seksualitas eksplisit. Namun, karena durasi yang panjang (2 jam 28 menit) dan bobot tematik, tidak disarankan untuk anak di bawah 13 tahun.
4. Di mana bisa menonton Nuremberg di Indonesia?
Film ini telah dirilis secara digital pada 23 Desember 2025. Saat ini, film ini tersedia untuk disewa atau dibeli di platform seperti Apple TV, Amazon Prime Video, dan Google Play Movies.
🔮 Kesimpulan & Prediksi
Review film Nuremberg (2025) dari BAHASFILM menyimpulkan bahwa film ini adalah definisi tontonan yang tidak sempurna tetapi kuat. Ia memiliki kelemahan yang nyata: pengaturan produksi yang tidak merata, pemeran pendukung yang kurang maksimal, dan penampilan Rami Malek yang berisiko mengganggu penonton tertentu.
Tetapi di tengah semua kekurangan itu, ada satu alasan utama mengapa film ini layak ditonton:Russell Crowe. Penampilannya sebagai Hermann Göring adalah sebuah keajaiban kecil dalam akting. Ia berhasil membuat kita geli, takut, dan pada akhirnya merinding dengan representasi “banality of evil” yang sangat presisi.
Nuremberg bukanlah film untuk semua orang. Ia lambat, panjang, dan terkadang terasa tidak fokus. Namun, bagi mereka yang tertarik pada psikologi kejahatan besar dan menikmati pertarungan akting kelas berat, film ini adalah tontonan yang sangat memuaskan.

