Review Film Mercy (2026): Kejar Tayang Penuh Gaya Layar Kunci yang Ambisius

BAHASFILMReview film Mercy (2026) mengupas tuntas thriller fiksi ilmiah garapan Timur Bekmambetov (Night WatchAbraham Lincoln: Vampire Hunter) yang dirilis di bioskop global pada 23 Januari 2026. Berlatar Los Angeles 2029, film ini mengisahkan detektif Chris Raven (Chris Pratt) yang mendapati dirinya sebagai terdakwa dalam sistem peradilan bertenaga AI yang ia dukung, dengan hanya waktu 90 menit untuk membuktikan bahwa ia tidak membunuh istrinya sendiri atau menghadapi eksekusi langsung.

Baca Juga : Review Film My Sassy Girl (2001): Fenomena Romantis Korea yang Mengubah Industri

Sinopsis: Balapan Melawan Waktu untuk Membuktikan Diri

Premis Ketika Sang Penegak Hukum Jadi Terdakwa

Chris Raven (Chris Pratt), seorang detektif LAPD yang dulu terkenal sebagai penangkap pertama sistem pengadilan bertenaga AI (AI), terbangun dalam keadaan linglung dan terikat di kursi. Di hadapannya, Hakim Maddox (Rebecca Ferguson)—avatar AI yang sempat ia bela—menuduhnya membunuh istrinya, Nicole (Annabelle Wallis), dalam sebuah pertengkaran domestik. Sistem Mercy Court yang ia bantu bangun sekarang memperlakukannya dengan asas bersalah hingga terbukti sebaliknya, memberikan waktu hanya 90 menit untuk menurunkan tingkat keyakinan (Guilty Meter) dari 97,5% ke angka di bawah 92% jika ia ingin selamat.

Sistem memberinya akses penuh ke “Municipal Cloud”—seluruh kamera, ponsel, dan basis data di kota—untuk membela diri. Yang ia tahu, ia mabuk berat di bar setelah bertengkar dengan istrinya, terlibat perkelahian, lalu pingsan dan terbangun di kursi interogasi tersebut. Film thriller aksi ini adalah balapan sengit melawan waktu untuk menyatukan potongan-potongan kenangan yang terfragmentasi.

Entity penting dalam film ini:

  • Timur Bekmambetov – Sutradara sekaligus pionir gaya screenlife yang juga memproduseri film Searching (2018) dan Missing (2023)
  • Chris Pratt – Bintang Guardians of the Galaxy dan Jurassic World yang berperan sebagai detektif yang kewalahan oleh sistem ciptaannya sendiri
  • Ramin Djawadi – Komposer pemenang Emmy berkat karyanya di Game of Thrones dan Westworld, yang mengisi latar film ini dengan skor yang mencekam

Analisis Mendalam: Kontroversi di Era AI

Gaya Screenlife yang Radikal namun Kontroversial

Bekmambetov melanjutkan eksperimen visualnya dengan menuturkan cerita hampir seluruhnya melalui layar—panggilan video, rekaman kamera pengawas, dan umpan drone. Namun pendekatan ini menuai respons yang terbelah. Roger Ebert menyebut bahwa separuh awal film terasa melelahkan dan ketinggalan zaman, dengan teknik yang terasa seperti “gimmick yang sudah usang” . Sebuah ulasan pengguna di IMDb bahkan mengkritik bahwa lebih dari 80% adegan hanya berupa bidikan jarak dekat dan bidikan dengan fokus pendek, menjadikannya terasa sangat natural jika ditonton di ponsel .

Meski begitu, format ini secara efektif menciptakan rasa klaustrofobia dan tekanan waktu. Adegan di mana Raven memundurkan rekaman kamera kejadian demi kejadian menciptakan pengalaman “doom-scrolling” yang imersif, seolah penonton ikut menyelidiki kasus secara digital.

Adu Akting yang Tidak Seimbang

Chris Pratt berusaha menunjukkan sisi gelap sebagai seorang detektif yang kehilangan kendali. Namun kritikus seperti James Berardinelli menyebut penampilannya “kaku dan datar”, seolah ia tidak berusaha lebih dari sekadar mengambil bayaran . New York Times lebih keras lagi, menyebut film ini sebagai “himpunan dangkal klise film aksi-thriller” tanpa nyawa . Di sisi lain, Rebecca Ferguson yang baru saja menuai pujian untuk Silo justru dikritik karena hanya diberi sedikit materi untuk dikerjakan, dengan AI Judge Maddox yang hanya tersenyum ambigu tanpa kedalaman .

Plot Berlubang dan Propaganda yang Membingungkan

Masalah terbesar film ini adalah naskahnya. CinemaBlend membandingkannya dengan Minority Report, menyebut Mercy sebagai “versi bodoh” karena ide utamanya “tidak masuk akal sama sekali” . Plot berputar di sekitar pengungkapan bahwa kematian Nicole ternyata bukan kejahatan biasa, melainkan bagian dari konspirasi yang lebih besar melibatkan rekan kerja Raven sendiri. Namun banyaknya “lubang plot sebesar truk” membuat cerita sulit dipercaya.

Kontroversi memuncak di bagian akhir. Setelah 100 menit menunjukkan betapa mengerikannya sistem AI yang bisa mengeksekusi orang hanya dalam 90 menit, film justru menyimpulkan bahwa masalah utamanya bukanlah sistemnya, tetapi orang-orang di dalamnya yang korup . Akibatnya, banyak kritikus menuduh film ini secara tidak sengaja menjadi propaganda AI—seolah sistemnya baik-baik saja, asalkan dijalankan oleh orang yang benar.

Fakta Cepat dan Kinerja Box Office

Berikut data penting tentang Mercy (2026) berdasarkan laporan industri:

  • Anggaran produksi: $60 juta
  • Pendapatan global: $54,6 juta (masih jauh di bawah target pokok)
  • Pembukaan domestik: $10,8 juta
  • Durasi: 100 menit (1 jam 40 menit)
  • Rating MPAA: PG-13 (kekerasan, gambar berdarah, bahasa, narkoba)
  • Peringkat di IMDb: 6,2/10 dari lebih 5.800 pengguna
  • Skor Tomatometer di Rotten Tomatoes: 20% dari kritikus vs 81% dari penonton
  • Fakta unik: Aktor Chris Pratt harus duduk di kursi eksekusi sungguhan saat syuting untuk menambah realisme
  • Pencapaian: Menduduki posisi pertama box office domestik pada akhir pekan pembukaan, mengalahkan Avatar: Fire & Ash

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Mercy (2026)

1. Apakah Mercy layak ditonton di bioskop?

Ini tergantung selera. Film ini sangat kontroversial: kritikus membencinya (20% di Rotten Tomatoes), tetapi penonton menyukainya (81% skor audiens). Jika Anda tertarik dengan film fiksi ilmiah bereksperimen yang bergerak cepat dan tidak keberatan dengan plot yang agak aneh, film ini bisa menjadi tontonan yang solid. Namun jika Anda mencari cerita yang rapi dan karakter yang kuat, sebaiknya lewati saja.

2. Mengapa film ini disebut-sebut mirip dengan Minority Report?

Keduanya mengusung premis yang sama: sistem peradilan futuristik yang dianggap sempurna, yang kemudian dituduh oleh arsiteknya sendiri. Namun Minority Report (2002) secara cerdas mengeksplorasi paradoks pencegahan kejahatan, sementara kritikus menganggap Mercy gagal.

3. Apakah Mercy punya adegan pascakredit?

Tidak. Setelah kredit bergulir, tidak ada adegan tambahan yang ditampilkan.

4. Dimana lokasi syuting film ini?

Meskipun berlatar di Los Angeles masa depan, syuting terutama dilakukan di studio di Budapest, Hongaria, untuk mengendalikan estetika screenlife yang kompleks.

5. Apa pesan moral film ini?

Pesan film ini terasa kontradiktif. Di satu sisi, ia memperingatkan tentang bahaya sistem otomatis yang mengabaikan hak asasi. Namun di sisi lain, akhir ceritanya cenderung menempatkan kesalahan pada oknum yang korup, bukan pada sistem AI itu sendiri—yang oleh para kritikus dianggap sebagai pembelaan yang keliru terhadap teknologi penindas .

Kesimpulan: Ambisi yang Gagal Dieksekusi

Review film Mercy (2026) menyimpulkan bahwa ini adalah eksperimen menarik yang gagal dalam eksekusi. Gaya screenlife Bekmambetov terasa segar dan inovatif di film sebelumnya seperti Searching, tetapi di sini terasa membatasi dan justru membuat pengalaman menonton di layar lebar menjadi janggal.

Mercy adalah bukti bahwa memiliki premis yang menarik saja tidak cukup—Anda juga perlu logika cerita yang kuat. Ini adalah salah satu film paling kontroversial di tahun 2026, dan mungkin hanya akan dikenang sebagai catatan kaki dalam karier Chris Pratt dan Timur Bekmambetov.

Namun setidaknya, film ini memicu perdebatan yang sehat tentang peran AI dalam sistem peradilan di dunia nyata.

Untuk ulasan film fiksi ilmiah lainnya, kunjungi BAHASFILM yang menyediakan ribuan review film dari berbagai genre dan negara. Tim BAHASFILM secara rutin mengupdate konten dengan analisis mendalam untuk membantu Anda memilih tontonan berkualitas.